PONTIANAK POST - Pertanyaan kritis dari anak terkadang membuat orang tua merasa tidak nyaman.
Namun, respons berupa kemarahan, bentakan, atau menyuruh anak diam justru dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya dan hubungan dengan orang tua.
Psikolog Klinik Perspektif, Sekar Arum Sabrina MPsi Psikolog mengingatkan orang tua agar tidak buru-buru memotong, memarahi, atau menyalahkan anak ketika mendapat pertanyaan kritis.
Baca Juga: Anak Berani Bertanya dan Mengkritik Orang Tua, Ini Cara Menyikapinya
’’Hal tersebut membuat anak belajar bahwa bertanya adalah sesuatu yang salah atau pendapatnya tidak penting. Dalam jangka panjang, ada anak yang takut mengungkapkan pendapat, sementara yang lain mungkin mencari jawaban dari sumber yang belum tentu dapat dipercaya,’’ imbuhnya, dikutip dari Jawapos.
Karena itu, pertanyaan anak sebaiknya menjadi ruang komunikasi antara orang tua dan anak.
Orang tua dapat mendengarkan terlebih dahulu sebelum memberikan respons yang sesuai.
Baca Juga: Founder The Bilingual Parenting Luruskan Mitos Anak Bilingual Terlambat Bicara
Perhatikan Jika Pertanyaan Terus Berulang
Meski pertanyaan anak merupakan bagian dari proses perkembangan, orang tua tetap perlu peka apabila pertanyaan atau kritik muncul berulang kali dengan tema yang sama.
Salah satunya ketika anak terus mempertanyakan atau mengkhawatirkan orang tua berpisah atau meninggal.
Perhatian khusus juga diperlukan apabila anak mengalami kecemasan berlebihan, sulit tidur, mimpi buruk, menjadi sangat lekat, terus-menerus mengawasi perilaku orang tua, atau menunjukkan perubahan perilaku.
Baca Juga: Tips Aturan Aman Menggunakan Gawai untuk Anak dan Dewasa
Perubahan tersebut dapat berupa menarik diri, mudah marah, kehilangan minat bermain, maupun penurunan prestasi sekolah.
’’Dalam situasi seperti ini, orang tua sebaiknya lebih peka terhadap kondisi emosional anak dan mempertimbangkan untuk mencari bantuan profesional apabila gejala menetap atau semakin mengganggu kehidupan sehari-hari,’’ ucapnya. (*)
Editor : Chairunnisya