Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Olahan Keripik Kelapa Muda

Super_Admin • Minggu, 23 Mei 2021 | 19:47 WIB
Photo
Photo
OKelapa tak hanya menjadi pelepas dahaga saat haus atau diolah menjadi santan. Namun buah ini bisa diolah menjadi keripik yang renyah dan gurih. Variannya tidak hanya original tapi juga Milo dan Balado.

Ramses Tobing, Pontianak


Eka Rosma Ismail sukses mengolah kelapa menjadi cemilan. Ia belajar mengolah isi kelapa untuk dijadikan cemilan dari Youtube. Tak cukup sekali mencoba. Butuh lima kali percobaan untuk bisa mendapatkan rasa cemilan kelapa yang pas di lidah.

Selama percobaan itu ia sudah menghabiskan hampir empat puluh buah kelapa. “Beberapa kali gagal dan terus mengulang agar rasa keripik kelapa lebih kriuk,” kata Eka ketika diwawancarai Pontianak Post, di Pontianak, pagi kemarin.

Ide awal untuk membuat keripik kelapa ini lantaran usaha Pizza Sobek miliknya mengalami penurunan karena pandemi Covid-19. Selain itu juga usaha serupa mulai tumbuh.

Dari awal Eka sudah fokus pada usaha kuliner. Nama usahanya Aulia’s Kitchen. Salah satu produknya adalah brand Pizza Sobek. Usaha ini mulai dirintisnya tahun 2017. Ketika itu belum ada usaha serupa di tempat asal, Kabupaten Sintang.

Pizza Sobek pun laris manis saat ini. Sepuluh bulan pertama, ia mencatatkan penjualan yang fantastis. Pizza Sobek bisa terjual 1.000 pack. Bahkan Pizza Sobek ini diikutsertakannya dalam expo di Kuching, Malaysia.
“Pelan-pelan omset mulai turun sementara ada tiga karyawan yang bekerja, sehingga saya alihkan ke lain agar karyawan tetap punya pendapatan. Saya cari ide di internet, dan dapatkan keripik kelapa muda,” cerita Eka.

Mulai tahun 2020, ia pun mengubah haluan. Dari Pizza Sobek beralih ke keripik kelapa muda. “Saya mulai Juni dan sudah hampir satu tahu,” sambung Eka.

Ia mengatakan kelapa yang dipilih untuk diolah menjadi keripik jangan yang terlalu tua. Jika terlalu muda isi kelapa tidak bisa diiris dan hanya bisa dikerok untuk diminum. Sementara jika terlalu tua sulit untuk digoreng. Irisan kelapa rapuh saat digoreng.

Jika dipersentasekan tingkatnya sekitar 60-70 persen. Ia menyebutnya kelapa pirang. Kelapa dengan kadar tua 60-70 lebih murah digoreng. Irisan kelapa yang dicampur dengan tepung tidak patah saat digoreng. “Jadi terlalu muda tidak bisa dan jangan terlalu tua. Tekstur usai digoreng seperti yang diiris. Jika terlalu tua, irisan kelapanya patah-patah,” kata Eka.

Awalnya varian rasa keripik kelapa yang diproduksinya masih yang original. Hanya saja varian itu belum mendongkrak penjualan produknya. Selain karena produk baru dan belum terlalu enak di lidah konsumen.
“Cuma rasanya biasa saja dan manisnya pun asli dari kelapa itu sendiri,” kata Eka.

Ia kemudian mencoba dengan varian rasa, yakni Milo dan Balado. Dua varian rasa ini yang kemudian disukai konsumen. “Kenapa rasanya kurang, jadi saya coba dengan ras varian lain. Alhamdulilah enak dan disukai konsumen,” cerita Eka.

Untuk mengenal produknya, Eka mencoba menitipkan produk olahannya di beberapa tempat. Seperti minimarket hingga tempat persinggahan taksi dalam perjalanan antara Sintang dan Pontianak.

Cara lain juga digunakannya untuk yakni dengan memasarkan produk secara digital. Ia menggunakan media sosial seperti Facebook, Whatsapp dan Marketplace.

Menurutnya cara seperti ini lebih efektif. Sebab memudahkan konsumen untuk mencari produk yang dibuatnya. Konsumen pun tidak harus datang ke rumah produksi.

Meski demikian Eka belum menggencarkan promosinya lantaran masih terkendala bahan baku. Saat ini harga bahan baku sedang tinggi-tingginya. Untuk satu kelapa yang bisa diolah seharga Rp10 ribu. Semakin tinggi harga bahan baku berpengaruh juga pada harga jual.

Selain itu ia juga terkendala modal. Untuk memproduksi dalam jumlah besar membutuhkan modal yang tak sedikit. Kemudian dari sumber daya juga. Karyawannya saat ini belum mampu memproduksi dalam jumlah besar.
“Paling tidak ada bantuan dari pemerintah, karena semakin lama kelapa itu tidak bagus, minyak kelapa semakin keluar. Sehingga butuh alat pengering minyaknya, sementara alatnya mahal,” terang Eka.

Eka mengatakan untuk satu buah kelapa bisa menghasilkan satu kilo lebih keripik. Mulai dari membelah kelapa menjadi empat. Kemudian mengeluarkan isi dari batok dan mengirisnya. Untuk mengiris tidak menggunakan pisau, tapi alat pengupas kentang.

Setelah itu, irisan kelapa digoreng dengan adonan tepung yang sudah dicampur bumbu-bumbu. Proses pengerjaannya mulai dari pukul 10.00 WIB hingga 15.00 WIB, yang dikerjakan dua orang. Selama enam jam keripik bisa diolah dari lima buah kelapa.
“Untuk tepung adonannya tidak beli. Buat sendiri, dengan racikan bumbu-bumbu,” kata Eka.

Eka mengatakan untuk satu kilo kelapa dijual seharga Rp80.000 hingga Rp100.000 per kilo. “Saya biasanya kasih promo jika konsumen beli di atas lima kilo, harganya Rp80.000 per kilo,” pungkasnya. (*) Editor : Super_Admin
#melek digital #keripik kelapa muda