“Dokter, apa saya bisa sembuh?” Ini adalah pertanyaan rutin dari setiap pasien yang baru saya diagnosa memiliki penyakit jantung.
Mereka mempertanyakan penggunaan obat-obatan yang saya berikan.
Pertanyaan bertubi-tubi terutama tentang keamanan ginjalnya dari obat rutin tersebut. Terlebih jika sudah terdapat hipertensi ataupun diabetes dan juga kolesterol.
Tentu obatnya akan berlapis-lapis dan bisa jadi lebih dari 6 butir obat setiap harinya. Ditambah komplikasi gagal jantung yang obatnya termasuk obat pelancar buang air kecil, maka lengkaplah sudah ketidaknyamanan yang dialami pasien saya.
Biasanya saya akan berhenti memeriksa, memandang pasien saya dan mengira-ngira seperti apa karakter pasien tersebut. Kalimantan Barat merupakan tanah yang tidak pernah saya sangka akan menjadi bagian dari hidup saya. Di awal saya lulus menjadi dokter umum, sekitar 15 tahun lalu, saya ditempatkan di sebuah desa di perbatasan bersama suami saya.
Jujur saya sering terkejut dan kaget dengan gaya Bahasa pasien-pasien saya. Saya mengadu pada suami bahwa setiap pasien selalu marah-marah dengan saya. Suami saya tertawa dan berkata bahwa memang begitu gaya bicara mereka, sebenarnya mereka tidak bermaksud menekan saya. Maklumlah, di kota kelahiran saya dulu, saya dikelilingi senyum dan suara halus dengan intonasi mendayu-dayu. Kemudian sebelas tahun yang lalu saya mengambil sekolah spesialis, dan ketika saya kembali ke sini tinggal di pusat kota, maka tipikal pasien saya bercampur-campur mulai dari pendatang sampai keturunan asli Kalimantan. Mengagumkan bahwa waktu semakin membuat saya mengenali penduduk kota ini. Terlebih setelah mengambil pendidikan kardiologi intervensi untuk dapat melakukan pemasangan stent, saya semakin dapat memadukan jawaban ilmiah dengan bahasa yang diinginkan pasien.
Sebab saya tidak ingin pasien saya merasa tidak berdaya. Pasien jantung bukanlah sebuah vonis mati yang membuat setiap pasien lantas berhenti beraktivitas dan hanya hidup sekedarnya, menyambung nyawa sambil berdoa.
Jadi jawaban pertanyaan ini harus saya ramu dengan baik, saya pikirkan dengan sangat keras agar tidak membuat pasien saya jatuh ke dua tipe pasien yang tidak saya inginkan. Pertama, pasien yang menyangkal sakitnya.
Tipe ini akan berlarian ke tempat lain yang mampu menyatakan kesembuhan. Mereka akan mencari orang yang sanggup memberikan alternatif lain berupa kepastian sembuh dari sakit jantung. Dengan bahagia mereka kelak akan membanggakan bahwa sekarang mereka sudah tidak sakit lagi.
Setiap dokter adalah orang yang turut bahagia jika pasiennya tidak sakit lagi, tentu saja. Naif sekali mereka yang berpikir dokter adalah orang yang berharap pasien sakit sehingga akan datang berobat dan menjadi kaya dari kesulitan orang lain.
Dokter adalah pekerjaan, yang kebetulan targetnya adalah manusia. Persis seperti montir bengkel yang berusaha mengatasi kesakitan mesin, dokter juga berusaha mengatasi kesakitan manusia. Pekerjaan tidak terkait dengan perasaan sedih menyaksikan pasien saya kembali datang dengan sesak nafas dan bertemu saya di ruangan intensif.
Tipe pasien kedua adalah pasien yang menelan mentah jawaban saya, kemudian bersembunyi di rumah demi menghindari kekambuhan.
Berhenti makan karena khawatir kolesterolnya naik dan penyumbatannya semakin parah. Berhenti bekerja karena khawatir kecapekan lalu mendapat serangan jantung.
