PONTIANAK POST - Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro membuka babak baru intervensi Amerika Serikat. Hanya beberapa jam setelah Maduro ditangkap, Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan ia akan mengelola langsung Venezuela. Hal itu dilakukan sampao menunggu transisi pemerintahan selanjutnya.
Ia juga menyebut akan mengambil alih perbaikan dan pengelolaan aset minyak negara itu. Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam konferensi pers di klub Mar-a-Lago, Florida, Sabtu (3/1/2026). Trump menyebut kekosongan kepemimpinan di Venezuela sebagai peluang untuk “memperbaiki” industri minyak yang selama ini dinilai gagal total, lalu menjual hasilnya ke pasar internasional.
“Kami akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, dan memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak,” ujar Trump, seperti dikutip Antara.
Trump menegaskan, langkah tersebut bukan sekadar pemulihan teknis, melainkan bagian dari rencana besar AS dalam mengelola sektor strategis Venezuela pascaserangan dan penangkapan Maduro. Menurutnya, industri minyak negara Amerika Selatan itu telah terpuruk dalam waktu sangat lama dan membutuhkan intervensi besar. “Kami akan memperbaiki infrastruktur minyak dan mulai menghasilkan uang untuk negara itu,” kata Trump, Minggu (4/1/2026).
Venezuela sendiri merupakan salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Data US Energy Information Administration (EIA) mencatat, negara itu memiliki sekitar 303 miliar barel cadangan minyak mentah, setara dengan hampir 20 persen sumber daya minyak global. Fakta ini membuat setiap gejolak politik dan militer di Venezuela berpotensi mengguncang pasar energi dunia.
Dalam pengelolaan sektor minyak tersebut, Trump mengklaim telah menyiapkan sebuah mekanisme yang ia sebut sebagai “sekelompok orang”. Namun, ia tidak merinci siapa saja yang terlibat maupun bagaimana struktur pengelolaannya. “Kami akan mengelolanya dengan sebuah kelompok, dan kami akan memastikan semuanya dijalankan dengan benar,” ujarnya.
Saat ditanya soal kemungkinan keterlibatan pemerintah Venezuela dalam skema tersebut, Trump menyebut Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah berkomunikasi dengan Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez. Trump mengklaim Rodríguez bersedia memenuhi permintaan AS.
Klaim ini bertolak belakang dengan pernyataan Rodríguez sebelumnya. Usai penangkapan Maduro, Rodríguez menegaskan Maduro tetap merupakan satu-satunya presiden Venezuela dan menyatakan pemerintah siap mempertahankan diri dari agresi asing.
Di tengah ketegangan tersebut, kekhawatiran global sempat mengarah pada potensi lonjakan harga minyak dunia. Namun, sumber dari perusahaan minyak negara Petróleos de Venezuela, S.A. (PDVSA) menyebutkan bahwa produksi dan penyulingan minyak tetap beroperasi normal pada Sabtu (3/1/2026) dan tidak mengalami kerusakan.
Pelabuhan La Guaira di dekat Caracas yang menjadi salah satu target serangan AS memang dilaporkan mengalami kerusakan parah. Meski demikian, pelabuhan tersebut tidak digunakan untuk ekspor minyak, sehingga tidak berdampak langsung pada distribusi energi global.
Minta Maduro Dipulangkan
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat memicu krisis politik di dalam negeri Amerika Latin tersebut. Presiden AS Donald Trump menegaskan dirinya tidak berkoordinasi dengan tokoh oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, dalam penangkapan tersebut.
“Tidak,” jawab Trump singkat saat ditanya wartawan apakah ia berhubungan dengan Machado selama operasi berlangsung. Trump bahkan meragukan peluang Machado memimpin Venezuela.
“Akan sangat sulit baginya menjadi pemimpin. Dia tidak mendapat dukungan atau rasa hormat di dalam negerinya. Dia perempuan yang sangat baik, tetapi tidak mendapat rasa hormat,” ujar Trump kepada wartawan, Sabtu.
Di Venezuela, Mahkamah Agung mengambil langkah cepat. Melalui putusan Kamar Konstitusional yang dibacakan ketuanya, Caryslia Beatriz Rodríguez, pengadilan memerintahkan Wakil Presiden Delcy Rodríguez untuk menjabat sebagai presiden sementara.
“Mengingat situasi luar biasa akibat penculikan Presiden Nicolás Maduro Moros yang tidak memungkinkannya menjalankan fungsinya, Wakil Presiden Eksekutif Republik diperintahkan untuk sementara menjalankan seluruh kewenangan Presiden,” kata Caryslia dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah VTV.
Mahkamah Agung menyatakan kondisi tersebut merupakan keadaan luar biasa dan force majeure yang tidak secara eksplisit diatur dalam konstitusi, namun mengancam stabilitas negara, keamanan nasional, dan keberlangsungan pemerintahan. Pengadilan menegaskan langkah itu diambil sebagai tindakan darurat dan preventif.
Di sisi lain, pemerintah Venezuela mengaku tidak mengetahui keberadaan Maduro dan menuntut bukti bahwa presiden mereka masih hidup. Menanggapi hal tersebut, Trump kemudian mengunggah sebuah foto yang diklaim memperlihatkan Maduro berada di atas kapal milik AS. Keaslian dan konteks foto itu belum diverifikasi secara independen.
Klaim penangkapan Maduro memicu kecaman luas. Sejumlah anggota Kongres AS, baik dari Partai Demokrat maupun Republik, menyebut operasi tersebut ilegal dan berpotensi melanggar hukum internasional. Meski demikian, pemerintah AS menegaskan Maduro akan diadili.
Menteri Luar Negeri Venezuela Iván Gil menilai tindakan Washington telah mengguncang stabilitas kawasan. Dalam wawancara dengan kantor berita Rusia, RIA Novosti, Gil mengatakan perdamaian Amerika Latin “terganggu” oleh klaim serangan AS, yang ia sebut sebagai ancaman serius bagi stabilitas regional.
Kementerian Luar Negeri Venezuela juga mengumumkan rencana mengajukan pengaduan ke berbagai organisasi internasional dan mendesak Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat untuk membahas tindakan AS.
Dari Moskow, Rusia menyatakan solidaritas terhadap rakyat Venezuela. Pemerintah Rusia mengaku sangat prihatin atas laporan bahwa Maduro dan istrinya dipindahkan secara paksa sebagai bagian dari agresi AS. Moskow menyerukan pembebasan Maduro dan Cilia Flores serta meminta agar eskalasi lebih lanjut dapat dicegah.
Sementara itu, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez menegaskan bahwa Maduro tetap merupakan satu-satunya presiden sah negara tersebut.
“Hanya ada satu presiden di negara ini, namanya Nicolás Maduro Moros,” kata Rodríguez dalam pertemuan Dewan Pertahanan.
Rodríguez juga mendesak agar Maduro dan istrinya segera dikembalikan ke Caracas. Ia memperingatkan bahwa apa yang dialami Venezuela dapat terjadi pada negara mana pun di kawasan Amerika Latin. “Apa yang dilakukan terhadap Venezuela hari ini bisa terjadi pada negara mana pun. Penggunaan kekuatan ini dapat diarahkan ke siapa saja,” ujarnya. (jpc/ant)
Editor : Hanif