Hujan deras yang mengguyur Kota Pontianak dan sekitarnya sejak Selasa (17/8) sore hingga malam hari menyebabkan sejumlah ruas jalan dan kawasan pemukiman terendam banjir.
Dari pantauan Pontianak Post, genangan air terjadi di beberapa titik, seperti Jalan Purnama, Jalan Sutoyo, Jalan MT. Haryono, Jalan Putri Candramidi (Podomoro) dan beberapa ruas jalan lainnya.
Ketinggian genangan air mencapai 15 hingga 30 centimeter sehingga banyak pengendara jalan yang menurunkan laju kendaraan bahkan tak jarang menimbulkan kemacetan.
Kepala BPBD Kota Pontianak Haryadi S Triwibowo mengatakan, hampir seluruh kecamatan di Kota Pontianak terjadi genangan akibat tingginya curah hujan yang terjadi malam kemarin.
“Beberapa tahun yang lalu kami hanya bersiaga di beberapa titik sepanjang aliran Sungai Kapuas, seperti di kawan Pontianak Barat, Timur dan Utara, namun untuk saat ini memang terjadi hampir merata, di semua kecamatan,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya banjir. Selain faktor alam, juga semakin naiknya muka air laut, dan semakin banyaknya bangunan yang tidak mengindahkan tata kelola drainase.
Menyempitnya saluran air primer, sekunder dan tersier, serta banyaknya bangunan beton mengurangi daya serapan tanah, menambah parah kondisi banjir di Kota Pontianak bila hujan disertai angin pasang terjadi. “Belum lagi sampah yang menyumbat saluran air, membuat banjir ini juga bertambah,” tuturnya.
Haryadi mengungkapkan, Kota Pontianak menjadi salah satu daerah yang rawan banjir dan diprediksi akan tenggelam pada tahun 2055. “Dari hasil analisa tahun 2055, Pontianak diprediksi akan tenggelam. Di tahun itu air laut akan meninggi. Sekarang saja, dengan ketinggian gelombang 1,6 meter, Pontianak sudah terendam,” kata Haryadi. “Artinya, tidak menutup kemungkinan peristiwa itu akan terjadi,” sambungnya.
Untuk menanggulangi hal itu, pihaknya mengaku telah mendapat bantuan dari World Bank (Bank dunia), yang akan dimulai pada 2022 hingga 2025 dengan skema multiyears.
Dalam penanganan banjir, menurut Haryadi, pihaknya akan bekerja sama dengan Dinas PUPR, dan Lingkungan Hidup serta sejumlah pihak terkait. “Itu satu di antara proyek besar untuk mengantisipasi banjir di Kota Pontianak, jadi tidak bisa penanganan banjir hanya secara parsial. Dan Bank Dunia, Bappenas, dan Bapeppda melihat Kota Pontianak itu sebagai kota yang rawan banjir,” ujarnya.
Pada prosesnya nanti, lanjut Haryadi, pihaknya akan melakukan normalisasi parit dan sungai, tidak hanya akan melakukan pengerukan parit yang dangkal, juga akan melakukan pelebaran. “Bukan hanya satu parit, tapi dari hulu hingga hilir juga akan dibenahi. Dan kami akan lakukan sosialisasi ke masyarakat, karena bisa jadi ada bagian rumah warga yang masuk dalam aliran sungai atau parit harus dibebaskan untuk membuat aliran sungai menjadi normal,” katanya.
Lalu, direncanakan pula akan dibangun sejumlah pintu-pintu air untuk mengatur aliran air agar lancar, dan penempatan pompa air untuk memindahkan air. Bila melihat sejarah, kota Pontianak terbentuk dari delta dan yang merupakan wilayah langganan banjir, selain itu, seusai kerifan lokal di masyarakat di masa lalu, dikatakan Haryadi masyarakat Pontianak membangun kota dengan pola beradaptasi dengan banjir.
Hal tersebut dapat dilihat dari karakter rumah-rumah warga yang berbentuk panggung, dengan kolong rumah yang tinggi, serta menjaga kebersihan parit-parit Kota sebagai aliran air.
Sementara itu, Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Supadio Pontianak, Septikasari mengatakan, curah hujan di Kota Pontianak akan berlangsung selama seminggu ke depan.
“Diperkirakan secara umum di wilayah Kalimantan Barat khususnya Kota Pontianak dalam Intensitas curah hujan disertai petir dan angin kencang yang sangat tinggi, kondisi ini diperkirakan akan berlangsung seminggu kedepan,” ujarnya.
Sementara untuk tinggi gelombang di Perairan Kalimantan Barat diperkirakan mencapai 0 hingga 2 meter dalam kategori rendah atau sedang.
“Walaupun tinggi gelombang dalam katagori rendah dan sedang namun perlu diwaspadai perubahan iklim yang terjadi secara mendadak seperti curah hujan yang dapat berpotensi menambah tinggi gelombang,” tambahnya.
Untuk itu masyarakat khususnya yang tinggal di daerah pesisir maupun di wilayah dataran rendah untuk mewaspadai genangan air dan pasang surut air laut yang dapat terjadi.
“Kepada masyarakat diimbau untuk mewaspadai adanya potensi terjadinya banjir, genangan dan tanah longor akibat perubahan cuaca ekstrim yang terjadi di wilayah Kalimantan Barat,” tutupnya. (arf) Editor : Super_Admin