***
INDONESIA dikenal kaya akan sumber rempah. Satu di antaranya adalah lada, disebut juga merica atau sahang. Tanaman rambat ini diketahui telah ada sejak puluhan abad silam. Bahkan, pemilik nama latin Piper nigrum L ini dijuluki sebagai king of spice (raja rempah-rempah).
Konon, Indonesia merupakan negara pemasok lada terbesar dalam pasar internasional. Porsinya mencapai 80 persen. Dalam golongan rempah, buah lada yang telah diolah memiliki rasa pedas, hangat dan sedikit pahit. Berfungsi sebagai penyedap rasa pada masakan. Namun, ada juga yang memanfaatkannya sebagai obat.
Data Kementerian Pertanian Tahun 2018, Indonesia memiliki luas tanaman lada 176,195 hektare, tersebar hampir di seluruh pelosok nusantara. Di antaranya Provinsi Lampung, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Pulau Jawa, Pulau Sulawesi, dan Pulau Kalimantan, termasuk Kalbar.
Di Kalbar, komoditas perkebunan ini memang tidak sepopuler gaharu, karet dan kelapa, atau jenis komoditas lainnya. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri, lada Kalbar saat ini memiliki peran penting dan menjadi komoditas unggulan yang diekspor ke negara luar.
Kementerian Pertanian mencatat, luas areal tanaman lada di provinsi ini mencapai 10.800 hektare. Dari luasan itu, sebagian besar berada di Kabupaten Bengkayang, daerah yang secara geografis berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia Timur. Di daerah ini, luas areal tanaman lada mencapai 3.067 hektare, tersebar di lima kecamatan.
Sebagai salah satu daerah penghasil lada, Kabupaten Bengkayang memiliki varietas khusus yang diambil dari nama daerahnya, yakni Lada Bengkayang. Varietas ini dikukuhkan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian Nomor: 466/Kpts/TP.240/7/1993.
Berdasarkan data dari Balai Penelitian Rempah dan Obat (Balittro), Varietas Lada Bengkayang memiliki spesifikasi, di antaranya daun dengan panjang tangkai 1,57 cm, bentuk beralur dan bulat telur. Batangnya agak pipih dengan panjang ruas 5,79 cm.
Varietas ini juga memiliki panjang tandan 9,834 cm dengan masa produksi 189 hari. Selain itu, persentase buah sempurna sekitar 68,30 persen dengan rata-rata hasil 4,669 ton per hektare. Perkebunan lada di Kabupaten Bengkayang sudah lama ada. Bahkan, sejak masa kolonial.
Petrus Kahu (56), seorang petani lada asal Desa Pisak, Kecamatan Tujuh Belas, Kabupaten Bengkayang mengatakan, pertanian lada di Bengkayang pertama kali dibudidayakan di daerah Sanggau Ledo. Daerah pedalaman yang mayoritas dihuni oleh masyarakat adat Dayak. Menurutnya, tanaman ini awalnya dibawa oleh imigran asal Cina yang datang ke Kalbar, antara tahun 1940-1950.
“Mereka masuk dari Malaysia, dan menetap di Sanggau Ledo untuk membuka pertanian di sana,” katanya. Petrus Kahu sendiri merupakan petani lada yang mewarisi keahlian dari para sesepuhnya, yang pernah dipekerjakan oleh imigran tersebut, baik sebagai juru pikul atau mengurusi pertanian lada pada masa itu.
Selain membuka pertanian lada, lanjut Kahu, imigran itu juga tinggal dan bermukim, serta berbaur dengan warga lokal di sana. Secara tidak langsung, terjadi interaksi budaya antar keduanya. Hasil bumi itu kemudian dibawa dan dijual ke Malaysia melalui jalur darat dan sungai. Tidak jarang mereka juga harus menyusuri “jalan tikus” di hutan belantara.
“Waktu itu, hasil bumi khususnya lada, tidak dijual ke Pontianak atau daerah lain. Tetapi dibawa ke Malaysia. Biasanya ditukar dengan emas,” beber Kahu.
Seiring berjalannya waktu, lanjut Kahu, penguasaan lahan pertanian lada di Sanggau Ledo berpindah kepada warga lokal. Satu per satu, para imigran pergi meninggalkan pemukiman dan lahan pertanian, tepatnya tahun 1960an, saat peristiwa konfrontasi Indonesia-Malaysia.
