PONTIANAK POST - Klaim Donald Trump bahwa pusat pengayaan nuklir Iran hancur akibat serangan AS kembali diragukan. Kali ini, beredar kabar dari intelijen Eropa bahwa sebagian besar stok uranium Iran masih utuh. Serangan AS ke tiga lokasi, yakni Fordo, Natanz, dan Isfahan, tidak menyebabkan kerusakan signifikan.
Dilansir dari Euronews, seorang pejabat Eropa yang enggan disebutkan namanya menyatakan, Fordo bukan penyimpanan uranium Iran. Sebab, sebelum serangan militer AS pada Minggu (22/6), sebagian besar uranium sudah dipindah. Semula, Iran diprediksi punya 408,6 kilogram uranium. Jumlah itu cukup untuk memproduksi sekitar sepuluh bom nuklir. Namun, Trump mengklaim bahwa cadangan uranium Iran telah jauh berkurang akibat serangan militer AS.
Sehari setelah serangan itu, CNN dan New York Times memuat berita bahwa klaim Trump itu tidak benar. Dua media itu mengaku mendapat informasi dari orang dalam Pentagon bahwa bom-bom AS tak mampu menjangkau tempat penyimpanan uranium di bawah tanah. Bombardir itu hanya merusak struktur bangunan di permukaan.
Dikutip dari France24, sebelum serangan AS, laporan citra satelit menunjukkan adanya aktivitas mencurigakan di sekitar fasilitas nuklir Fordo. Keanehan lainnya yang disebutkan Maxar Technologies adalah kehadiran truk dan buldozer beberapa hari sebelum serangan AS.
Menurut Maxar Technologies, pintu masuk ke kompleks bawah tanah tampak ditutup rapat menggunakan tanah. Analis menduga, Iran mungkin menggunakan kesempatan itu untuk menyembunyikan cadangan uraniumnya. ”Jika benar cadangan itu telah dipindahkan ke tempat tersembunyi, pemantauan dan verifikasi oleh komunitas internasional akan menjadi sangat sulit,” ujar Ludovica Castelli dari Istituto Affari Internazionali.
Walaupun AS dan Israel mengklaim telah menghantam fasilitas pengayaan tersebut, tidak ada bukti kuat bahwa cadangan uranium di dalamnya ikut hancur. Direktur IAEA Rafael Grossi mengatakan bahwa sentrifus di Fordo kini tidak berfungsi. Namun, masih ada kemungkinan Iran memiliki kapasitas pengayaan di lokasi lain yang belum terdeteksi seperti kompleks bawah tanah dekat Natanz.
Pakar nuklir Hans-Jakob Schindler memperingatkan bahwa pengetahuan ilmuwan Iran tetap utuh meski fasilitas rusak. ”Anda tidak bisa mengebom pengetahuan,” katanya. (lyn/oni)
Editor : Hanif