PONTIANAK POST - Membantu orang tua setelah menikah sering menjadi dilema bagi pasangan muda. Keinginan untuk tetap berbakti harus berjalan seiring dengan tanggung jawab membangun keuangan rumah tangga yang sehat.
Financial Planner Finante, Ode Kustriani Atmaja, menegaskan tidak ada aturan baku mengenai besaran bantuan yang harus diberikan kepada orang tua.
Tidak Ada Nominal yang Sama untuk Semua
Menurut Ode, besarnya bantuan bergantung pada dua hal, yakni kebutuhan orang tua dan kemampuan finansial anak.
’’Pemberian disesuaikan dengan kebutuhan orang tua dan kemampuan anak. Prinsipnya adil, bukan sama rata,’’ ujarnya, dikutip dari Jawapos.
Artinya, bantuan kepada orang tua dari pihak suami maupun istri tidak harus bernilai sama. Kondisi setiap keluarga bisa berbeda sehingga nominal yang diberikan pun dapat berbeda.
Ada Batas Aman jika Menanggung Orang Tua
Baca Juga: Kelihatannya Hemat, 7 Kebiasaan Keuangan Ini Justru Bikin Anda Susah Kaya dan Bangkrut
Ode menjelaskan, apabila pasangan menanggung sebagian besar atau seluruh kebutuhan orang tua maupun mertua, ada kisaran yang dapat dijadikan acuan.
’’Mereka dapat menetapkan kisaran 5 hingga 15 persen dari penghasilan agar budgeting rumah tangga tetap aman,’’ jelasnya.
Sebelum menentukan nominal, pasangan perlu menghitung seluruh kondisi keuangan, mulai dari pendapatan, cicilan, biaya hidup, hingga tujuan keuangan jangka panjang seperti dana pendidikan anak dan dana pensiun.
Baca Juga: Ini Cara yang Bisa Dilakukan Pasutri Muda untuk Menyiapkan Rumah Tanpa Membebani Keuangan
Selain itu, kondisi orang tua juga harus menjadi pertimbangan.
’’Kondisi orang tua juga menjadi pertimbangan penting, apakah masih mandiri atau sudah bergantung secara finansial, serta kondisi kesehatan mereka,’’ lanjutnya.
Ode menegaskan bahwa kebutuhan utama keluarga inti tetap harus menjadi prioritas.
’’Prinsipnya, kebutuhan inti rumah tangga harus aman dulu, baru memberi ke orang tua,’’ imbuhnya. (*)
Editor : Chairunnisya