SEBAGIAN besar korban serangan Israel yang menghantam sebuah sekolah di Kota Gaza pada Sabtu (11/8) dini hari menderita luka parah, termasuk luka bakar di sekujur tubuh dan kehilangan anggota tubuh, dikutip dari ANTARA.
"Hari ini adalah salah satu hari yang paling berat dalam perang yang sedang berlangsung," kata Direktur Rumah Sakit Baptis di Gaza, Fadel Naeem kepada Anadolu.
Naeem menyoroti jumlah korban yang signifikan akibat pembantaian di Sekolah Al-Taba'een.
Ia mengatakan jumlah korban tewas diperkirakan akan meningkat karena banyak korban berada dalam kondisi kritis di ruang operasi rumah sakit.
"Sejauh ini, 70 korban pembantaian telah teridentifikasi, sementara sisanya masih dalam kondisi terpotong-potong sehingga sulit diidentifikasi," ucapnya.
Naeem menjelaskan bahwa Rumah Sakit Baptis, yang merupakan satu-satunya fasilitas medis yang masih beroperasi di Kota Gaza, mengalami kekurangan peralatan kritis karena tidak memiliki pasokan medis dasar serta unit darah yang diperlukan untuk merawat para korban luka.
Ia menyoroti bahwa rumah sakit tersebut menghadapi kesulitan besar dalam menangani pasien yang jumlahnya terus meningkat akibat kekurangan staf medis dan pasokan penting yang semakin parah karena konflik yang telah berlangsung sejak 7 Oktober 2023.
Sebelumnya, Kantor Media Pemerintah di Jalur Gaza melaporkan bahwa tentara Israel "secara langsung menargetkan warga sipil yang sedang mengungsi saat melaksanakan salat subuh, yang menyebabkan peningkatan jumlah korban.
"secara langsung menargetkan warga sipil yang mengungsi saat melaksanakan salat subuh, (yang) menyebabkan penambahan dalam jumlah korban."
Meskipun ada seruan dari para mediator, termasuk Mesir, AS, dan Qatar pada hari Kamis untuk menghentikan permusuhan, mencapai gencatan senjata, dan perjanjian pertukaran sandera, Israel tetap melanjutkan serangan intensif di Jalur Gaza.
Sejak Oktober lalu, serangan Israel terhadap Jalur Gaza telah menyebabkan sekitar 39.800 orang tewas setelah serangan lintas perbatasan oleh kelompok perlawanan Palestina, Hamas.
Israel kini dituduh melakukan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ), yang telah memerintahkannya untuk segera menghentikan operasi militer di kota selatan Rafah, tempat lebih dari 1 juta warga Palestina mencari perlindungan dari perang sebelum serangan pada 6 Mei.(jp)
Editor : Miftahul Khair