PONTIANAK POST - Tren suvenir pernikahan kini semakin beragam. Mulai dari lilin aromaterapi, madu botolan, hingga aneka makanan tradisional menjadi pilihan pasangan pengantin.
Dosen Sosiologi FISIP Universitas Brawijaya Malang, Nike Kusumawanti mengatakan setiap jenis suvenir memiliki makna simbolik yang berbeda.
“Secara simbolik, suvenir makanan mencerminkan budaya berbagi rezeki. Benda pajangan lebih bersifat simbolik dan representatif,” kata Nike, dikutip dari Jawapos.
Baca Juga: Etika Memberi Suvenir Pernikahan Agar Tidak Terlihat Berlebihan dan Pamer
Karena itu, memilih suvenir sebenarnya bukan soal mana yang paling mahal atau paling menarik. Yang lebih penting adalah pesan sosial yang ingin ditampilkan kepada tamu undangan.
Nike menilai suvenir makanan tradisional dapat menghadirkan kesan yang lebih hangat dan membumi. Selain itu, pilihan tersebut juga mampu memperkuat identitas budaya lokal.
“Kalau boleh memberi saran, suvenir makanan tradisional seperti dodol, kopi, atau madu lokal dapat menciptakan kesan hangat dan membumi, sekaligus merekatkan identitas budaya,” imbuhnya.
Baca Juga: Tren Suvenir Ramah Lingkungan menjadi Cermin Kesadaran Sosial Pasangan Muda Modern
Selain lebih dekat dengan budaya masyarakat, suvenir makanan juga dinilai lebih bermanfaat karena dapat dinikmati langsung oleh tamu undangan.
Pilihan sederhana seperti ini justru dapat meninggalkan kesan yang lebih personal dan berkesan. (*)
Editor : Chairunnisya