“Banyak dari mereka yang pergi. Ada yang ke Singkawang, Pemangkat, ada juga yang pulang ke negara asal,” katanya. Sejak itu, pertanian lada di Sanggau Ledo terus meluas dikembangkan oleh warga lokal.
“Karena dulu para tetua kami belajar bagaimana bertanam lada maka sekarang pertanian lada semakin meluas” lanjutnya.
Sebaran pertanian lada di Kabupaten Bengkayang telah meliputi lima kecamatan, yakni, Kecamatan Sanggau Ledo, Kecamatan Tujuh Belas, Kecamatan Siding, Kecamatan Suti Semarang dan Kecamatan Seluas. Menurut Kahu, lada bukan sekadar bumbu atau penyedap rasa, tetapi juga warisan yang harus dijaga.
“Kata orang-orang tua dulu, kalau mau berhasil, jangan lupa tanam lada,” kisahnya.
Pengakuan sebagai salah satu dari 40 varietas lada di Indonesia memberikan angin segar bagi masyarakat petani lada di Kabupaten Bengkayang. Masyarakat tidak hanya menjual biji kering, tetapi juga telah mengembangkan produk turunan berupa bubuk lada dalam kemasan.
Koriadi adalah satu di antaranya. Ia bersama masyarakat petani lada di Kabupaten Bengkayang menggagas sebuah komunitas bernama MPIG (Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis) Varietas Lada Bengkayang.
Komunitas ini terbentuk sejak 2019. Tujuannya untuk mengangkat Varietas Lada Bengkayang sebagai tanaman rempah yang diakui dunia.
“Kalau selama ini kita mengenal lada asal Lampung atau Belitung, kami di sini memiliki varietas lada Bengkayang. Kami yakin mampu bersaing,” kata Koriadi, ditemui di kediamannya di Jalan Selat Panjang, Gang Kalawit, Kecamatan Pontianak Utara.
Koriadi sendiri merupakan petani lada. Ia memiliki kebun lada seluas dua hektare di Dusun Dawar, Desa Pisak, Kecamatan Sanggau Ledo. Usianya di atas tiga tahun. Dari luasan kebun miliknya itu, ia mampu menghasilkan dua hingga tiga ton per tahun. Sedangkan dua hektare lainnya dalam proses perluasan.
Meskipun baru memiliki lahan seluas dua hektare, Kori, panggilan akrabnya, mulai merangkul para petani lada yang ada di kampungnya, untuk mengikuti cara-cara pemeliharaan tanaman lada secara alami.
Ia menyadari, tantangan yang dihadapi oleh petani lada semakin kompleks. Mulai dari harga jual, hingga masalah hama penyakit yang menyerang tanaman lada, sehingga tidak sedikit para petani gagal panen.
“Tantangan petani saat ini semakin berat. Harga jual yang tidak menentu, ditambah lagi serangan hama penyakit. Terutama pada batang tanaman lada,” kata dia.
Untuk itu, kata Kori, masyarakat petani lada harus bisa bertahan, salah satunya dengan mengembangkan produk turunan, untuk meningkatkan harga jual.
Jejak Perdagangan
Perkebunan lada di Kalbar diperkirakan sudah ada sejak abad ke-18, di masa Kesultanan Sambas. Hanya saja, pada masa itu, tanaman ini bukan menjadi komoditas utama dalam perdagangan global.
Syafaruddin Usman, budayawan sekaligus sejarawan Kalbar mengatakan, penggarapan rempah, khususnya lada di daerah ini memang jauh dari kata memadai. Tidak seperti di Maluku, Pulau Jawa, atau Sumatera.
Menurutnya, itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain karena kondisi lahan sebagian besar wilayah Kalbar yang terdiri dari lahan gambut. Faktor lain, lanjut Syafaruddin, masyarakat Kalbar tidak bersentuhan langsung dengan kolonisasi.
“Belanda datang ke Kalbar itu benar. Tetapi masyarakat tidak bersentuhan langsung. Melainkan perpanjangan tangan dari kolonial, yakni pihak kerajaan atau para elite. Dalam catatan kolonial, rempah, khususnya lada disebutkan hanya sebagai komponen terpenting hasil perkebunan rakyat. Yang menjadi komoditas primadona untuk diperdagangkan adalah emas dan intan,” katanya.
