Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Senator Demokrat Ajukan Pemakzulan, PBB Minta Trump Patuhi Hukum Internasional

A'an • Jumat, 7 Februari 2025 | 10:11 WIB
SEGERA PULANG: Sambil berkerumun di api unggun di dekat tenda kamp pengungsi di Deir al-Balah, Mohammed dan keluarganya mengaku gembira saat mengetahui akan segera pulang ke rumah.
SEGERA PULANG: Sambil berkerumun di api unggun di dekat tenda kamp pengungsi di Deir al-Balah, Mohammed dan keluarganya mengaku gembira saat mengetahui akan segera pulang ke rumah.

 

PONTIANAK POST – Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat banyak orang bereaksi. Ambisi dia untuk menguasai Gaza, Palestina, ditentang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Bahkan, senator Demokrat berencana mengajukan pemakzulan atas Trump.

’’Sangat penting untuk tetap berpegang pada dasar hukum internasional, menghindari segala bentuk pembersihan etnis,’’ kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres melalui X.

Pelapor Khusus PBB untuk Palestina Francesca Albanese mengkritik langkah Trump. Albanese menilai Trump telah menyatakan niat untuk melakukan kejahatan upaya pemindahan paksa dan menggunakan kekerasan terhadap rakyat Palestina. Padahal, rakyat Palestina berhak menentukan nasib mereka sendiri. ’’(Trump) melanggar piagam PBB, yang sama dengan agresi,’’ kata Albanese melalui X.

Dilansir dari AFP, Kepala Badan Pengungsi PBB (UNHCR) Filippo Grandi ingin melihat secara konkret rencana Trump yang menyebut akan mengambil alih Gaza.

’’Ini merupakan sesuatu yang mengejutkan,’’ katanya. Selain itu, Grandi juga tengah berupaya untuk bernegosiasi ulang atas keputusan Washington yang menarik bantuan ke lembaga internasional. Pasalnya, 40 persen pendanaan UNHCR berasal dari AS.

Dari Negeri Paman Sam sendiri, rencana Trump itu membuat senator Demokrat perwakilan Texas Al Green mengusulkan kepada DPR Amerika untuk memakzulkan Trump. Menurut dia, usulan Trump merupakan perbuatan pengecut dan pembersihan etnis. ’’Ini adalah perbuatan keji,’’ kata Green seperti dilansir The Guardian.

’’Pembersihan etnis di Gaza bukanlah lelucon. Terutama jika berasal dari presiden Amerika Serikat,’’ katanya. Green menambahkan, seharusnya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu malu. Netanyahu ada saat Trump menyatakan keinginannya menguasai Gaza. ’’Ketidakadilan di Gaza merupakan ancaman bagi keadilan di Amerika Serikat,’’ imbuhnya.

Green dikenal getol mengkritik Trump sejak periode pertama berkuasa. Partai Demokrat sendiri sedang meningkatkan perlawanan terhadap rezim periode kedua Trump. Banyak kebijakan Trump yang dinilai kacau. ’’Gerakan pemakzulan akan menjadi gerakan yang bersifat sukarela. Bukan dari atas ke bawah,’’ ungkap Green.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis mengatakan bahwa Jalur Gaza akan diserahkan ke AS oleh Israel di akhir pertempuran dan menyatakan "tidak akan ada tentara AS yang diturunkan."

Pernyataan itu diunggah Trump di akun Truth Social, dengan menyebutkan bahwa di akhir pertempuran, "Warga Palestina, orang-orang seperti Chuck Schumer, sudah akan dimukimkan kembali di komunitas yang jauh lebih aman dan lebih indah, dengan rumah-rumah baru dan modern, di wilayah tersebut.”

Dia juga mengklaim bahwa warga Palestina akan mendapatkan "kesempatan hidup bahagia, aman dan bebas" melalui skema relokasi yang diusulkannya, dengan merencanakan warga Palestina mengungsi ke Mesir dan Yordania.

"AS, yang bekerja sama dengan tim-tim pembangunan hebat dari seluruh dunia, akan perlahan-lahan dan hati-hati memulai pembangunan yang kelak akan menjadi salah satu pembangunan terbesar dan paling spektakuler di dunia," kata Trump.

Dengan menyatakan bahwa tidak diperlukan tentara AS untuk upaya-upaya ini, Trump mengklaim bahwa tindakan-tindakan ini akan membawa stabilitas ke kawasan tersebut. (lyn/c6/bay/ant)

Editor : A'an
#pbb #palestina #donald trump