PONTIANAK POST - Kemampuan berbahasa asing menjadi salah satu bekal penting di era global. Karena itu, makin banyak orang tua mulai mengenalkan bahasa kedua bahkan ketiga kepada anak sejak usia dini.
Namun, berapa banyak bahasa yang ideal dikuasai anak?
Dilansir dari Jawapos, Founder The Bilingual Parenting Hapikry Surya Permana MHum menegaskan, tidak ada angka pasti yang bisa dijadikan patokan.
Baca Juga: Bahasa Viral Bisa Bangun Identitas Sosial Anak, Ini PenjelasannyaMenurut dia, jumlah bahasa yang dikenalkan sebaiknya disesuaikan dengan minat anak, lingkungan, serta kebutuhan masa depannya.
’’Semakin banyak anak menguasai bahasa asing tentu semakin bagus. Apalagi pada masa golden age usia 0-3 tahun ketika plastisitas otak masih sangat tinggi. Bahasa apa pun yang orang tua ingin kenalkan, berikan saja. Yang perlu diatur adalah waktu pemaparannya,’’ jelasnya.
Golden Age Jadi Momen Penting
Menurut Hapikry, usia dini merupakan masa yang sangat baik untuk mengenalkan bahasa asing. Pada periode ini, kemampuan otak anak masih sangat plastis sehingga lebih mudah menyerap berbagai informasi, termasuk bahasa.
Baca Juga: Cara Menyenangkan Mengenalkan Bahasa Asing kepada Anak Sejak Usia Dini
’’Sampai usia 6–7 tahun, perkembangan atau kemampuan otaknya masih sangat plastis. Dalam istilah neuroscience, plastisitas otak anak masih sangat tinggi sehingga mampu merespons stimulasi dari luar dengan sangat efektif, termasuk bahasa,’’ ujar Hapikry.
Kondisi itu membuat pengenalan bahasa asing sejak kecil bisa berlangsung lebih natural. Bahasa tidak datang sebagai beban, tetapi menjadi bagian dari keseharian yang terus didengar dan digunakan anak.
Bahasa Menjadi Bagian dari Kehidupan Anak
Hapikry menilai, bahasa asing yang dikenalkan sejak dini berpeluang berkembang sebagai alat komunikasi sekaligus bagian dari kehidupan anak.
Baca Juga: Jangan Langsung Melarang, Orang Tua Perlu Memahami Bahasa Digital Anak
Situasi ini berbeda dengan pengalaman banyak orang dewasa yang belajar bahasa Inggris hanya sebagai mata pelajaran sekolah, sehingga penggunaannya sering terbatas di ruang kelas.
Karena itu, yang terpenting bukan mencari angka ideal berapa bahasa yang harus dikuasai anak, melainkan memastikan pengenalannya sesuai dengan kebutuhan, konsisten, dan hadir dalam kehidupan sehari-hari. (*)
Editor : Chairunnisya