PONTIANAK POST - Di tengah tren anak belajar banyak bahasa sejak dini, orang tua sering kali berlomba mengenalkan bahasa asing secepat mungkin.
Padahal, kemampuan berbahasa bukan sekadar soal terlihat pintar atau fasih berbicara.
Yang lebih penting adalah bagaimana bahasa membantu anak tumbuh percaya diri, dekat dengan keluarga, dan mampu mengekspresikan diri dengan nyaman.
Baca Juga: Matematika Bukan Sekadar Nilai, tetapi Bekal Life Skill Anak
Psikolog Synergi Psychology, Asteria Ratnawati mengungkapkan belajar lebih dari satu bahasa bukan hal yang buruk. Justru, anak-anak memiliki kemampuan alami untuk menyerap bahasa dengan cepat.
’’Otak anak sangat fleksibel. Jika distimulasi dengan tepat, mereka mampu memahami lebih dari satu bahasa tanpa harus bingung,’’ jelasnya, dikutip dari Jawapos.
Namun, pengenalan bahasa perlu dilakukan dengan cara dan waktu yang tepat agar tidak mengganggu perkembangan bahasa utama anak, yakni bahasa ibu.
Asteria mengatakan, kunci utamanya adalah keseimbangan dan konsistensi.
Baca Juga: Bahasa Indonesia Resmi Jadi Bahasa Kerja ke-10 di Sidang Umum UNESCO
Orang tua bisa menerapkan metode satu orang satu bahasa. Misalnya, ayah berbicara menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan ibu menggunakan bahasa Inggris.
Cara lain juga bisa dilakukan dengan membedakan penggunaan bahasa berdasarkan situasi tertentu.
’’Yang penting, penggunaannya konsisten agar anak tidak bingung,’’ lanjutnya.
Meski anak dapat belajar banyak bahasa, Asteria mengingatkan bahwa bahasa ibu tetap memiliki posisi istimewa. Bahasa ibu menjadi bahasa emosi, kedekatan, sekaligus identitas budaya anak.
Baca Juga: Pemkab Kubu Raya Tingkatkan Kemahiran Bahasa Indonesia ASN di Tengah Perkembangan Era Digital dan AI
’’Anak sebaiknya memiliki satu bahasa dasar yang kuat terlebih dulu, biasanya bahasa ibu. Setelah itu, baru bahasa lain bisa ditambahkan bertahap,’’ katanya.
Menurutnya, yang paling penting bukan berapa banyak bahasa yang dikuasai anak, melainkan kualitas penguasaannya serta kenyamanan anak saat berkomunikasi. (*)
Editor : Chairunnisya