PONTIANAK POST – Pengadilan Distrik Yerusalem memastikan persidangan korupsi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akan berlanjut pada Minggu ini. Keputusan ini keluar setelah otoritas mencabut pembatasan darurat pasca-konflik dengan Iran.
Sistem peradilan Israel kini kembali beroperasi normal. Sidang hari Minggu besok dijadwalkan untuk mendengar kesaksian dari saksi pihak pembela.
Sebelumnya, aktivitas pengadilan sempat terhenti akibat eskalasi militer. Namun, gencatan senjata antara AS dan Iran memicu pembukaan kembali berbagai fasilitas publik.
Update Kasus Korupsi Benjamin Netanyahu
Netanyahu menghadapi tiga dakwaan besar sejak 2019, yakni suap, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan. Ia dituduh menerima hadiah mewah senilai US$260.000 dari pengusaha kaya.
Selain itu, ia diduga mengatur pemberitaan positif pada media lokal demi kepentingan politik. Netanyahu sendiri konsisten membantah dan menyebut kasus ini sebagai "persidangan politik."
Baca Juga: Selat Hormuz Dibuka Iran dengan Jalur Aman, Israel Justru Gempur Lebanon Habis-habisan
Mantan Presiden AS, Donald Trump, sempat mengintervensi dengan mendesak Presiden Isaac Herzog untuk memberi pengampunan. Pengacara Netanyahu juga sudah mengajukan permohonan grasi resmi.
Gencatan Senjata dan Tekanan dari Iran
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyentil kelanjutan sidang ini melalui platform X. Ia menyebut perdamaian di kawasan justru akan menyulitkan posisi Netanyahu. Araghchi, mengindikasikan bahwa Benjamin Netanyahu sengaja menghalangi upaya gencatan senjata demi menghindari persidangan korupsinya.
Ia juga mendesak Donald Trump agar tidak membiarkan ekonomi AS "hancur" dengan membiarkan Perdana Menteri Israel tersebut merusak upaya diplomatik untuk menghentikan perang.
"Persidangan kriminal Netanyahu dilanjutkan hari Minggu. Gencatan senjata kawasan, termasuk di Lebanon, akan mempercepat pemenjaraannya," tegas Araghchi.
Di sisi lain, Israel kini mulai melirik negosiasi langsung dengan Lebanon. Langkah ini diambil di tengah gencatan senjata dua minggu yang masih cukup rapuh.
Baca Juga: Respons Serangan Israel ke Lebanon, Selat Hormuz Ditutup Iran, Gencatan Senjata Trump di Ujung Tanduk
Rencana Negosiasi dengan Lebanon
Netanyahu mengaku sudah menginstruksikan kabinetnya untuk segera memulai pembicaraan dengan Lebanon. "Saya perintahkan kabinet untuk bernegosiasi sesegera mungkin," ungkap pernyataan resmi kantornya.
Fokus utama pertemuan ini adalah membahas perlucutan senjata Hizbullah. Selain itu, kedua negara akan menjajaki kemungkinan kesepakatan damai jangka panjang.
Diskusi tingkat tinggi tersebut rencananya akan digelar di Washington pada pekan depan. Ini menjadi momen krusial bagi stabilitas politik Netanyahu dan keamanan regional.(ron)