PONTIANAK POST - Di tengah berkembangnya tren pernikahan modern, keberadaan suvenir kini tidak lagi dianggap sebagai kewajiban mutlak.
Yang terpenting adalah bagaimana pasangan tetap menunjukkan penghargaan kepada tamu undangan.
“Yang diingat orang bukan besar kecilnya hadiah, melainkan kesan hormat dan penghargaan yang ditunjukkan,” ujar Dosen Sosiologi FISIP Universitas Brawijaya Malang, Nike Kusumawanti, dikutip dari Jawapos.
Baca Juga: Bukan Sekadar Oleh-Oleh, Suvenir Makanan Simbol Berbagi Rezeki Dalam Pernikahan
Menurut Nike, pasangan tetap dapat menjaga etika sosial meski tanpa suvenir. Sikap ramah, sapaan personal, hingga ucapan terima kasih digital bisa menjadi bentuk penghargaan yang tetap bermakna.
Ia juga menyebut donasi sosial sebagai alternatif suvenir yang lebih etis dan bernilai.
“Alternatif yang etis: mengganti suvenir dengan donasi sosial atas nama para tamu. Selain bermakna, hal ini memperluas makna cinta menjadi solidaritas sosial,” ujarnya.
Baca Juga: Etika Memberi Suvenir Pernikahan Agar Tidak Terlihat Berlebihan dan Pamer
Pada akhirnya, suvenir pernikahan adalah cermin budaya memberi yang bernilai bila diiringi kesadaran sosial dan kepekaan moral.
Bahkan suvenir sederhana pun dapat menjadi simbol kebaikan yang paling indah. (*)
Editor : Chairunnisya