Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Paradigma Berpikir Coaching dalam Pendidikan

Misbahul Munir S • Minggu, 16 April 2023 | 13:15 WIB
Kiki Mahraini, S.Pd, Guru SD Negeri 35 Pontianak Selatan Jalan Nirbaya, Kotabaru, Pontianak
Kiki Mahraini, S.Pd, Guru SD Negeri 35 Pontianak Selatan Jalan Nirbaya, Kotabaru, Pontianak
Oleh: Kiki Mahraini, S.Pd

FILOSOFI pendidikan Ki Hajar Dewantara meletakkan guru sebagai penuntun murid. Kata penuntun memiliki rasa yang sama dengan coach dalam sebuah coaching. Dilihat dari pengertiannya, kata coaching merupakan sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee. (Grant, 1999). Dari definisi tersebut, nampak jelas bahwa coach berperan sebagai penuntun agar coachee menemukan ide baru atau cara untuk mengatasi tantangan yang dihadapai.

Tantangan yang dihadapi oleh guru sepanjang masa adalah menghadirkan pembelajaran yang berpihak kepada murid atau yang berhamba pada murid sesuai dengan Filiosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara. Keberpihakan tersebut dapat diimplementasikan melalui pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi berupa usaha menyesuaikan pembelajaran di kelas agar dapat memenuhi kebutuhan belajar individu.

Murid memiliki beragam karakteristik yang harus direspon dengan tepat agar tidak terjadi kesenjangan dalam belajar. Caroll Ann Tomlinson menyatakan ada 3 aspek yang harus dilihat dalam kebutuhan belajar murid yaitu kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid. Dengan memilih beberapa aspek tersebut, guru dapat merancang strategi pembelajaran di kelas agar kebutuhan setiap murid terpenuhi.

Kembali kepada tujuan pendidikan yaitu menghantarkan murid selamat dan bahagia, maka dapat dipastikan bahwa pendidikan tidak semata mengejar pada kecerdasan akademik belaka. Keberpihakan pada murid dapat pula diimplementasikan melalui pembelajaran sosial emosional. Akhir – akhir ini, kita digemparkan oleh kasus – kasus yang melibatkan anak usia sekolah. Kasus perundungan, pelanggaran etika, penyalahgunaan obat – obatan, putus sekolah, menikah dini dan masih banyak lainnya. Hal ini menunjukkan rentannya perkembangan sosial dan emosional murid kita.

Pembelajaran yang kita lakukan harus mampu menciptakan lingkungan dimana murid dapat melatih kompetensi sosial dan emosionalnya agar kelak mereka dapat tumbuh menjadi warga masyarakat yang baik. Murid harus diberikan pengalaman menggali potensi diri dan mengeksplorasi kelima kompetensi sosial emosional yaitu kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Dukungan terhadap pengembangan kelima kompetensi sosial emosional akan bermuara pada terciptanya well- being; kesejahteraan psikologis warga sekolah.

Guru sebagai pemimpin pembelajaran berperan penting menyinergikan elemen – elemen dalam pembelajaran . Ia menggetarkan semangat, harapan pada murid maupun sejawatnya. Sebagai coach, pemimpin pembelajaran menerapkan berpikir Among; Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Untuk menggerakkan orang-orang di sekitarnya, pemimpin pembelajaran juga menerapkan inkuiri apresiatif; mengemas pertanyaan pemantik untuk mengungkap potensi dan sumber daya yang dimiliki.

Implementasi pembelajaran berdiferensiasi maupun pendidikan sosial emosional akan berjalan jika guru memiliki paradigma berpikir yang memberdayakan, dimana salah satu pendekatan yang memberdayakan adalah coaching.

Coaching dapat diimplementasikan oleh guru dalam pembelajaran bersama murid misalnya dalam memberi umpan balik terhadap hasil pekerjaannya. Melalui percakapan coaching, murid dapat merefleksikan apa yang sudah dipelajarinya dan menggali hal – hal yang akan dicapai pada masa depan. Melalui percakapan coaching pula, kompetensi sosial emosional yang akan dikembangkan dapat tergali.

Menjadi pemimpin pembelajaran berarti menaruh perhatian penuh pula pada pengembangan rekan sejawat, pemberdayaan dan pelibatan komunitas yang mendorong terwujudnya well- being dalam ekosistem pendidikan sekolah di mana hal tersebut sejalan dengan paradigma coaching yaitu memberdayakan coachee. Implementasi memberdayakan cochee dapat dilakukan melalui supervisi akademik.

Supervisi bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru sebagai pemimpin pembelajaran yang berpihak pada anak. Sudah tidak zamannya lagi supervisi dilaksanakan searah dan menjadi momok menakutkan bagi guru-guru. Alih-alih membuat guru tertekan, pelaksanaan supervisi dengan paradigma coaching akan menghadirkan motivasi internal guru sebagai pembelajar sepanjang hayat demi tercapainya pembelajaran yang berpihak pada murid.

Paradigma berpikir coaching dalam pendidikan, akan menghantarkan kepada terwujudnya sekolah yang memberdayakan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk keberpihakan pada murid sehingga lahirlah pelajar dengan Profil Pancasila dalam dirinya. Karena itu, sudah saatnya para pemimpin pembelajaran menerapkan berpikir coaching dalam pendidikan.

Penulis adalah Guru SD Negeri 35 Pontianak Selatan Jalan Nirbaya, Kotabaru, Pontianak Editor : Misbahul Munir S
#pendidikan #Coaching #ki hajar dewantara #Filosofi Pendidikan #Paradigma