Ritual Balala' atau Balala' Bapantang Nagari akan dimulai pada 26 Mei pukul 18.00 WIB. Dengan menggelar ritual tolak bala dan tutup saka. Selanjutnya ritual buka saka atau berakhirnya masa Balala' pada 27 Mei pukul 18.00 wib.
Apa itu Balala’ Bapantakng Nagari? itu merupakan salah satu bagian dari tatanan adat budaya Suku Dayak, sub suku Dayak Kanayatn. Balala' bisa berarti berpantang, baik dalam hal perbuatan dan pekerjaan. Selain itu, makan dan minum tetap diperbolehkan di dalam rumah masing-masing.
Meski begitu, terdapat pengecualian bagi para tenaga medis di Puskesmas dan Rumah Sakit dan Kepolisian serta TNI. Mereka dapat menjalankan aktivitas pelayanan publik seperti biasa.
Begitu juga dengan warga dari luar Kabupaten atau binua yang hendak melintas. Masyarakat dapat leluasa melintas di daerah yang menggelar Balala'. Dengan catatan warga tidak dapat singgah di desa atau wilayah yang sedang menjalankan ritual adat tersebut, terkecuali dalam kedaan darurat.
Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Landak, Heri Saman menjelaskan pihaknya sudah menggelar rapat bersama pemangku adat dan pengurus DAD dengan dua kabupaten lainnya saat gelaran Bahaupm dalam rangka Ritual Adat Naik Dango di Rumah Radakng Aya' Ngabang, pada 26 April lalu. Saat itu ketiga kabupaten atau binua sepakat untuk menggelar Ritual Balala' Bapantakng Nagari sebagai salah satu ritual tutup tahun setelah panen raya.
"Bapantakng ini bertujuan sebagai bentuk pengharapan agar panen padi pada tahun berikutnya dapat berbuah baik dan terhindar dari wabah atau hama. Dalam hal ini, kita juga berdoa agar virus Covid-19 tidak lagi menyebar di wilayah kita," ucap Heri di Ngabang saat dihubungi, Senin.
Dengan merebaknya wabah Corona ini, kata Heri, DAD dan pemangku adat di tiga kabupaten hingga tingkat kecamatan dan Timanggong Binua di tiap desa di Kabupaten Landak, berinisiatif untuk menggunakan kearifal lokal dalam menangkal masuknya pandemi Covid-19.
Ritual adat tersebut, menurut Heri juga sesuai dengan anjuran pemerintah yang meminta masyarakat untuk tetap berada di rumah. Ia mengibaratkan, ritual adat tersebut ialah social distancing dengan kearifan lokal. Bukan hanya menjalankan adat saja, tapi terdapat substansi yang bisa dijalankan untuk mencegah merebaknya Covid-19.
“Pada saat Balala' itu, kampung kita ini dibersihkan oleh jubata dari segala jenis penyakit. Bukan hanya suku dayak, tapi semua suku etnis dan agama yang ada, kita minta perlindungan kepada Tuhan yang maha kuasa,” tambah Ketua DPRD Landak ini.
Heri menyebut, masing-masing DAD di tiga kabupaten dipersilahkan untuk menggelar adat Balala' dengan tata caranya masing-masing. Sementara di Kabupaten Landak, ia mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi bersama pemerintah daerah, dalam hal ini Bupati Landak. Ia menyebut, bupati telah setuju untuk menggelar Balala'.
Tak hanya itu, pihaknya juga telah berdialog bersama seluruh paguyuban suku yang ada di Kabupaten Landak. Dari sejumlah pertemuan yang digelar dapat disepakati bersama bahwa Balala' dapat dilaksanakan. "Kami juga sudah berdialog dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dan semuanya mendukung pelaksanaan Balala' ini," ungkap politisi PDI Perjuangan ini.
Ia menceritakan, cara menangkal bahaya ini sudah dilaksanakan secara turun temurun. Ratusan tahun yang lalu, diriwayatkan telah terjadi sebuah wabah penyakit. Jatuh korban secara berturut-turut. Masyarakat pun menggunakan ritual adat Balala’ atau Bapantakng. “Puji tuhan, wabah itu bisa teratasi. Mudah-mudahan kali ini juga mendapat pengabulan dari tuhan yang maha kuasa,” harapnya.
Ditanya apakah hukum adat tersebut juga berlaku pada suku dan agama lain, ia mengatakan hal tersebut merupakan kesepakatan bersama masyarakat di tiap binua. Karena menurutnya, doa yang dipanjatkan bukan hanya untuk mendoakan masyarakat dayak saja, tetapi semua etnis yang tinggal di wilayah binua setempat itu, tanpa terkecuali. “Jadi itu berlaku untuk seluruhnya,” kata dia.
Ia mengharapkan seluruh masyarakat dapat ikut serta dan menghargai adat istiadat yang dijalankan tersebut. “Mudah-mudahan semua masyarakat yang ada di Kabupaten Landak ini bisa menghargai adat istiadat ini, sehingga tujuan dari adat Balala’ ini bisa tercapai,” ucapnya.(mif) Editor : Miftahul Khair