PONTIANAK POST - Banyak orang tua fokus mengajarkan anak tentang kesehatan, keselamatan, hingga cara menjaga diri di luar rumah. Namun, ada satu hal penting yang masih sering terlewat, yakni pendidikan tentang batasan pribadi dan keselamatan tubuh.
Padahal, pemahaman ini sangat penting untuk membantu anak mengenali situasi yang membuat mereka tidak nyaman, sekaligus melindungi diri dari kemungkinan tindakan yang tidak pantas.
Membicarakan soal batasan tubuh memang sering dianggap canggung. Meski begitu, para ahli menegaskan bahwa diskusi ini justru tidak boleh ditunda karena berkaitan langsung dengan kesejahteraan anak.
Baca Juga: Orang Tua Bukan Sekadar Pengawas, Tapi Teladan di Dunia Digital Anak
Orang Tua Buka Ruang Aman untuk Anak
Dilansir dari laman Hindustan Times, orang tua perlu mulai mengenalkan aturan keselamatan tubuh sejak dini agar anak memiliki pemahaman yang jelas tentang tubuh mereka sendiri.
"Meskipun membahas topik ini mungkin tidak nyaman atau menakutkan bagi orang tua dan anak, mengabaikannya akan sangat merugikan anak Anda. Penting untuk secara konsisten menyampaikan bahwa Anda memercayai mereka sepenuhnya dan mendorong mereka untuk berbagi apa pun dengan Anda tanpa takut akan konsekuensinya," kata Konsultan Neonatolog dan Dokter Anak di Rumah Sakit Ibu di Kharadi, Pune, Jagdish Kathwate.
Menurutnya, anak perlu merasa bahwa rumah adalah tempat paling aman untuk bercerita, termasuk ketika mereka menghadapi situasi yang membuat takut, bingung, atau tidak nyaman.
Baca Juga: Dampingi Anak Bermain Game, Kunci Cegah Dampak Negatif Dunia Digital
Ajarkan Anak Berani Menolak Sentuhan yang Tidak Diinginkan
Salah satu langkah penting adalah mendorong anak untuk berani menetapkan batasannya sendiri.
Orang tua perlu mengajarkan bahwa anak boleh menolak kontak fisik yang tidak diinginkan, seperti pelukan atau ciuman yang membuat mereka merasa tidak nyaman.
Anak juga harus memahami perbedaan antara sentuhan yang wajar dan sentuhan yang tidak pantas.
Bangun Lingkaran Orang Dewasa yang Dipercaya
Anak perlu mengetahui siapa saja orang dewasa yang bisa mereka datangi saat merasa takut atau tidak aman.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk membantu anak mengenali sekelompok orang terpercaya, seperti anggota keluarga, guru, atau petugas keselamatan yang dapat menjadi tempat mereka meminta bantuan.
Dengan begitu, anak tidak merasa sendirian saat menghadapi situasi sulit.
Baca Juga: Cara Orang Tua Membangun Komunikasi Sehat dengan Anak Tanpa Bentakan
Gunakan Istilah yang Tepat untuk Area Pribadi
Orang tua juga disarankan mengajarkan nama yang benar untuk area pribadi tubuh anak, bukan menggunakan istilah yang samar atau membingungkan.
Hal ini membantu anak lebih mudah menjelaskan jika terjadi sesuatu yang tidak semestinya.
Anak juga perlu diberi pemahaman untuk segera berbicara jika ada orang yang mencoba menyentuh bagian tersebut atau meminta mereka melakukan hal yang tidak pantas.
Baca Juga: Kebiasaan Membentak Anak Bisa Menular ke Pola Asuh Generasi Berikutnya
Kenalkan Sentuhan Aman dan Tidak Aman Sejak Usia Dini
Konsep tentang sentuhan aman dan tidak aman sebaiknya mulai dikenalkan sejak anak berusia 3 hingga 5 tahun.
Anak perlu memahami bahwa pelukan hangat atau tos yang membuat mereka merasa aman adalah bentuk kasih sayang yang wajar.
Sebaliknya, sentuhan yang membuat mereka takut, gelisah, atau terancam harus dikenali sebagai sesuatu yang tidak aman.
Bantu Anak Mengenali Tanda Bahaya dari Tubuhnya
Anak juga perlu diajarkan untuk mengenali respons tubuh saat mereka merasa takut atau tidak nyaman.
Tanda-tandanya bisa berupa berkeringat, sakit perut, gemetar, atau detak jantung yang terasa lebih cepat.
Pemahaman ini penting agar anak bisa lebih cepat menyadari ketika ada situasi yang perlu dihindari.
Jangan Biarkan Anak Menyimpan Rahasia yang Menyakitkan
Orang tua harus memastikan anak memahami bahwa mereka tidak perlu menyimpan rahasia yang membuat mereka sedih, takut, atau tidak nyaman.
Baca Juga: Membentak Anak Ternyata Berdampak Serius pada Emosi dan Kepercayaan Diri
Ajarkan mereka bahwa bercerita kepada orang dewasa yang dipercaya bukanlah hal yang salah, melainkan bentuk perlindungan diri.
Kathwate menegaskan bahwa membekali anak dengan pengetahuan tentang tubuh dan batasan pribadi akan membantu mereka mengenali perilaku yang tidak pantas serta mencari pertolongan saat diperlukan.
Selain itu, pendidikan tentang persetujuan atau consent juga berperan penting dalam membangun hubungan yang sehat dan menurunkan risiko terjadinya pelecehan. (*)
Editor : Miftahul Khair