PONTIANAK POST – Dunia kini menanti hasil pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dan Presiden AS, Donald Trump.
Pakar memprediksi pertemuan di Beijing ini akan melahirkan berbagai kesepakatan besar bagi kedua negara.
Sourabh Gupta dari Institute for China-America Studies meyakini akan ada komitmen konkret setelah pertemuan tersebut.
"Sudah ada perencanaan sebelumnya, seperti pesanan besar pesawat Boeing dan komitmen pembelian produk pertanian AS," ujarnya kepada Anadolu.
Kedua pemimpin dijadwalkan mengikuti pertemuan bilateral pada Kamis (14/5/2026).
Rangkaian pertemuan ini akan terus berlangsung hingga Jumat sebelum Trump meninggalkan Beijing.
Baca Juga: Perang AS-Iran, Demokrat Tuduh Donald Trump Seret Amerika ke Konflik Ilegal
Isu krusial seperti perang Iran, Taiwan, perdagangan, tarif, hingga teknologi tinggi akan menjadi topik utama.
Washington berupaya menyeimbangkan hubungan perdagangan bilateral yang mencapai $414,7 miliar tahun lalu.
Baca Juga: Tanker Tiongkok Nekat Lintasi Selat Hormuz: Blokade AS Resmi Jebol?
Kehadiran CEO Raksasa Dunia
Trump membawa rombongan besar CEO perusahaan ternama, mulai dari Elon Musk (Tesla) hingga Tim Cook (Apple).
Ekonom politik Jostein Hauge menyebut konsentrasi bos Fortune 500 ini sangat jarang terjadi.
Hauge menilai kehadiran para pemimpin industri ini berpotensi memicu kesepakatan dagang yang masif.
Selain teknologi, sektor keuangan dan kedirgantaraan juga diwakili oleh petinggi Goldman Sachs dan Boeing.
Baca Juga: Kini Trump Ancam Tiongkok, Konflik Iran Berpotensi Meluas ke Dunia
Analis Tiongkok, Mushahid Hussain, menilai kunjungan Trump kali ini adalah yang paling signifikan sejak perjalanan Nixon tahun 1972.
Diskusi ini mencakup perumusan "aturan main" baru dalam hubungan bilateral kedua ekonomi terbesar dunia.
Senada dengan itu, analis Einar Tangen menyebut Beijing menginginkan kondisi ekonomi yang lebih tenang.
"Tiongkok ingin memulihkan kepercayaan bisnis dan mencegah pemutusan hubungan ekonomi yang dipercepat," ungkap Tangen.
Menghindari Krisis Energi
Tangen juga menyoroti keinginan kedua pemimpin untuk menghindari dampak perang Iran yang dipicu AS dan Israel.
Konflik tersebut dikhawatirkan akan melonjakkan harga energi dunia secara tajam.
"Hasil yang mungkin dicapai bukanlah kesepakatan besar, melainkan koeksistensi yang terkendali," tambah Tangen.
Trump menginginkan kemenangan politik yang nyata, sementara Tiongkok membutuhkan ruang bernapas strategis.*
Editor : Uray Ronald