PONTIANAK POST - Mengetahui pasangan orang terdekat berselingkuh sering kali menempatkan seseorang dalam posisi serba salah.
Di satu sisi, ada dorongan moral untuk jujur dan melindungi orang yang disayang. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran dianggap ikut campur urusan pribadi dan justru merusak hubungan.
Menurut relationship author Arif Putra, persoalan ini tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Ia menegaskan bahwa keputusan untuk bersikap bergantung pada nilai, pengalaman, dan suara hati masing-masing.
“Setiap orang punya hati nurani. Saat melihat sesuatu yang salah, biasanya ada dorongan untuk bertindak,” ujarnya, dilansir dari Jawapos.
Baca Juga: Selingkuh Tak Selalu Soal Nafsu: 4 Sifat Ini Tanpa Disadari Kerap Jadi Pemicu
Bergantung pada Suara Hati
Arif menilai tidak ada jawaban tunggal terkait kewajiban etis dalam situasi ini. Ada yang memilih berbicara, ada pula yang memilih diam.
Namun secara pribadi, ia mengaku cenderung menyampaikan kebenaran. “Kalau pasangan teman saya selingkuh, saya akan menyampaikannya,” katanya.
Lingkungan dan pola asuh juga berperan dalam membentuk sikap seseorang. Mereka yang sejak kecil diajarkan untuk tidak mencampuri urusan orang lain cenderung memilih diam, meski merasa ada ketidakadilan.
“Sering kali orang yang peduli justru disalahkan. Itu yang membuat banyak orang akhirnya memilih diam,” jelasnya.
Baca Juga: Pasanganmu Selingkuh Berkali-Kali? Waspada, Kenali Pola Serial Cheater Menurut Ahli Psikologi
Meski begitu, diam bukan berarti selalu salah. Dalam kondisi tertentu, seperti saat bukti belum jelas, sikap ini justru bisa lebih bijak.
“Jangan sampai kita merusak hubungan orang lain hanya karena prasangka,” tegasnya.
Pentingnya Kehati-hatian
Jika bukti sudah cukup dan seseorang memilih untuk bertindak, Arif menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menentukan langkah.
Pendekatan yang diambil sebaiknya disesuaikan dengan kedekatan hubungan. Jika lebih dekat dengan pelaku, langkah yang bisa diambil adalah menegur secara langsung.
Baca Juga: Main Film La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka, Deva Mahenra Siap Dicap Duta Selingkuh
“Saya akan memastikan dulu, lalu memberi teguran dan mengingatkan konsekuensinya,” ujar sarjana hukum yang fokus pada bidang hukum perkawinan tersebut.
Sebaliknya, jika lebih dekat dengan pihak yang menjadi korban, pendekatan yang diutamakan adalah memberi dukungan, bukan sekadar membongkar aib.
“Tujuannya bukan mempermalukan, tapi melindungi dan menenangkan,” katanya.
Tahu Kapan Harus Berhenti
Ada titik di mana seseorang perlu berhenti terlibat. Jika perselingkuhan sudah diketahui dan korban memilih menyelesaikan sendiri tanpa meminta bantuan, pihak luar sebaiknya mundur.
Baca Juga: Dito Ariotedjo Bantah Isu Selingkuh dengan Davina Karamoy: Bukan Penyebab Perceraian
“Cukup beri dukungan dan doa. Jangan memperkeruh suasana,” ujar Arif.
Hal serupa berlaku ketika korban memilih tetap percaya pada pasangannya. Keputusan tersebut sepenuhnya menjadi hak korban, meski orang lain mungkin memiliki pandangan berbeda.
“Kita tidak bisa memaksakan kehendak,” tambahnya.
Baca Juga: Ketahui 4 Faktor Penyebab Pasangan Selingkuh Menurut Psikolog
Dalam konteks hukum, perselingkuhan memang memiliki konsekuensi, tetapi termasuk delik aduan. Artinya, proses hukum hanya dapat berjalan jika ada laporan dari pihak yang dirugikan.
Menjaga Niat dan Etika
Pada akhirnya, Arif menekankan bahwa etika dalam menghadapi situasi sensitif seperti ini bukan soal siapa yang paling benar.
“Yang terpenting adalah membaca situasi, menjaga niat baik, dan tahu kapan harus bicara serta kapan harus berhenti,” pungkasnya. (*)
Editor : Chairunnisya