Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Efek Penutupan Selat Hormuz: Demi Cari Minyak, Sekutu AS di Asia Mulai Berpaling

Uray Ronald • Minggu, 12 April 2026 | 08:30 WIB
Ilustrasi kapal tanker PT Pertamina International Shipping (PIS). (ANTARA)
Ilustrasi kapal tanker PT Pertamina International Shipping (PIS). (ANTARA)

 

PONTIANAK POST – Donald Trump mengeklaim segera akan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, langkah ini dinilai terlambat bagi sekutu-sekutu AS di Asia yang kini mulai mencari suplai energi dari pihak lain.

Dilansir CNN, krisis ini memaksa negara-negara yang bergantung pada jalur Selat Hormuz untuk mendekati rival utama Amerika. Dampaknya, peta kekuatan ekonomi dan politik di kawasan Asia kini mulai bergeser secara signifikan.

Sejak Iran menutup selat tersebut pada Februari lalu, harga minyak dunia melonjak tajam. Presiden Donald Trump justru mengecam para sekutu yang dianggapnya kurang memberikan dukungan militer.

"Negara yang butuh minyak harus ambil komando. Silakan ambil sendiri minyak kalian," ujar Trump saat itu.

Sentimen ini memicu kepanikan di kawasan Asia-Pasifik. Akibatnya, negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan kini mulai melakukan langkah mandiri tanpa menunggu komando AS.

Baca Juga: Konflik Iran: Donald Trump Klaim Menang Telak dan Selat Hormuz Segera Dibuka

Diversifikasi Energi: Mendekat ke Rusia dan Iran

Negara-negara Asia kini tidak lagi hanya bergantung pada "payung keamanan" AS. Filipina, misalnya, kini membeli minyak dari Rusia untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir.

Jepang dan Korea Selatan juga mulai bernegosiasi langsung dengan Teheran. Mereka berupaya memastikan kapal tanker mereka bisa melintasi Selat Hormuz dengan aman selama masa gencatan senjata.

"Krisis ini mengungkap fakta pahit tentang kekuatan AS," ujar Roc Shi, profesor dari University of Technology Sydney kepada CNN. Menurutnya, AS terbukti gagal mencegah penutupan jalur energi paling kritis di dunia tersebut.

Baca Juga: Selat Hormuz akan Segera Dibuka, Trump: Dengan atau Tanpa Kerja Sama Iran!

Meski Trump mengumumkan gencatan senjata dua minggu, situasi di lapangan masih tidak menentu. Iran menegaskan bahwa militer mereka tetap memegang kendali penuh atas lalu lintas kapal.

Kondisi ini menciptakan keraguan jangka panjang bagi sekutu-sekutu di kawasan Asia. Mereka kini melakukan strategi lindung nilai (hedging) dengan membeli energi dari berbagai sumber, termasuk rival AS.

Baca Juga: Kartu As Baru Iran setelah Selat Hormuz, Ancam Tutup Selat Bab al-Mandeb

"Sekutu akan tetap membeli dari Amerika, tetapi mereka juga membangun ketahanan sendiri," tambah Roc Shi. Pergeseran ini menjadi tantangan serius bagi dominasi diplomasi energi Amerika Serikat di masa depan.(ron)

Editor : Uray Ronald
#Sekutu AS Asia #Gencatan Senjata. #selat hormuz #krisis energi #donald trump