PONTIANAK POST - Kecurigaan itu akhirnya menjadi kenyataan. Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang selama berbulan-bulan hidup dalam bayang-bayang penangkapan, akhirnya benar-benar dijemput pasukan elite Amerika Serikat (AS) dalam sebuah operasi militer senyap yang mengguncang dunia.
Jauh sebelum borgol terpasang di pergelangan tangannya, Maduro disebut sudah diliputi firasat buruk. Ketegangan yang terus meningkat antara Caracas dan Washington membuatnya yakin nyawanya berada dalam ancaman.
Ia dikabarkan rutin mengganti ponsel setiap kali selesai menelepon, demi menghindari pelacakan intelijen AS. Bahkan, Maduro disebut berpindah-pindah kamar tidur setiap malam. Dari ruang tamu, dapur, hingga gudang. Maduro takut serangan mendadak menghantam kediamannya.
Sumber yang dikutip New York Post menyebut Maduro hampir tak pernah tidur nyenyak dalam beberapa pekan terakhir. Ia juga diyakini telah meninggalkan Istana Miraflores dan memilih bersembunyi di La Vineta, hunian superketat di dalam kompleks militer Fuerte Tiuna, Caracas.
Kecemasan itu berakar dari tekanan terbuka Presiden AS Donald Trump. Sejak berbulan-bulan lalu, Trump mengultimatum Maduro untuk mundur dan meninggalkan Venezuela. Dalihnya perang melawan narkoba. Namun banyak pihak menilai operasi antinarkoba besar-besaran AS hanyalah pintu masuk untuk satu tujuan utama, menjatuhkan Maduro dan menguasai cadangan minyak terbesar di dunia.
Tekanan Washington bukan sekadar retorika. Sejak 2020, Maduro telah didakwa di pengadilan federal Manhattan atas tuduhan konspirasi narkoterorisme dan penyelundupan kokain. AS bahkan memasang sayembara hingga US$ 50 juta bagi siapa pun yang membantu penangkapannya. Pada Agustus 2025, jaksa AS menyita aset-aset yang diduga terkait Maduro senilai sekitar US$ 700 juta, termasuk vila mewah di Republik Dominika dan sejumlah properti di Florida.
Salah satu properti yang disorot adalah vila tepi laut seluas 3.000 meter persegi di Republik Dominika, bernilai sekitar US$ 18 juta atau hampir Rp 300 miliar. Vila dengan sembilan kamar tidur, kolam renang, helipad, hingga pengamanan superketat itu menjadi simbol kontras antara gaya hidup mewah Maduro dan krisis yang mendera rakyat Venezuela.
Puncaknya terjadi pada Sabtu (3/1). Di bawah sandi Operation Absolute Resolve, Trump memberi perintah terakhir dari kediamannya di Mar-a-Lago, Florida. Dalam hitungan jam, sekitar 150 pesawat tempur AS, termasuk F-35, F-22, dan pembom B-1, menggempur target pertahanan Venezuela untuk membuka jalan. Sedikitnya 40 orang termasuk personel militer dan warga sipil tewas dalam serangan tersebut.
Di tengah kekacauan udara, pasukan Delta Force bergerak senyap menuju Caracas. CIA disebut telah mengirim tim intelijen sejak Agustus 2025 untuk mempelajari kebiasaan Maduro, bahkan membangun replika rumah amannya sebagai sarana latihan. Hasilnya: operasi berjalan presisi.
Menjelang pukul 01.00 dini hari, helikopter pasukan elite mendarat di lokasi yang disebut Trump “lebih mirip benteng daripada rumah.” Pintu-pintu baja, ruang aman berdinding baja solid, dan penjagaan ketat tak cukup menyelamatkan Maduro. Ia dan istrinya, Cilia Flores, disergap di kamar tidur sebelum sempat mencapai ruang aman.
“Mereka diserang begitu cepat. Semua yang mereka latih berjalan sempurna,” ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News. Maduro kemudian diterbangkan dengan helikopter ke kapal serbu amfibi USS Iwo Jima, sebelum dibawa ke New York untuk menghadapi pengadilan federal Manhattan.
Bahkan, Trump mengatakan pihaknya sempat mempertimbangkan kemungkinan membunuh Presiden Venezuela Nicolas Maduro saat operasi penangkapannya, sebuah pernyataan yang memicu sorotan internasional.
Jaksa Agung AS Pam Bondi menyatakan Maduro akan diadili atas dakwaan berat, mulai dari konspirasi narkoterorisme, impor kokain, hingga kepemilikan senjata ilegal. Tuduhan yang selama ini selalu dibantah Maduro itu kini memasuki babak penentuan.
Bagi Washington, penangkapan ini disebut sebagai kemenangan besar dalam perang melawan narkoba. Namun bagi Venezuela, penahanan Maduro membuka babak baru yang penuh ketidakpastian. Siapa yang akan mengisi kekosongan kekuasaan, dan sejauh mana AS akan ikut campur menentukan masa depan negara itu. (ant/jpc)
Editor : Hanif