PONTIANAK POST – Harapan untuk mencapai gencatan senjata di Gaza kian dekat. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahkan menyebut kesepakatan antara Israel dan Hamas sudah sangat dekat.
Trump telah mengirim dua utusannya ke Mesir guna membahas rincian akhir perundingan. Pertemuan itu dihadiri pula perwakilan Hamas dan Israel. Gedung Putih menyebut, menantu Trump, Jared Kushner, dan penasihat senior Steve Witkoff telah dikirim ke Kairo, Mesir, pada Sabtu (4/10). Mereka akan menyelesaikan rincian teknis pembebasan warga Israel yang disandera Hamas. Mereka juga akan membahas kesepakatan gencatan senjata permanen, seperti dikutip dari The Guardian, Minggu (5/10).
Pada Jumat (3/10), Hamas disebut telah menerima beberapa poin utama dari 20 poin perdamaian yang diajukan Trump. Termasuk soal penghentian perang, penarikan Israel, serta pembebasan sandera Israel dan tahanan Palestina.
Namun, kelompok itu masih menyisakan sejumlah isu untuk dinegosiasikan lebih lanjut. Khususnya soal pelucutan senjata. ''Kita sudah sangat dekat untuk mencapai kesepakatan,'' kata Trump.
Namun, menjelang gencatan senjata, Israel tetap melancarkan serangan ke Gaza. Puluhan warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan Israel pada Sabtu dan Minggu. Padahal, pada Sabtu, Trump telah secara jelas menyerukan agar Israel menghentikan pengeboman sebagai tanggapan atas deklarasi Hamas.
Sedikitnya 17 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, tewas dalam serangan Israel terhadap sebuah rumah di lingkungan al-Tuffah, Kota Gaza, pada Sabtu malam, dilansir dari kantor berita resmi Palestina, Wafa. Sekitar 20 orang lainnya dilaporkan hilang di bawah reruntuhan dan puluhan terluka.
Sebelumnya, pada hari yang sama, drone Israel menargetkan sekelompok warga di dekat sebuah toko roti di pusat Kota Gaza. Serangan itu menewaskan puluhan orang.
Bukan itu saja. Sedikitnya enam warga sipil Palestina, termasuk dua anak-anak, juga tewas dalam serangan terpisah terhadap sebuah rumah di Kota Gaza dan tenda pengungsi di al-Mawasi, wilayah yang sebelumnya telah ditetapkan Israel sebagai “zona aman.”
Merespons serangan ini, Hamas mengatakan, kelanjutan pemboman dan pembantaian oleh para zionis ini menunjukkan kebohongan PM Israel Netanyahu tentang pengurangan operasi militer terhadap warga sipil.
Sebelumnya, radio militer Israel melaporkan bahwa operasi di Gaza akan dikurangi hingga minimum. Pasukan hanya diperintahkan melakukan serangan defensif.
Greta Thunberg Dipaksa Cium Bendera Israel
Israel masih menahan ratusan aktivis yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla (GSF). Termasuk aktivis lingkungan Greta Thunberg. Selama ditahan, Thunberg ternyata mengalami hal-hal kejam. Kepada pejabat Swedia, ia mengaku mengalami perlakuan keras selama berada dalam tahanan Israel. Dia bersama sejumlah aktivis lain dibajak oleh pasukan militer Israel dalam perjalanannya membawa bantuan ke Gaza.
Dalam sebuah email yang dikirim oleh Kementerian Luar Negeri Swedia kepada orang-orang terdekat Thunberg, dan dilihat oleh The Guardian, seorang pejabat yang telah mengunjungi aktivis itu di penjara mengatakan bahwa Thunberg mengaku ditahan di sel yang dipenuhi kutu kasur. Tragisnya lagi, ketersediaan makanan dan air sangat sedikit.
Tak hanya itu, berdasarkan korespondensi yang dilihat tersebut, pasukan Israel juga dilaporkan oleh seorang tahanan lain telah mengambil foto di mana Thunberg diduga dipaksa memegang beberapa bendera. “Kedutaan telah berhasil bertemu dengan Greta. Ia melaporkan mengalami dehidrasi. Ia berbicara tentang perlakuan keras dan mengatakan bahwa ia harus duduk dalam waktu lama di permukaan yang keras,” tulis email tersebut.
Penyiksaan ini pun diamini sejumlah aktivis internasional yang telah dilepaskan dan dideportasi dari Israel. Mengutip dari Al Jazeera, Minggu (5/10), mereka menyebut Thunberg mengalami perlakuan buruk selama penahanan. Setidaknya 137 orang, termasuk 36 warga negara Turki yang telah dideportasi tiba di Istanbul pada Sabtu.
Jurnalis Turki sekaligus peserta GSF, Ersin Celik mengatakan kepada media lokal, bahwa ia menyaksikan pasukan Israel menyiksa Greta Thunberg. Ia bahkan menggambarkan bagaimana aktivis muda itu diseret di tanah dan dipaksa mencium bendera Israel.
Hal ini diamini oleh Aktivis asal Malaysia Hazwani Helmi dan peserta asal Amerika Serikat Windfield Beaver. Mereka menyebut Thunberg didorong dan dipaksa berpose dengan bendera Israel. “Itu sangat mengerikan. Mereka memperlakukan kami seperti binatang,” ujar Helmi. (mia/oni)
Editor : Hanif