PONTIANAK POST – Kanselir Jerman Olaf Scholz menyoroti kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) terkait situasi di Gaza, Palestina. Scholz menyebut rencana Presiden AS Donald Trump untuk mencaplok wilayah Gaza sebagai bentuk pelanggaran hukum internasional.
Dilansir dari AFP, kemarin (10/2), Scholz yang berbicara dalam debat TV prapemilu menyebut rencana itu sebagai ’’skandal’’. ’’Relokasi populasi tidak dapat diterima dan melanggar hukum internasional,’’ ujar Scholz pada Minggu (9/2).
Pesaing Scholz yang konservatif Friedrich Merz mengaku sependapat dengan penilaian itu. Namun, Merz menambahkan bahwa pengumuman Trump adalah ’’bagian dari serangkaian proposal yang datang dari pemerintah Amerika’’.
’’Kita harus menunggu dan melihat apa yang sebenarnya dimaksud dengan serius dan bagaimana itu akan dilaksanakan. Mungkin ada banyak retorika yang terlibat,’’ katanya.
Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada Minggu bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki kekuatan untuk mengusir warga Gaza dari tanah air mereka. Kendati Gaza saat ini hancur akibat perang, Erdogan menolak rencana Donald Trump untuk mengusir warga Palestina dan membiarkan AS mengambil alih kendali.
"Tidak ada seorang pun yang memiliki kekuatan untuk mengusir warga Gaza dari tanah air abadi mereka yang telah ada selama ribuan tahun,’’ katanya dalam konferensi pers larut malam di bandara Istanbul sebelum terbang ke Malaysia. ’’Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur adalah milik warga Palestina,’’ lanjutnya.
Usulan Trump untuk mengusir lebih dari dua juta warga Palestina yang tinggal di Gaza dan membangunnya kembali demi kepentingan bisnis memicu reaksi global. Sikap Trump memicu kemarahan dunia Arab dan muslim.
’’Proposal-proposal tentang Gaza yang diajukan oleh pemerintahan baru AS di bawah tekanan dari para pemimpin Zionis tidak ada yang layak dibahas dari sudut pandang kami,’’ lanjut Erdogan.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu malah memuji Trump setinggi langit. Dia menilai Trump datang dengan visi yang sama sekali berbeda dan jauh lebih baik untuk Israel. ’’Pendekatan revolusioner dan kreatif yang saat ini sedang kita bahas,’’ kata dia.
Kepala Hamas di Gaza Khalil al-Hayya menegaskan bahwa rencana Trump untuk Jalur Gaza akan gagal. ’’Kami akan menghancurkan mereka sebagaimana kami menghancurkan proyek-proyek sebelum mereka,’’ katanya saat memperingati ulang tahun ke-46 revolusi Iran di Teheran.
Hamas, yang telah menjadi satu-satunya penguasa di Jalur Gaza sejak 2007, sebelumnya mengatakan bahwa rencana Trump akan ’’menambah minyak ke dalam api’’ di wilayah tersebut. (lyn/c6/bay)
Editor : A'an