Masih dari catatan kolonial, Kalbar berada dalam lintas jalur rempah Nusantara. Karena kurangnya perhatian pemerintah, pencatatan sejarahnya nyaris tak tersentuh. Kendati demikian, kata Syafaruddin, pada abad ke-19, Kalbar memiliki hubungan khusus jalur dagang laut dengan Singapura. Lada atau sahang adalah satu di antara komoditas yang dijualbelikan.
Sebagai bukti, kata Syafaruddin, keberadaan pelabuhan Seng Hie, yang kini ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Provinsi Kalbar. Pelabuhan bongkar muat yang terletak di Jalan Sultan Muhammad, Kecamatan Pontianak Selatan, itu merupakan salah stau pelabuhan bongkar muat tertua di Provinsi Kalbar.
Pelabuhan tersebut awalnya adalah dermaga niaga milik seorang pengusaha Tionghoa bernama Theng Seng Hie. Pada masanya dia adalah seorang pengusaha hasil bumi yang sangat sukses.
Theng Seng Hie membangun dermaga untuk menunjang aktivitas perdagangan. Letaknya strategis karena berada pada rute pelayaran yang dekat dengan Laut Cina Selatan, Singapura dan Selat Malaka. Tidak jarang kapal-kapal dagang dari Makassar, Surabaya, Banjarmasin singgah di pelabuhan itu sebelum ke Singapura.
Senada juga diungkapkan Any Rahmayani dan Dana Listiana, Peneliti Sejarah dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Kalbar. Menurutnya, sejak awal abad ke-18 hingga paruh kedua abad ke-19, Kalbar merupakan jalur pedagangan. Terutama di wilayah-wilayah pesisir, seperti Sambas, dan Ketapang.
Pada era itu, pemerintahan dipegang oleh kerajaan. Mereka bekerja sama dengan kapal-kapal dagang dari negara luar untuk menjual hasil bumi dan hasil hutan seperti gaharu, gambir dan kayu manis.
“Ada juga lada, tapi jumlahnya tidak signifikan. Justru yang menjadi komoditas utama waktu itu adalah hasil hutan seperti gaharu, gambir dan kayu manis,” kata penulis buku Tanaman Niaga di Borneo Barat pada Awal Abad ke-20 ini.
Dikatakan Any, para raja-raja tempo dulu juga memegang sentral perdagangan. Memonopoli bahan-bahan komoditas yang didatangkan dari negara luar seperti garam, kain dan lain-lain.
Tidak heran jika catatan sejarah nasional tidak pernah menyebut Kalbar dalam pembicaraan tentang rempah-rempah. Meskipun dalam catatan bangsa-bangsa barat terdapat beberapa jejak perdagangan rempah.
Potensi Rempah
Pada masa sekarang, lada menjadi salah komoditas unggulan di Kalimantan Barat. Data Balai Karantina Pertanian Kelas I Pontianak menyebutkan, dalam kurun waktu Januari hingga Juli 2021, setidaknya ada 780 ton biji lada kering diekspor ke delapan negara di dunia. Di antaranya, Vietnam, China, Taiwan, India, Chile, Mesir dan Korea Selatan, dengan total nilai barang mencapai Rp.72 miliar.
Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Pontianak, Amir Hasanuddin mengatakan, lada merupakan salah satu komoditas unggulan di sektor perkebunan, setelah sawit, karet dan kelapa.
Pada triwulan II tahun 2021, nilai ekspor komoditas pertanian dan perkebunan tercatat mencapai Rp 3,91 triliun atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp. 929,2 miliar.
“Selain memberi nilai tambah bagi petani, pelaku usaha dan pemda, akses langsung ini sekaligus meningkatkan daya saing komoditas ekspor di Kalimantan Barat,” katanya.
Diakui Amir, komoditas ekspor andalan Kalbar saat ini masih didominasi oleh produk olahan sawit, seperti RBD Palm Olein, RBD Palm Stearin dan PKE atau Palm Kernel Expeller. Peningkatan volume ekspornya sangat signifikan, yakni hingga 21% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Menurutnya, beberapa komoditas unggulan berupa sarang burung walet, biji pinang, pisang, keladi, porang, lidi nipah dan tanaman hias juga terlihat pemingkatannya sejak awal tahun 2021. (*) Editor : Super_Admin