Raja Charles tampak bingung saat memasuki Istana Buckingham. Raja Charles III didampingi Permaisuri Camilla saat memasuki Istana Buckingham, kemarin.
Setelah berjabat tangan dan menyapa pelayat mendiang Ratu Elizabeth II di luar rumah kerajaan, Charles dan Camilla berjalan di sepanjang gerbang utama untuk penghormatan kepada Ratu yang meninggal di Skotlandia. Setelah itu, Charles dan permaisuri mendekati pintu masuk. Charles terlihat bingung. Keragu-raguan Charles tidak luput dari perhatian.
“Dia sepertinya tidak tahu pintu masuk mana yang harus dilaluinya,” canda seorang reporter BBC. “Dia akan terbiasa dengan itu. Salah pintu,” katanya.
Begitu Charles dan Camilla ditunjukkan melalui gerbang yang benar, pasangan kerajaan itu difoto memasuki istana untuk pertama kalinya sebagai permaisuri raja dan ratu. Pengamat kerajaan di Twitter ikut bereaksi. “Raja Charles telah melewati pintu di Istana,” tulis seorang pengguna.
“Pintunya ada di sebelah kiri, Charles,” canda yang lain.
Charles, 73, terbang kembali ke London dari Skotlandia setelah menghabiskan malam di Balmoral. Dalam sebuah pernyataan, Charles memuji ibunya.
“Kehilangan ibuku tercinta, Yang Mulia Ratu, adalah momen kesedihan terbesar bagi saya dan semua anggota keluarga saya,” tulisnya.
Namun, Charles tidak punya banyak waktu untuk bersedih. Setelah tiba di istana, ia bertemu dengan Perdana Menteri Liz Truss dan merekam pidato kenegaraan.
Raja Charles diproklamasikan secara resmi sebagai penguasa baru Kerajaan Inggris pada Sabtu (10/9) dalam sebuah upacara bersejarah. Proklamasi tersebut juga dibacakan secara terbuka di ibukota-ibukota lain dalam Inggris Raya, yaitu Edinburg di Skotlandia, Belfast di Irlandia Utara, dan Cardiff di Wales, serta beberapa lokasi lainnya.
Sehari sebelumnya, Charles bersumpah untuk melayani bangsa Inggris dengan kesetiaan, kehormatan dan kasih sayang dalam pidato pertamanya sebagai raja. Charles adalah raja dan kepala negara Inggris Raya serta 14 wilayah lain kerajaan itu di dunia, termasuk Australia, Kanada, Jamaika, Selandia Baru, dan Papua Nugini.(jp/ant) Editor : Misbahul Munir S