Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Cara Efektif Ajarkan Anak Waspada Tanpa Menumbuhkan Rasa Takut untuk Cegah Risiko Penculikan

Chairunnisya • Sabtu, 25 April 2026 | 06:59 WIB
Ilustrasi anak (AI)
Ilustrasi anak (AI)

PONTIANAK POST - Mengajarkan anak tentang keamanan diri bisa dimulai sejak usia dini dengan cara yang sederhana dan menyenangkan.

Upaya ini penting untuk membekali anak agar lebih waspada terhadap berbagai situasi berisiko di sekitarnya.

Psikolog Fikri Tahta Nurul Fiqih menjelaskan bahwa anak merupakan kelompok yang rentan menjadi target kejahatan karena keterbatasan pemahaman mereka tentang bahaya.

Karena itu, anak perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk melindungi diri, termasuk sebagai langkah antisipasi terhadap kasus penculikan.

Baca Juga: Kasus Penculikan Anak Meningkat, DPRD Pontianak Serukan Orang Tua Waspada dan Perkuat Edukasi

Pengenalan konsep keamanan diri, menurut Fikri, sudah bisa dilakukan pada anak usia 3–5 tahun. Pendekatan yang digunakan harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak.

"Misalnya melalui buku cerita bergambar atau bermain peran di rumah. Orang tua bisa membantu anak memahami situasi yang berisiko dengan istilah dan contoh sederhana," saran Fikri Tahta Nurul Fiqih SPsi MPsi Psikolog, dikutip dari Jawapos.

Selain itu, anak perlu diajarkan untuk mengenali red flags atau sinyal bahaya. Mulai dari orang asing, benda berbahaya di rumah, hingga tindakan impulsif yang dapat berujung buruk.

"Kuncinya bukan menakuti, tapi melatih anak memahami konsekuensi dan bersikap hati-hati," lanjutnya.

Baca Juga: Dugaan Penculikan Anak Gegerkan Warga Kuala Dua

Dalam situasi mencurigakan, anak juga perlu dibekali keberanian untuk bersikap tegas. Orang tua dapat mengajarkan anak untuk menolak ajakan dari orang yang tidak dikenal.

"Ajari anak untuk berteriak, lari, atau mencari orang dewasa terpercaya bila merasa terancam," kata psikolog klinik Perspektif itu.

Tak kalah penting, anak perlu dilatih untuk berani mengatakan “tidak”, bahkan kepada orang yang dikenal. Latihan ini bisa dilakukan melalui permainan peran atau role play di rumah.

"Biasakan anak menyampaikan apa yang dirasa. Anak yang terbiasa didengarkan cenderung lebih asertif dan berani menyatakan penolakan," jelasnya.

Baca Juga: Heboh Isu Penculikan di Kuala Behe, Kades: Anak Dibawah Hingga ke Luar Desa

Orang tua juga perlu memberi pemahaman kepada anak tentang kapan harus meminta bantuan dan kepada siapa harus meminta pertolongan.

Di lingkungan sekolah, misalnya, anak bisa diarahkan untuk mencari bantuan guru.

"Tekankan bahwa meminta bantuan bukan berarti lemah, justru itu tanda keberanian. Anak perlu tahu siapa saja orang terpercaya di sekitarnya," ujar Fikri.

Metode simulasi atau role play dinilai efektif untuk melatih anak menghadapi situasi berbahaya, termasuk skenario penculikan. Namun, latihan ini tetap perlu dikemas secara menyenangkan.

Baca Juga: Delapan Sinyal Bahaya yang Perlu Diajarkan Orang Tua kepada Anak

"Ciptakan skenario yang mirip kejadian nyata, lalu praktikkan bersama anak bagaimana harus bersikap," paparnya.

Di sisi lain, peran orang tua juga tidak kalah penting dalam mengurangi risiko.

Faktor eksternal seperti kurangnya pengawasan, kondisi lingkungan, hingga kebiasaan membagikan data anak di media sosial dapat memperbesar potensi kejahatan.

"Orang tua kadang tak sadar membagikan informasi yang justru bisa dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab," imbuhnya.

Dengan pendekatan yang tepat dan konsisten, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih waspada, berani, dan mampu menjaga dirinya dalam berbagai situasi. (*)

Editor : Chairunnisya
#tips anak #penculikan anak #for her pontianak post #anak