Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Kebohongan Anak Bisa Muncul Karena Fantasi Bukan Niat Menipu Orang Tua

Chairunnisya • Selasa, 12 Mei 2026 | 14:30 WIB
Ilustrasi anak berbicara dengan ibunya. (AI)
Ilustrasi anak berbicara dengan ibunya. (AI)

PONTIANAK POST - Anak yang tiba-tiba bercerita aneh atau menyangkal sesuatu sering membuat orang tua panik.

Tidak sedikit yang langsung menganggap anak sengaja berbohong. Padahal, pada usia tertentu, anak masih belajar membedakan antara imajinasi dan kenyataan.

Menurut Tyas Anastasya Pratiwi SPsi MPsi Psikolog, anak usia 2–7 tahun masih berada dalam tahap perkembangan kognitif. Pada fase ini, logika anak belum matang sehingga mereka kerap mencampurkan fantasi dengan kenyataan.

’’Kalau anak bilang di kamarnya ada dinosaurus atau sudah bisa menyikat gigi padahal belum, itu lebih karena fantasi yang sehat, bukan niat menipu,’’ jelasnya, dikutip dari Jawapos.

Baca Juga: Tips Psikolog Mengasuh Anak Kandung dan Anak Angkat agar Tetap Adil

Tyas menerangkan, tanda kebohongan pada anak bisa berbeda-beda tergantung motifnya. Anak yang berbohong karena takut dimarahi biasanya tampak cemas, berbicara lirih, atau menghindari kontak mata.

Sementara itu, anak yang mencari perhatian cenderung menunjukkan ekspresi berlebihan dan cerita yang dibuat dramatis.

Pada usia balita, kebohongan lebih sering muncul karena imajinasi yang berkembang aktif. Ketika memasuki usia sekolah dasar, anak mulai memahami konsep benar dan salah.

Meski demikian, kebohongan masih sering dilakukan untuk menghindari hukuman.

Baca Juga: Tips Parenting: Memahami Emosi Anak Lewat Bahasa Tubuh dan Komunikasi

’’Kalaupun berbohong itu untuk menghindari hukuman,’’ ucapnya.

Memasuki masa remaja, alasan berbohong berubah. Kebohongan lebih banyak berkaitan dengan citra diri dan penerimaan sosial di lingkungan pertemanan.

’’Di masa ini, menjaga nama baik dan diterima oleh lingkungan menjadi hal yang penting bagi remaja,’’ jelas psikolog klinis itu.

Karena itu, orang tua disarankan tidak terburu-buru melabeli anak sebagai pembohong. Memahami usia dan alasan di balik perilaku anak menjadi langkah penting agar respons yang diberikan tidak keliru. (*)

Editor : Chairunnisya
#tips anak #for her pontianak post #berbohong #anak