PONTIANAK POST - Menegur anak yang berbohong tidak selalu harus dilakukan dengan amarah. Cara orang tua merespons justru sangat menentukan apakah anak mau terbuka atau semakin menutup diri.
Menurut Tyas Anastasya Pratiwi SPsi MPsi Psikolog, anak sebaiknya tidak dipermalukan di depan orang lain ketika melakukan kesalahan. Teguran lebih baik diberikan secara pribadi dengan nada yang tenang.
’’Gunakan kalimat positif, misalnya, ’Mama tahu PR belum dikerjakan, ayo kita kerjakan bareng,’. Itu lebih baik daripada membentak atau menghakimi,’’ ujarnya, dikutip dari Jawapos.
Baca Juga: Ternyata Alasan Anak Berbohong Berubah Sesuai Tahap Usia dan Perkembangannya
Selain itu, orang tua juga perlu memberi ruang agar anak menjelaskan alasan di balik perilakunya. Dengan begitu, orang tua bisa memahami motif kebohongan, bukan hanya melihat perilaku luarnya.
Untuk remaja, pendekatan yang digunakan membutuhkan ruang dialog yang aman dan terbuka. Tyas menilai, remaja cenderung memilih berbohong jika merasa tidak memiliki tempat untuk berbicara dengan nyaman.
’’Kalau tidak ada ruang aman, mereka memilih berbohong. Jadi, kuncinya adalah membangun kepercayaan dan keterbukaan,’’ jelasnya.
Baca Juga: Tanda Pasangan Sedang Berbohong: Kenali dengan Cermat untuk Hubungan yang Sehat
Meski demikian, konsekuensi tetap penting diajarkan kepada anak dan remaja. Namun, pendekatannya tidak hanya berfokus pada hukuman.
Tyas juga mengingatkan pentingnya komunikasi jujur dalam keluarga. Orang tua perlu memberi apresiasi ketika anak berkata jujur, meskipun kejujuran itu membawa konsekuensi yang tidak menyenangkan.
’’Anak lebih terbuka kalau merasa tidak dihakimi,’’ tutur Tyas.
Baca Juga: Tips Parenting: Memahami Emosi Anak Lewat Bahasa Tubuh dan Komunikasi
Memberi teladan juga menjadi bagian penting. Orang tua tidak perlu gengsi mengakui kesalahan kecil dan meminta maaf agar anak belajar bahwa kejujuran adalah hal yang baik.
’’Dengan begitu anak belajar bahwa jujur itu boleh, bahkan hal yang baik,’’ katanya.
Editor : Chairunnisya