PONTIANAK POST – Presiden AS Donald Trump menegaskan akan membuka kembali Selat Hormuz secepatnya. Ia berjanji jalur perdagangan tersebut akan terbuka dengan atau tanpa bantuan dari pihak Iran.
Pernyataan keras ini muncul menjelang perundingan damai di Pakistan. Trump optimistis proses pembukaan jalur distribusi minyak tersebut akan berjalan sangat cepat.
"Kami akan membuka teluk itu dengan atau tanpa mereka. Jika perundingan gagal, kami yang akan menyelesaikannya," tegas Trump kepada pers di Washington.
Laporan CNBC menyebutkan Selat Hormuz mengalami gangguan parah sejak konflik pecah pada Februari 2026. Jalur ini merupakan urat nadi kritis bagi pasokan minyak dan gas global.
Meskipun ada status gencatan senjata, lalu lintas kapal di lokasi tersebut masih sangat minim. Hanya beberapa kapal, sebagian besar bukan pengangkut minyak, yang melintas melalui rute yang disetujui Iran. Iran dikabarkan menangguhkan lalu lintas kapal tanker menyusul serangan Israel ke Lebanon.
Baca Juga: Konflik AS-Iran: Trump Ancam 'Pemusnahan Total' Jika Perundingan Damai Gagal
Beberapa kapal bahkan dilaporkan membayar biaya lintas dalam bentuk mata uang kripto demi jaminan keamanan. Saat ini, sekitar 2.000 kapal terdampar di sekitar Selat Hormuz dan memicu penumpukan logistik yang masif.
"Target utama kita adalah Iran tanpa senjata nuklir. Namun, kita tetap harus memastikan selat itu terbuka," tambah Trump sebagaimana dikutip Mirror.
Upaya Diplomasi dan Gencatan Senjata AS-Iran
Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan bertujuan untuk menghentikan peperangan. Trump menuntut selat dibuka secara aman, tanpa batasan, dan tanpa pungutan biaya apa pun.
Putaran pertama negosiasi akan digelar di Islamabad. Delegasi AS akan dipimpin langsung oleh Wakil Presiden JD Vance dan Jared Kushner.
Namun, situasi di lapangan masih membingungkan. Iran memberikan syarat yang ketat, sementara serangan Israel di wilayah Lebanon masih terus terjadi.
Ancaman Inflasi dan Krisis Energi Global
Data Maritimenews menunjukkan pengiriman minyak dan LNG telah anjlok lebih dari 90 persen sebagai akibat penutupan Selat Hormuz. Hal ini berdampak langsung pada 20 persen pasokan minyak dunia.
Baca Juga: Selat Hormuz Belum Terbuka, Harga Minyak Dunia Melonjak Lagi Dekati $100
UNCTAD memperingatkan bahwa perdagangan global terancam melambat drastis pada tahun 2026. Tekanan inflasi diprediksi meningkat, terutama bagi negara-negara berkembang.(ron)
Editor : Uray Ronald