PONTIANAK POST--Memutuskan tempat tinggal bagi orang tua di masa senja sering kali menjadi dilema emosional bagi anak. Namun, pilihan untuk tinggal di senior living atau hunian khusus lansia seharusnya dipandang sebagai bentuk otonomi dan upaya menjaga kualitas hidup.
Dilansir dari Jawapos, Professional Public Speaker & Trainer Hearty Service, Mayangsari, menekankan bahwa respons terbaik anak adalah mendukung aktualisasi diri orang tua tanpa menghakimi. Berikut adalah poin-poin penting mengenai etika dan cara berkomunikasi terkait keputusan senior living:
1. Menghargai Autonomi Orang Tua
Pilihan tinggal di senior living adalah bentuk kemandirian dan hak orang tua untuk tetap memiliki kontrol atas hidupnya. Berdasarkan laporan WHO (2025), lansia yang memiliki kontrol penuh terhadap hidupnya memiliki kesejahteraan emosional yang lebih tinggi.
Baca Juga: Angka Lansia Terlantar Pontianak Turun
2. Gunakan Komunikasi Terapeutik
Hindari istilah bernada negatif seperti "panti" atau "dititipkan". Sebaliknya, gunakan istilah yang lebih positif seperti "komunitas senior" atau "rumah kedua". Gunakan kalimat yang menekankan kenyamanan orang tua, misalnya: "Kami ingin Ibu merasa aman dan bahagia, mari cari pilihan yang paling nyaman untuk Ibu."
3. Hindari Bujukan Berdasarkan Ego Anak
Membujuk orang tua tetap di rumah hanya karena takut menjadi bahan pembicaraan tetangga adalah tindakan yang melanggar martabat lansia. Keputusan akhir harus diambil bersama dengan memprioritaskan ridha dan kenyamanan orang tua, bukan pembenaran diri anak.
Baca Juga: Kelebihan Kapasitas Panti Jompo jadi Kendala Lansia Terlantar di Kalbar
4. Seni Berinteraksi dengan Lansia
Lansia membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses informasi. Kesabaran dan nada bicara yang lembut sangat krusial. Dengarkan cerita mereka dengan sungguh-sungguh tanpa menggurui. Bagi lansia, didengarkan adalah bentuk kasih sayang yang paling berarti.
5. Menjaga Kedekatan Emosional
Meski tidak tinggal satu rumah, hubungan harus tetap hangat melalui jadwal rutin. Anak bisa membuat jadwal kunjungan yang terencana dan konsisten. Bisa juga mengirimkan makanan kesukaan atau rutin membagikan foto dan video aktivitas cucu. Ketika menelepon, fokuslah sepenuhnya pada mereka. Hindari menelepon sambil mengerjakan hal lain atau mengeluh tentang pekerjaan di depan orang tua.
Baca Juga: Hari Tua Para Lansia di Kalimantan Barat: Antara Kemandirian, Keterbatasan, dan Harapan
"Bagi lansia, didengarkan dengan sungguh-sungguh adalah bentuk kasih sayang yang paling sederhana namun sangat berarti," tutup Mayangsari. (*)
Editor : Chairunnisya