PONTIANAK POST - Mengajarkan anak tentang keamanan diri sering kali disalahartikan sebagai upaya menanamkan rasa takut.
Padahal, hal ini justru menjadi bagian penting dari bentuk kasih sayang dan perlindungan orang tua.
Psikolog klinis, Fikri Tahta Nurul Fiqih menjelaskan bahwa edukasi keamanan diri bertujuan membentuk anak yang berani dan waspada.
“Mengajarkan anak keamanan diri bukan untuk menumbuhkan rasa takut. Namun, bentuk cinta dan perlindungan. Tujuan akhirnya adalah membentuk anak yang berani, waspada, dan tahu cara menjaga dirinya sendiri," ujarnya dikutip dari Jawapos.
Baca Juga: Orang Tua Harus Hadir, Ini Cara Redam Dampak Perselingkuhan pada Anak
Menurutnya, anak yang terlalu ramah dan mudah percaya kepada siapa saja perlu dikenalkan pada batasan sosial.
Orang tua memiliki peran penting untuk menjelaskan bahwa tidak semua orang asing memiliki niat baik.
’’Orang tua perlu menjelaskan bahwa tidak semua orang asing berniat baik. Gunakan contoh dan visualisasi agar anak paham,’’ katanya.
Selain itu, kebiasaan sederhana seperti berpamitan juga menjadi bagian dari perlindungan. Anak perlu dibiasakan meminta izin setiap kali hendak pergi ke suatu tempat.
Baca Juga: Tips Aktivitas Fisik Anak Berdasarkan Usia, dari Bayi hingga Prasekolah
’’Ini bukan sekadar sopan santun, tapi juga untuk keselamatan,’’ tambahnya.
Seiring perkembangan teknologi, anak yang mulai menggunakan media sosial juga harus dibekali literasi digital.
Mereka perlu memahami batasan informasi pribadi yang boleh dan tidak boleh dibagikan. Tidak hanya anak, orang tua juga diingatkan untuk lebih berhati-hati dalam membagikan data anak di media sosial.
Baca Juga: Anak Mulai Tertarik Lawan Jenis, Ini Cara Menyikapinya dengan Bijak
’’Orang tua juga harus hati-hati saat membagikan data anak di medsos. Jangan sampai mencantumkan foto, nama lengkap, atau lokasi sekolah anak yang membuka celah bagi pelaku kejahatan,’’ katanya.
Pada akhirnya, edukasi keamanan diri bukanlah upaya menakut-nakuti anak, melainkan cara membekali mereka dengan kemampuan melindungi diri.
’’Tujuan akhirnya adalah membentuk anak yang berani, waspada, dan tahu cara menjaga dirinya sendiri,’’ imbuhnya. (*)
Editor : Chairunnisya