Shando Safela, Manila
Suara klakson mobil saling bersahutan saat taksi yang saya tumpangi berhenti di perempatan. Peminta-minta berusia belia mengintip dibalik kaca, saya hanya bisa melambai, tak memberi apa-apa.
Begitulah sekilas kondisi Manila di pagi hari, saat dimulainya aktivitas kerja dan sekolah. Saya mewakili Pontianak Post untuk meliput langsung kegiatan SEA Games 2019. Di sela waktu kosong, saya menyempatkan diri untuk mengenal sudut Manila lebih dekat.
Manila adalah kota yang menjadi ibukota negara Filipina. Dalam bahasa Tagalog, Manila ditulis dengan Maynila. Orang lokal sendiri, menyebut Manila secara lengkap dengan nama Metro Manila.
Kota Manila terletak di pulau terbesar Filipina, yaitu Pulau Luzon. Dengan populasi lebih dari 10 juta penduduk, menjadikan kota ini sebagai kota metropolitan. Bahkan, saya sendiri menganggapnya sebagai kota kembaran Jakarta. Bayangkan, mulai dari tata kota, kemacetan, moda transportasi, gaya hidup, hingga kuliner pinggir jalan mempunyai karakter yang sama persis.
Turis mancanegara akan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berkunjung ke tempat bersejarah. Salah satu komplek paling bersejarah ada di kawasan Intramuros yang letaknya di Muara Sungai Pasig. Kisah heroik tentang pahlawan besar Filipina, Jose Rizal, tersimpan rapi di komplek kawasan itu. Bangunan paling autentik peninggalan Bangsa Spanyol adalah gereja dan benteng. Keduanya mempunyai gaya arsitektur Eropa yang kental.
Komplek benteng bernama Fort Santiago tersebut, menjadi saksi sejarah kedatangan Spanyol di tahun 1570. Di dalam benteng itu pula Jose Rizal dipenjara, semua peninggalannya tersimpan rapi dan dijadikan museum. Di bagian luar benteng tersebut juga terdapat bangunan, yang pada awalnya adalah sebuah kantor adminsitrasi Spanyol, kemudian digunakan sebagai barak tentara Amerika pada perang dunia kedua dengan latar belakang Sungai Pasig. Seluruh kawasan ini mirip komplek Kota Tua Jakarta yang lengkap dengan bangunan bersejarahnya.
Tak jauh dari komplek benteng, tepat di seberang sungai, adalah kawasan San Nicolas. Kawasan ini merupakan salah satu kawasan yang banyak penduduk miskinnya. Di kawasan ini pula, terdapat pasar terbesar di Manila, namanya Pasar Divisoria.
Divisoria adalah komplek perbelanjaan yang menjual segala macam barang. Bangunan utamanya kerap disebut Mall Divisoria oleh warga setempat.
Di sekeliling mall, terdapat ratusan toko yang menjual aneka macam barang. Mulai dari peralatan bertukang, hingga buah-buahan segar tumpah ruah jadi satu. Butuh waktu seharian penuh untuk mengeksplore kawasan ini. Kawasan ini tak jauh beda dengan kawasan Mangga Dua, yang terbentang dari WTC Mangga Dua hingga Pasar Asemka.
Selain Divisoria, pusat perbelanjaan modern juga banyak terdapat di Metro Manila. Diantaranya yang terbesar adalah Mall of Asia, dan yang paling menarik perhatian adalah Grand Canal Venice.
Untuk mencari hiburan di malam hari, turis dan penduduk lokal biasanya akan pergi ke daerah Makati. Di kawasan ini, deretan bar tempat minum hingga karaoke dengan live musik, buka hingga menjelang pagi. Gadis-gadis cantik Filipina tak mau ketinggalan, mereka tak segan mengajak ngobrol para turis yang datang dari berbagai belahan dunia.
Bagi yang senang berburu kuliner, Manila termasuk salah satu kota yang menyediakan jajanan terbaik. Setiap pojok jalan utama atau jalan kecil, terdapat penjual makanan yang selalu ramai. Selain makanan berat, jajanan ringan seperti kue tradisional, banyak dijual saat pagi hari di setiap halte. Kondisi tersebut mirip dengan Jakarta yang menyediakan beraneka ragam jajanan.
Untuk sistem transportasi, Manila mempunyai kendaraan khas yang mereka sebut Jeepney. Kendaraan unik ini, beroperasi di hampir setiap sudut Manila. Dekorasi yang menarik perhatian, menjadikan kendaraan ini ikon transportasi di Filipina. Selain Jeepney, kendaraan unik lain adalah Tricycle, yaitu motor yang diberi boncengan tambahan untuk penumpang di sampingnya.
Keberadaan MRT di Manila juga sangat berperan penting, setiap saat kondisi MRT tak pernah sepi, selalu berdesakan kemanapun tujuannya.
Untuk transportasi berbasis aplikasi, Manila mempunyai aplikasi lokal bernama Angkas. Aplikasi Angkas, sama persis dengan GoJek di Indonesia. Motor-motor Angkas inilah yang 'menyelamatkan' warga Manila dari kemacetan yang terjadi sepanjang hari.
Kedatangan saya ke Manila hampir tak menemui kesulitan sama sekali. Manila membuat saya familiar dengan sebuah kota yang saya kenal akrab. Seperti yang saya katakan diatas, Manila adalah saudara kembar Jakarta.** Editor : Shando Safela