Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Dewan Pers, Hendry Ch dalam Journalist Fellowship and Training Batch II 2021 Wilayah Kalimantan yang diselenggarakan Badan Penghimpun Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS yang dilaksanakan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada 10-13 November 2021 yang diikuti Pontianak Post secara daring, Jumat (12/11) kemarin.
Namun kampanye hitam terhadap kelapa sawit terus muncul, dari deforestasi, isu kesehatan, hingga hambatan ekspor.
Bangun menyebut, sejumlah aturan ketat terkait lingkungan, tenaga kerja, standar produksi dan lainnya telah membuat perkebunan sawit untuk memenuhi berbagai persyaratan tersebut. Namun serangan terhadap sawit masih terus timbul.
Dia meminta agar para jurnalis untuk peka membaca kondisi dan membuat pemberitaan yang berimbang. " Media harus menyadari perannya untuk melindungi primadona ekspor Indonesia seperti perkebunan kelapa sawit," kata dia.
Menurutnya, kampanye negatif tersebut membuat masyarakat memandang buruk terhadap industri kelapa sawit.
"Isu lingkungan dan lainnya sudah ada sejak bertahun-tahun lalu sehingga imej perkebunan kelapa sawit menjadi buruk. Padahal ini menyangkut devisa negara, ekonomi, kedaulatan pangan dan kedaulatan energi kita. Penting bagi jurnalis untuk melihat dari kacamata yang lebih luas, dan lebih berimbang dalam pemberitaan," sebutnya.
Sementara itu, Ketua Bidang Komunikasi Gapki Tofan Mahdi menyebut, industri kepala sawit menjadi satu dari sedikit sektor ekonomi yang mampu tumbuh dan menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada era pandemi Covid-19 ini. Dimana total ekspor CPO pada tahun 2020 tembus 22,97 juta dolar AS. Sektor ini juga melibatkan 2,3 juta petani dan tenaga kerja 4,4 juta orang. "Jadi kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia sangat besar," ucapnya.
Terlebih belakangan harga tandan buah segar melonjak. Dimana di sejumlah daerah harga TBS nyaris menyentuh Rp3.000 per kilogram. Kenaikan harga TBS ini turut disebabkan oleh pemanfaatan produk sawit untuk campuran BBM dalam program B30 oleh pemerintah.
Ketua Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulis Tjakrawan mengatakan biosolar adalah solusi untuk dua masalah sekaligus, yaitu ketahanan energi dan tuntutan energi hijau. Pada aspek lingkungan hidup, Biosolar memiliki sifat yang tidak beracun dan diproduksi dari tanaman yang berkesinambungan.
Tidak hanya itu, emisi gas rumah kaca yang dihasilkan juga lebih kecil. Sedangkan dari sisi ketahanan energi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil. Mandatori Biosolar juga dapat menghemat devisa dan membuka lapangan pekerjaan.
M
“Biodiesel dari Senyawa Turunan Minyak Sawit dengan bauran 30% (B30) hingga D100 (100 persen nabati) kelak akan memberikan dampak yang luar biasa di semua aspek. Saat ini kita sedang dalam tahap pengkajian untuk B40 (campuran minyak nabati 40 persen dan solar 60 persen),” sebutnya.
Menurutnya, penerapan program biosolar tak hanya akan mengurangi impor BBM, tapi juga akan menghemat devisa negara. "Dampak penurunan ongkos produksi karena pencampuran minyak nabati dengan solar tersebut relatif besar bagi penghematan devisa," pungkasnya.
Sebagai informasi, kegiatan yang diperuntukkan bagi awak media di seluruh Kalimantan ini memang dilakukan secara hybrid dengan melibatkan 20 media secara daring dan 20 media secara luring di Galaxy Hotel, Banjarmasin. (ars) Editor : Yulfi Asmadi