PONTIANAK POST – Terungkap serangkaian unggahan provokatif Cole Allen (31) di media sosial sebelum melakukan percobaan pembunuhan terhadap Donald Trump.
Guru tersebut melabeli Presiden AS itu sebagai sosok "penjahat" atau villain.
Allen dijadwalkan hadir di pengadilan hari ini terkait penembakan di White House Correspondents' Dinner.
Aksi nekatnya pada Sabtu (25/4) malam itu sempat memicu kepanikan luar biasa di lokasi kejadian.
Lulusan California Institute of Technology ini menggunakan nama pengguna 'Coldforce' di platform BlueSky.
Nama tersebut identik dengan identitas yang tertulis dalam manifesto yang ia bagikan.
Dalam unggahannya, Allen mendeskripsikan Trump sebagai "bos mafia sosiopat" dan "pemuja setan".
Narasi kebencian ini diduga kuat menjadi latar belakang motif penyerangan tersebut.
Baca Juga: Donald Trump: Jadi Presiden Lebih Berbahaya dari Pembalap, Peluang Dibunuh 5,8%
Kronologi Penyerangan di Washington Hilton
Dilansir Mirror, Allen, yang bekerja sebagai tutor paruh waktu, datang ke Washington menggunakan kereta api dari California.
Ia sempat menginap di hotel tempat acara gala makan malam tersebut berlangsung.
Pihak berwenang menyebut Allen mencoba merangsek masuk menuju ruang dansa utama secara paksa. Petugas Secret Service segera melumpuhkannya setelah ia sempat melepaskan tembakan di lobi hotel.
Targetkan Pejabat Tinggi Administrasi
Jaksa Agung AS, Todd Blanche, mengonfirmasi bahwa Allen memang menargetkan jajaran administrasi kepresidenan.
Target utama serangan tersebut diduga kuat adalah Presiden Donald Trump dan wakilnya.
Saat insiden terjadi, Trump dan JD Vance langsung dievakuasi keluar dari gedung pertemuan. Ratusan jurnalis yang hadir menjadi saksi ketegangan saat pengamanan dilakukan secara mendadak.
Baca Juga: Cole Thomas Allen, Pelaku Penembakan di Acara Trump Ternyata Pernah Jadi Guru Teladan
Respons Trump dan Rencana 'Ballroom Militer'
Melalui platform Truth Social, Donald Trump memberikan komentar terkait insiden penembakan yang menimpanya.
Ia menyebut kejadian tersebut membuktikan urgensi rencana pembangunan fasilitas keamanan barunya.
Trump menegaskan bahwa serangan itu tidak akan terjadi jika "Ballroom Rahasia Militer" miliknya sudah selesai.
Proyek kontroversial untuk Sayap Timur Gedung Putih tersebut kini kembali menjadi sorotan.*
Editor : Uray Ronald