Berhenti berolahaga karena takut meninggal mendadak saat bersepeda. Setiap kekhawatiran tersebut lantas menggumpal dalam pemikiran yang menjadi sugesti setiap nafasnya berat, pasien ini akan semakin kalut dan nadinya naik, tensinya naik, hingga akhirnya beban jantungnya bertambah, dan terjadilah hal yang ia khawatirkan.
Jadi begitulah kenapa saya harus menimbang dengan sangat lama jawaban saya terhadap pertanyaan sederhana tersebut.
Bisakah saya menjanjikan kesembuhan? Etiskah jika saya menjamin kesembuhan? Ini pertanyaan super sulit Saya diceritakan tentang kedatangan seorang penjual obat-obatan herbal, datang dari rumah ke rumah. Menjual herbal yang disebut bisa menghilangkan ketergantungan akan obat.
Membuat pasien sembuh dan hebatnya lagi bisa menyembuhkan dari pangkal sakitnya. Meluruhkan setiap penyumbatan sehingga tidak perlu makan obat yang mengandung kimia. Bahwa obat akan menjadi racun yang merusak badan terutama ginjal.
Mengagumkan bahwa pertanyaan yang sama tentang kesembuhan dapat dijawab dengan sangat ringan oleh sang penjual herbal sementara saya harus berkutat memikirkan jawaban yang tepat, selama bertahun-tahun praktek kedokteran saya.
“Jadi, Dok. Apa saya bisa sembuh?” kembali pasien bertanya sementara saya masih mengumpulkan data tentang penyakitnya. Melakukan pemeriksaan rekam jantung, usg jantung, kadang uji latih lari, kadang sampai kateterisasi. Sedemikian panjang usaha kami untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sebab jawabannya tidak mudah.
Pasien sering menginginkan kepastian padahal jaminan tentang kehidupan tidak pernah berada ditangan kami para dokter. Betapa sering pasien-pasien malah mengejutkan saya dengan kenyataan yang berlawanan dengan penelitian ilmiah. Pasien saya dengan pompa jantung seperlima pompa jantung normal, sanggup hidup,beraktivitas dengan baik. Beliau juga sama sekali tidak mengalami efek samping dari vaksin covid.
Sehingga saat akhirnya terkena Covid 19, pasien tersebut hanya mengalami gejala ringan, sangat ringan mungkin nyaris tidak ada. berbanding terbalik dengan pasien saya yang lain. Pompa jantungnya normal, koronernya normal. Namun sering sekali merasakan nyeri dada serta sesak nafas.
Kenapa sih saya harus bersusah payah untuk menjawab pertanyaan sehari-hari tersebut? Karena saya tidak ingin menjanjikan mimpi, namun juga tidak ingin menjabarkan realita menyakitkan yang menyebabkan putus asa.
Kedokteran adalah sebuah seni. Seni mengobati, seni bercerita, seni menghidupkan semangat tanpa memberitakan kebohongan.
Lalu kenapa saya harus menyampaikan kesulitan saya ini dalam bentuk tulisan? Suruh siapa saya memilih jadi dokter? Carilah pekerjaan lain yang mungkin tidak perlu berpikir sekeras ini.
Daripada berkeluh kesah disini tentang sulitnya menjadi dokter, banting setir saja misal jadi penulis fiksi atau puisi. Terus terang saya memang sempat terpikir dulu untuk jadi penulis, tapi terkena larangan dari ibu tercinta.
Jadi ya di sinilah saya, merasa bahagia dapat menulis untuk menyambut hari jantung sedunia. Itulah sebenarnya mengapa saya menulis tentang ini. Tema hari jantung sedunia tahun ini adalah use heart to connect.
Artinya bisa paralel. Bisa jadi gunakan jantung untuk menghubungkan orang-orang yang juga sakit jantung, orang-orang dengan karakter berbeda, latar belakang Pendidikan dan suku yang berbeda, namun dengan sakit jantung yang sama. Namun sesuai dengan lambang hati yang dicantumkan bersama tema tersebut, maka bisa jadi artinya gunakan hati untuk menghubungkan.
Menghubungkan setiap pasien jantung, menghubungkan antar mereka yang bersama-sama berobat. Ada sebuah komunitas yang terbentuk di depan poli jantung. Mereka yang bertemu setiap bulannya, saling bercerita tentang kehidupan sehari-hari mereka sambil menunggu antrian. Sebuah komunitas yang semoga saling menguatkan.
