Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Selat Hormuz Ditutup Lagi: Iran Abaikan Gertakan Trump, Ekonomi Global Terancam

Uray Ronald • Minggu, 19 April 2026 | 07:42 WIB
Selat Hormuz (ANTARA)
Selat Hormuz (ANTARA)

 

 

PONTIANAK POST – Pemerintah Iran resmi menutup kembali Selat Hormuz pada Sabtu (18/4). Langkah ini dilakukan meski Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengklaim jalur air tersebut tidak akan pernah ditutup lagi.

Ketegangan meningkat setelah muncul laporan bahwa kapal cepat Iran melepaskan tembakan ke arah kapal-kapal tanker. Langkah ini memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis ekonomi global.

Komando militer gabungan Iran menyatakan bahwa kendali penuh Selat Hormuz kini kembali ke tangan angkatan bersenjata mereka.

Iran menuduh Amerika Serikat melakukan pelanggaran kesepakatan dan tindakan "perompakan" maritim.

Teheran juga menyebut pernyataan Trump yang mengeklaim jalur itu tetap buka sebagai "pernyataan musuh yang tidak berdasar."

Pihak Iran menegaskan bahwa jalur tersebut kini berada di bawah manajemen militer yang ketat.

Baca Juga: Selat Hormuz akan Ditutup Iran Lagi Jika Blokade AS Terus Berlanjut

Ancaman Serangan Bom dan Blokade AS

Presiden Donald Trump merespons penutupan ini dengan ancaman militer yang serius. Ia memberikan sinyal akan menghentikan gencatan senjata yang berakhir pekan depan jika tidak ada kesepakatan baru.

"Mungkin saya tidak akan memperpanjangnya (gencatan senjata). Anda akan menghadapi blokade dan sayangnya kami harus mulai menjatuhkan bom lagi," tegas Trump dikutip Mirror.

Dampak Ekonomi dan Bantahan Iran atas Klaim Trump

Konflik ini mulai berdampak pada masyarakat, termasuk di Inggris, di mana pemerintah mulai bersiap menghadapi kelangkaan barang. Warga diperingatkan akan adanya kenaikan tagihan rumah tangga dan gangguan pada jadwal penerbangan.

Baca Juga: Selat Hormuz Dibuka Iran, Donald Trump Tetap Lanjutkan Blokade Laut

Sementara itu, proses negosiasi yang dijadwalkan pada hari Senin mendatang dibayangi oleh ketidakpercayaan. Parlemen Iran membantah klaim Trump bahwa Teheran setuju menghentikan pengayaan uranium.

"Trump membuat tujuh klaim dalam satu jam, dan ketujuhnya adalah kebohongan," ujar juru bicara parlemen Iran menanggapi klaim sepihak sang Presiden.(*)

Editor : Uray Ronald
#Konflik Iran AS #Harga BBM. #selat hormuz #krisis ekonomi #donald trump