PONTIANAK POST – Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak. Iran resmi menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan besar-besaran Israel ke Lebanon pada Rabu.
Langkah Teheran ini menjadi ancaman serius bagi gencatan senjata dua minggu yang baru saja diumumkan Presiden AS Donald Trump. Teheran mengancam akan menarik diri dari kesepakatan jika sekutu AS tersebut terus menggempur Hizbullah.
Di saat yang sama, PM Inggris Sir Keir Starmer tiba di Arab Saudi. Ia berupaya menyelamatkan kesepakatan gencatan senjata yang disebut Wakil Presiden AS JD Vance sebagai perjanjian yang "rapuh".
Baca Juga: Serangan Israel di Lebanon Picu Amarah Dunia, 254 Orang Tewas dan 1.165 Luka
Kontroversi Gencatan Senjata Trump dan Serangan Lebanon
Kebingungan melanda terkait cakupan kesepakatan gencatan senjata. Israel mengeklaim Lebanon tidak termasuk dalam draf gencatan senjata, namun mediator Pakistan berkata sebaliknya.
Berikut adalah poin-poin utama eskalasi terbaru:
-
Serangan Kilat: Israel menggempur 100 situs di Beirut dan Lembah Beqaa hanya dalam waktu 10 menit.
-
Korban Jiwa: Sedikitnya 254 orang tewas dan seribuan lainnya luka-luka akibat pengeboman terdahsyat sejak awal perang ini.
-
Blokade Iran: Jalur utama minyak dunia, Selat Hormuz, kini ditutup total oleh militer Iran.
PM Benjamin Netanyahu menegaskan pasukannya akan terus bergerak. "Gencatan senjata tidak akan diperluas ke operasi militer di Lebanon," tegas kantor Netanyahu.
Baca Juga: Serangan Israel di Lebanon Tewaskan 254 Orang Usai Gencatan Senjata
Starmer Turun Tangan Amankan Selat Hormuz
PM Inggris Keir Starmer mengakui masih banyak hambatan untuk mengamankan perdamaian permanen. Saat ini, Inggris fokus bekerja sama dengan negara-negara Teluk untuk meredakan situasi.
"Masih banyak pekerjaan. Tugas kita adalah bekerja sama di kawasan, tidak hanya menghentikan peperangan, tapi juga membuka kembali Selat Hormuz," ujar Starmer di Arab Saudi sebagaimana dilansir mirror.uk.
Starmer juga menegaskan komitmennya untuk tidak menyeret Inggris ke dalam perang. Sikap ini kabarnya membuat hubungannya dengan Donald Trump mengalami tekanan besar.
Baca Juga: Gencatan Senjata AS-Iran: Trump Klaim Lebanon Tak Masuk Kesepakatan
Eskalasi di Lebanon dan Ancaman Iran
Iran menganggap serangan Israel di Lebanon sebagai pelanggaran nyata terhadap draf perdamaian yang diusulkan AS. Sumber internal menyebut Teheran sedang meninjau ulang posisi mereka dalam perjanjian tersebut.
"Iran akan menarik diri jika pelanggaran oleh Israel terus berlanjut dengan serangan ke Lebanon," lapor layanan berita TRT World.
Kini, bola panas berada di tangan Amerika Serikat. Dunia menunggu apakah Trump mampu menekan Israel atau gencatan senjata ini akan hancur total dalam hitungan hari.(ron)
Editor : Uray Ronald