Tema ini juga bisa saya pergunakan sebagai ‘Gunakan hati untuk menghubungkan, antara saya dan pasien-pasien saya. Antara yang saya tahu, dan yang ingin diketahui pasien-pasien saya.’
“Dok, saya bisa sembuh tidak?” sekali lagi pasien saya bertanya, mulai tidak sabar karena penulis amatir ini tidak pernah kursus menulis sehingga mulai melantur kesana kemari tanpa rancangan yang baik.
Sejujurnya sampai sekarang saya belum menemukan jawaban mudah untuk itu. Maka saya akan balik bertanya pada pasien saya, mencari tahu apa yang mereka harapkan dari saya.
“Sembuh menurut Bapak dan Ibu itu seperti apa?” tanya saya, berusaha menyamakan persepsi tentang kesembuhan. Sebab jaminan kesembuhan tidak pernah berada di tangan saya. Kesembuhan adalah sebuah pemberian dari Sang Pencipta. Dan setiap langkah menuju kesembuhan tersebut, adalah hanya alat mendekati pemberian tersebut. Setiap obat, setiap olahraga, setiap makanan dan minuman yang dibatasi, setiap rokok yang diberhentikan, hanyalah sebuah ikhtiar menuju kesembuhan.
Saya hanya dapat mengobati dengan cara-cara yang kami tahu berdasarkan ilmu yang dibukakan Allah kepada kami para dokter, melalui penelitian panjang serta pengalaman hidup. Hanya itu. Maka jawaban dari pertanyaan pasien itu, berdasar ilmu terbatas yang saya tahu, adalah jawaban panjang berliku-liku, meski saya tahu pasien lebih menginginkan jawaban pasti berupa ya atau tidak.
Saya akan menjawab, jika kesembuhan itu berarti kembali memiliki koroner seperti usia awal kehidupan, mulus tanpa penyumbatan, bebas beraktivitas dan bebas makan apa saja, maka hal tersebut adalah hal yang berlawanan dengan ilmu kedokteran. Bahwa setiap lapisan lemak yang terkumpul puluhan tahun lamanya tidak bisa hilang sim salabim begitu saja.
Bahkan setelah dilakukan pemasangan ring, operasi bedah pintas jantung, maka tetap pasien harus minum obat seumur hidup. Jika kesembuhan artinya berhenti minum obat, maka saya harus memberikan jawaban yang mengecewakan. Tidak.
Pasien jantung koroner tidak boleh berhenti minum obat. Karena setiap obat tersebut adalah seperti oli atau jadwal service mobil pada setiap mesin yang rusak. Kita membutuhkan perawatan untuk setiap hal baik yang kita miliki. Mesin mobil, wajah mulus, juga jantung yang berfungsi.
Untuk itu, pasien jantung tetap harus meminum obat. Untuk mencegah komplikasi yang juga termasuk gagal jantung. Sebab jika sudah gagal jantung, maka yang gagal selanjutnya adalah ginjal. Ginjal dan jantung bersahabat, dan mereka saling menyokong. You jump I jump lah Bahasa anak mudanya.
Jika kesembuhan adalah versi saya, dimana pasien jantung bisa terus berkarya dalam hidupnya, bekerja untuk menghidupi anak istrinya, menikahkan anak perempuannya dengan tanpa sesak dan nyeri dada, insyaallah kita bisa mengusahakan kesembuhan semacam itu. Tentu saja dengan syarat dan ketentuan berlaku.
Kita paham tidak ada yang gratis dalam dunia ini. Semua harus diusahakan. Dan setiap hal yang indah dalam dunia ini, membutuhkan kerja keras dan usaha maksimal. Tidak pernah ada yang bilang ini akan mudah. Namun kesembuhan ini, pastinya akan indah. Selamat hari jantung sedunia, pasien – pasien kesayangan.**
*) Penulis adalah Dokter Jantung RSUD Soedarso, Konsultan Kardiologi Intervensi, Sekretaris PERKI Pontianak.
Editor : Salman Busrah