PONTIANAK POST - Dalam masyarakat modern, konsep parenting semakin dipahami sebagai tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu.
Namun, pada praktiknya masih banyak keluarga yang menempatkan ibu sebagai figur utama pengasuhan, sementara peran ayah sering kali hanya dipandang sebagai pencari nafkah.
Padahal, kehadirannya baik secara fisik maupun emosional memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian, kesehatan mental, dan perkembangan sosial anak.
Menurut review literatur yang dipublikasikan di PubMed (Father absence and adolescent development) absennya ayah dapat memengaruhi hampir semua aspek perkembangan anak, mulai dari perilaku, emosi, hingga prestasi akademik.
Data yang dirujuk dari penelitian PMC dan SAGE Journals menunjukkan dampak ketidakhadirannya bisa terbawa hingga dewasa, terutama pada kemampuan membangun hubungan yang sehat.
Fenomena ini dalam istilah populer sering disebut sebagai “daddy issues”. Istilah ini mengacu pada dampak psikologis yang dialami seseorang akibat minimnya keterlibatan ayah saat masa tumbuh kembang.
Pentingnya Peran Ayah dalam Parenting
Bukan sekadar “kepala keluarga” dalam arti simbolik, melainkan figur nyata yang memberikan stabilitas emosional. Kehadiran ayah yang suportif membantu anak merasa aman.
Selain itu, Role model, sosoknya dapat menjadi contoh dalam hal sikap, tanggung jawab, dan pengendalian diri.
Juga, dalam peran penguatan identitas, anak belajar memahami peran gender, etika, dan nilai hidup dari figur ayah.
Ketika peran ini tidak hadir, anak kehilangan salah satu fondasi penting dalam membangun identitas dan kemandirian.
Dampak Kurangnya Peran Ayah pada Anak
1. Dampak pada Perkembangan Anak secara Umum
Berdasarkan data yang dirujuk dari PubMed, ketidakhadiran ayah terbukti berhubungan dengan masalah perilaku
Anak lebih rentan agresif, memberontak, atau sulit mengikuti aturan.
Ketidakhadirannya juga mengakibatkan gangguan emosional, yakni meningkatnya kecemasan, stres, hingga depresi pada remaja.
Tak hanya itu, prestasi akademik pun dapat menurun. hal itu karena kurangnya dukungan emosional dan kontrol sosial dari ayah bisa berdampak pada motivasi belajar.
2. Dampak Sosial dan Lingkungan
Penelitian dari PMC menunjukkan hubungan erat antara ketidakhadiran ayah dengan:
Perilaku agresif pada anak laki-laki.
Kenakalan remaja, termasuk penggunaan zat terlarang atau pelanggaran hukum.
Kerentanan terhadap pengaruh lingkungan buruk, misalnya mencari figur pengganti ayah pada kelompok pertemanan berisiko.
3. Dampak pada Anak Perempuan: Fenomena “Daddy Issues”
Menurut penelitian kualitatif dari SAGE Journals, perempuan yang tumbuh tanpa kehadiran ayah melaporkan dampak psikososial yang cukup serius, antara lain:
Kesulitan membangun kepercayaan dalam hubungan romantis.
Rasa kehilangan figur protektif, sehingga muncul ketergantungan emosional pada pasangan.
Rendahnya harga diri dan perasaan tidak cukup berharga. Fenomena inilah yang sering disebut sebagai daddy issues, yaitu kondisi emosional akibat ketidakhadiran figur ayah yang terbawa hingga dewasa.
4. Solusi dan Upaya Pencegahan
Kurangnya peran ayah bukan berarti tak ada solusi. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Mendorong keterlibatan ayah dalam aktivitas harian anak, mulai dari bermain, membantu belajar, hingga mendampingi anak tidur.
- Meningkatkan komunikasi keluarga, agar ayah tidak hanya hadir fisik tetapi juga emosional.
- Memberikan dukungan psikologis bagi anak yang tumbuh tanpa figur ayah, misalnya melalui konseling atau terapi.
- Kesadaran sosial, bahwa parenting adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya ibu.
Peran ayah dalam parenting sangat menentukan arah perkembangan emosional, sosial, dan psikologis anak.
Ketidakhadiran ayah baik karena faktor fisik maupun emosional dapat menyebabkan dampak jangka panjang, termasuk munculnya fenomena yang dikenal sebagai daddy issues.
Dengan meningkatkan kesadaran akan pentingnya keterlibatan ayah, serta memberikan dukungan bagi anak yang tumbuh tanpa figur tersebut, kita dapat meminimalisir dampak psikologis negatif dan menciptakan generasi yang lebih kuat secara emosional. (*)
Editor : Miftahul Khair