PONTIANAK POST - Menyatukan anak kandung dan anak angkat dalam satu atap merupakan tantangan besar bagi orang tua. Munculnya perasaan tersisih atau cemburu adalah dinamika yang wajar, namun perlu ditangani dengan tepat agar setiap anak merasa diterima secara utuh.
Dilansir dari Jawapos, Vania Susanto, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dari Klinik Asa Nara, menjelaskan bahwa pengakuan emosional adalah kunci agar anak tidak mengalami krisis identitas atau merasa menjadi "orang asing" di dalam keluarga. Berikut adalah panduan penting bagi orang tua dalam mengelola dinamika keluarga dengan anak kandung dan anak angkat:
1. Mengenali Sinyal Anak Merasa Tersisih
Orang tua harus peka terhadap perubahan perilaku yang menjadi sinyal ketidakamanan emosional, seperti anak menjadi enggan berinteraksi atau tiba-tiba menjadi lebih pendiam, sering mengeluh tidak disayangi atau mudah menangis, serta menunjukkan perubahan perilaku yang drastis sebagai bentuk protes terselubung.
Baca Juga: Kesalahan Orang Tua yang Tanpa Sadar Membuat Anak Makin Cemas
2. Fokus pada Kualitas Waktu (Quality Time)
Orang tua harus memahami bahwa bukan soal seberapa lama waktu yang dihabiskan, melainkan seberapa berkualitas interaksi tersebut. Sediakan waktu khusus secara terpisah untuk setiap anak agar mereka merasa memiliki ruang pribadi yang eksklusif dengan orang tua.
3. Hindari Budaya Membandingkan
Cara yang bisa dilakukan adalah memberikan apresiasi berdasarkan keunikan dan pencapaian masing-masing karakter anak. Dengan tidak membandingkan, anak tidak akan merasa harus "bersaing" untuk memperebutkan cinta orang tua.
Baca Juga: Delapan Cara Efektif Menghadapi Anak Keras Kepala Tanpa Emosi
4. Adil dalam Memberikan Teguran dan Hadiah
Prinsip keadilan harus konsisten. Hindari memberi hadiah berlebihan hanya pada salah satu pihak. Saat menegur, berikan penjelasan yang logis dan tetap gunakan nada yang hangat agar tidak terkesan memihak.
5. Keterbukaan Status Adopsi Sejak Dini
Vania menyarankan agar status adopsi disampaikan dengan bahasa yang positif sejak dini. Keterbukaan membantu membentuk kepercayaan (trust) dan mencegah kebingungan emosional atau krisis identitas saat anak beranjak remaja.
Baca Juga: Jangan Paksa Tarik Kulup Penis Anak, Inilah Risiko Bahaya Fimosis
6. Menangani Konflik dengan Empati
Jika terjadi perselisihan antar saudara, orang tua harus tetap tenang dan menjadi pendengar yang adil bagi keduanya. Tanamkan pemahaman bahwa kasih sayang orang tua tidak diukur dari siapa yang lebih dulu ada di keluarga tersebut. "Yang penting adalah konsistensi dan perhatian hangat dari orang tua. Ketika anak merasa aman secara emosional, kedekatan antar saudara akan tumbuh dengan sendirinya," pungkas Vania.(*)
Editor : Chairunnisya