Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tips Psikolog Mengasuh Anak Kandung dan Anak Angkat agar Tetap Adil

C
Penulis: Chairunnisya❯
Ilustrasi keluarga (FREEPIK/@brgfx)
Ilustrasi keluarga (FREEPIK/@brgfx)

Advertisement

PONTIANAK POST - Menyatukan anak kandung dan anak angkat dalam satu atap merupakan tantangan besar bagi orang tua. Munculnya perasaan tersisih atau cemburu adalah dinamika yang wajar, namun perlu ditangani dengan tepat agar setiap anak merasa diterima secara utuh.

Dilansir dari Jawapos, Vania Susanto, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dari Klinik Asa Nara, menjelaskan bahwa pengakuan emosional adalah kunci agar anak tidak mengalami krisis identitas atau merasa menjadi "orang asing" di dalam keluarga. Berikut adalah panduan penting bagi orang tua dalam mengelola dinamika keluarga dengan anak kandung dan anak angkat:

1. Mengenali Sinyal Anak Merasa Tersisih

Advertisement

Orang tua harus peka terhadap perubahan perilaku yang menjadi sinyal ketidakamanan emosional, seperti anak menjadi enggan berinteraksi atau tiba-tiba menjadi lebih pendiam, sering mengeluh tidak disayangi atau mudah menangis, serta menunjukkan perubahan perilaku yang drastis sebagai bentuk protes terselubung.

2. Fokus pada Kualitas Waktu (Quality Time)

Advertisement

Orang tua harus memahami bahwa bukan soal seberapa lama waktu yang dihabiskan, melainkan seberapa berkualitas interaksi tersebut. Sediakan waktu khusus secara terpisah untuk setiap anak agar mereka merasa memiliki ruang pribadi yang eksklusif dengan orang tua.

3. Hindari Budaya Membandingkan

Cara yang bisa dilakukan adalah memberikan apresiasi berdasarkan keunikan dan pencapaian masing-masing karakter anak. Dengan tidak membandingkan, anak tidak akan merasa harus "bersaing" untuk memperebutkan cinta orang tua.

4. Adil dalam Memberikan Teguran dan Hadiah

Prinsip keadilan harus konsisten. Hindari memberi hadiah berlebihan hanya pada salah satu pihak. Saat menegur, berikan penjelasan yang logis dan tetap gunakan nada yang hangat agar tidak terkesan memihak.

5. Keterbukaan Status Adopsi Sejak Dini

Vania menyarankan agar status adopsi disampaikan dengan bahasa yang positif sejak dini. Keterbukaan membantu membentuk kepercayaan (trust) dan mencegah kebingungan emosional atau krisis identitas saat anak beranjak remaja.

6. Menangani Konflik dengan Empati

Jika terjadi perselisihan antar saudara, orang tua harus tetap tenang dan menjadi pendengar yang adil bagi keduanya. Tanamkan pemahaman bahwa kasih sayang orang tua tidak diukur dari siapa yang lebih dulu ada di keluarga tersebut. "Yang penting adalah konsistensi dan perhatian hangat dari orang tua. Ketika anak merasa aman secara emosional, kedekatan antar saudara akan tumbuh dengan sendirinya," pungkas Vania.(*)

Advertisement
Editor : Chairunnisya
Sumber : Jawa Pos

Artikel Terkait

Rindu Langit Biru, Jangan Menjadi Awan Kelabu

Rindu Langit Biru, Jangan Menjadi Awan Kelabu

Pahami pentingnya kedewasaan batin dan ketuntasan diri agar tidak mudah terombang ambing oleh tekanan lingkungan sekitar.

Studi Terbaru Ungkap Kepribadian Ternyata Dipengaruhi Genetik, Ini Temuannya

Studi Terbaru Ungkap Kepribadian Ternyata Dipengaruhi Genetik, Ini Temuannya

Studi terhadap 1,14 juta orang menemukan lebih dari 1.200 varian genetik yang berkaitan dengan kepribadian manusia.

Jangan Asal Melampiaskan Amarah, Studi Ungkap Cara Lebih Efektif untuk Menenangkan Diri

Jangan Asal Melampiaskan Amarah, Studi Ungkap Cara Lebih Efektif untuk Menenangkan Diri

Studi psikologi mengungkap melampiaskan amarah lewat aktivitas fisik bukan cara terbaik, sementara meditasi dan distraksi lebih efektif.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer