PONTIANAK POST - Sebuah desa kecil di Korea Selatan membuktikan bahwa energi terbarukan bukan hanya solusi krisis energi, tetapi juga sumber kesejahteraan warga.
Desa Guyang-ri mampu meraup sekitar 10 juta won atau setara Rp116 juta setiap bulan dari pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas satu megawatt.
Pendapatan tersebut tidak masuk ke kantong pribadi, melainkan kembali ke masyarakat dalam bentuk berbagai layanan sosial.
Dana dari energi surya itu digunakan untuk membiayai makan siang gratis bagi warga enam hari dalam sepekan.
Program tersebut juga membiayai transportasi bagi warga lanjut usia serta berbagai kegiatan budaya masyarakat desa.
Inisiatif ini merupakan bagian dari program pemerintah Korea Selatan untuk membangun “desa berpendapatan surya”.
Melalui skema tersebut, desa-desa didorong memanfaatkan energi matahari sebagai sumber listrik sekaligus sumber ekonomi komunitas.
Pemerintah Korea Selatan menargetkan program tersebut menjangkau sekitar 2.500 desa hingga 2030.
Pada tahun ini saja, pemerintah menargetkan penambahan 700 desa baru yang mengembangkan pembangkit tenaga surya.
Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan sekitar 150 desa yang telah bergabung sebelumnya.
Percepatan pengembangan energi terbarukan itu tidak lepas dari tekanan krisis energi global.
Korea Selatan masih sangat bergantung pada impor energi, dengan lebih dari 90 persen kebutuhan energinya berasal dari luar negeri.
Sebagian besar pasokan minyak mentah negara tersebut juga melewati Selat Hormuz yang rawan gangguan geopolitik.
Situasi tersebut mendorong pemerintah mempercepat transisi menuju energi bersih dan mandiri.
Pemerintah bahkan menambah anggaran transisi energi hingga 500 miliar won untuk memperkuat infrastruktur energi terbarukan.
Selain itu, dukungan pembiayaan juga diperluas melalui skema pinjaman berbunga rendah bagi proyek energi surya di tingkat desa.
Menteri Iklim, Energi, dan Lingkungan Korea Selatan Kim Sung-whan menegaskan percepatan transisi energi menjadi kebutuhan mendesak.
“Konflik di Timur Tengah turut mendorong negara-negara mempercepat peralihan menuju energi terbarukan,” ujarnya.
Jepang Siapkan Dana USD 10 Miliar untuk Asia
Sementara Korea Selatan mengembangkan energi bersih berbasis komunitas, Jepang menawarkan solusi jangka pendek untuk menjaga pasokan energi di kawasan Asia.
Pemerintah Jepang menyiapkan bantuan sebesar USD 10 miliar bagi negara-negara Asia, terutama Asia Tenggara.
Dana tersebut bertujuan membantu negara-negara di kawasan memperoleh pasokan minyak mentah dan produk petroleum.
Selain itu, bantuan juga ditujukan untuk menjaga stabilitas distribusi energi serta memperkuat cadangan pasokan.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan kerja sama energi penting bagi stabilitas kawasan.
“Jepang terhubung erat dengan setiap negara Asia melalui rantai pasokan dan saling bergantung satu sama lain,” ujarnya seperti dilansir BBC.
Asia dinilai sangat rentan terhadap gangguan distribusi energi global.
Hal itu terutama karena sebagian besar pasokan minyak dan gas menuju kawasan melewati Selat Hormuz yang rawan konflik geopolitik. (ars)
Fakta Penting
| Poin | Keterangan |
|---|---|
| Desa | Guyang-ri, Korea Selatan |
| Sumber Energi | Tenaga surya |
| Kapasitas | 1 Megawatt |
| Pendapatan Desa | 10 juta won / Rp116 juta per bulan |
| Manfaat | Makan siang gratis, transportasi lansia, kegiatan budaya |
| Program Nasional | Desa berpendapatan surya |
| Target Pemerintah | 2.500 desa hingga 2030 |
| Tambahan Desa 2026 | 700 desa baru |
Dukungan Energi Kawasan
| Negara | Kebijakan |
|---|---|
| Korea Selatan | Pengembangan desa energi surya |
| Jepang | Bantuan energi USD 10 miliar untuk Asia |
Editor : Aristono Edi Kiswantoro