Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pola Asuh Overprotektif Bisa Hambat Kemandirian Anak Sejak Dini

Chairunnisya • Rabu, 22 April 2026 | 19:57 WIB
Ilustrasi orang tua mengajarkan anak menyapu (AI)
Ilustrasi orang tua mengajarkan anak menyapu (AI)

PONTIANAK POST - Banyak orang tua ingin anak tumbuh mandiri, percaya diri, dan tangguh. Namun tanpa disadari, pola asuh yang diterapkan justru bisa menjadi penghambat utama terbentuknya kemandirian.

Psikolog Yanuvari Mutik Megawati, MPsi, menjelaskan bahwa kesalahan yang paling sering terjadi adalah pola asuh overprotektif dan terlalu mengontrol.

Menurutnya, pola asuh overprotektif biasanya berangkat dari niat baik, yakni melindungi anak dari kesulitan. Namun, sikap ini justru membuat anak kehilangan kesempatan belajar menghadapi masalah.

“Orang tua terlalu cepat membantu atau langsung mengambil alih saat anak menghadapi kesulitan. Akibatnya, anak tidak belajar menyelesaikan masalah sendiri,” ujarnya, dikutip dari Jawapos.

Baca Juga: Pola Asuh Dapat Memicu Narsistik pada Anak: Begini Fakta dan Solusinya

Padahal, proses mencoba, gagal, lalu memperbaiki diri merupakan bagian penting dalam membentuk kemandirian. Anak juga perlu diajak berdiskusi, bukan sekadar menerima keputusan dari orang tua.

Sebabkan Kepercayaan Diri Rendah

Selain itu, pola asuh yang terlalu mengontrol atau controlling parenting juga berdampak besar. Dalam pola ini, orang tua cenderung menerapkan aturan kaku dan menentukan hampir semua aspek kehidupan anak.

Akibatnya, anak tidak terbiasa mengambil keputusan sendiri. Mereka menjadi bergantung, takut mencoba hal baru, mudah menyerah, dan selalu membutuhkan bantuan.

“Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memicu rendahnya kepercayaan diri, kecemasan, hingga emosi yang mudah meledak,” jelas Yanuvari.

Baca Juga: Pola Asuh Lembut, Anak Rentan Berlaku Tak Terkendali

Jadi Kurang Mandiri

Anak yang kurang mandiri juga cenderung menghindari tanggung jawab dan kesulitan menghadapi tantangan. Bahkan, mereka bisa merasa kalah sebelum mencoba dan berkembang menjadi pribadi yang pasif.

Padahal, kemandirian tidak terbentuk secara instan. Kemampuan ini mulai berkembang sejak usia 18 bulan hingga tiga tahun, saat anak belajar mengontrol diri dan mulai berani menentukan pilihan.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?

Yanuvari menyarankan orang tua beralih ke pola asuh demokratis atau otoritatif. Dalam pola ini, anak diberi ruang untuk berkomunikasi, terlibat dalam pengambilan keputusan, dan belajar bertanggung jawab.

“Orang tua tetap membimbing, tetapi tidak mengintervensi setiap langkah anak. Fokus pada proses, bukan hanya hasil,” katanya.

Baca Juga: Cara Menghadapi Anak Gen Alpha yang Jago Debat dan Sering Asal Bunyi

Melatih kemandirian juga bisa dimulai dari hal sederhana di rumah. Misalnya, membiarkan anak mencari cara mengambil barang di tempat tinggi dengan pengawasan, atau mencoba membuka bungkus makanan sendiri.

Langkah kecil ini membantu anak belajar mengambil inisiatif dan meningkatkan rasa percaya diri.

Selain itu, komunikasi yang efektif menjadi kunci. Orang tua dan anak perlu memahami kapan anak membutuhkan bantuan dan kapan harus mencoba sendiri.

Dengan pola asuh yang tepat, anak tidak hanya tumbuh mandiri, tetapi juga lebih siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan. (*)

Editor : Chairunnisya
#psikologi anak #anak #for her #pola asuh anak #Ibu dan Anak