Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Penelitian Terbaru: Kratom Dikonsumsi 5 Juta Orang, Termasuk 100 Ribu Anak

Aristono Edi Kiswantoro • Kamis, 21 Mei 2026 | 00:40 WIB
ILUSTRASI KRATOM — Petani memetik daun kratom di kawasan perkebunan Kalimantan. Sebagai informasi, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai mendorong hilirisasi kratom atau kedemba sebagai komoditas ekspor unggulan baru dengan potensi nilai ekonomi mencapai miliaran rupiah per hektare per tahun.
ILUSTRASI KRATOM — Petani memetik daun kratom di kawasan perkebunan Kalimantan. Sebagai informasi, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai mendorong hilirisasi kratom atau kedemba sebagai komoditas ekspor unggulan baru dengan potensi nilai ekonomi mencapai miliaran rupiah per hektare per tahun.

 

PONTIANAK POST – Penggunaan kratom di Amerika Serikat terus meningkat dan kini menjadi perhatian serius kalangan peneliti kesehatan. Studi nasional terbaru dari University of Michigan Institute for Healthcare Policy & Innovation dan Texas State University menemukan lebih dari 5 juta warga AS pernah mengonsumsi kratom, termasuk lebih dari 100 ribu anak usia 12 hingga 17 tahun.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Addiction Medicine itu juga menemukan keterkaitan kuat antara penggunaan kratom dengan gangguan kesehatan mental dan penyalahgunaan zat adiktif.

Kratom merupakan tanaman asal Asia Tenggara yang dijual dalam bentuk bubuk, kapsul, teh, cairan, hingga tablet. Di Indonesia, kratom banyak berasal dari Kalimantan Barat, terutama Kabupaten Kapuas Hulu.

Produk ini banyak dipasarkan secara daring maupun dijual bebas di toko, termasuk pom bensin dan smoke shop (toko tembakau) di AS.

Peneliti utama studi tersebut, Sean Esteban McCabe, mengatakan tren penggunaan kratom mencapai titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Data survei nasional menunjukkan persentase warga AS usia 12 tahun ke atas yang pernah menggunakan kratom meningkat dari 1,6 persen pada 2021 menjadi 1,9 persen pada 2024.

Kelompok usia 21 hingga 34 tahun tercatat sebagai pengguna tertinggi. Sekitar 3,4 persen mengaku pernah menggunakan kratom, sedangkan sekitar 1 persen menggunakannya dalam setahun terakhir.

“Perubahan kebijakan terkait kratom dan produk 7-OH diperlukan jika kita serius melindungi anak-anak,” kata McCabe dalam laporan penelitian tersebut, dikutip Pontianak Post, Rabu (21/5/2026).

Dokter adiksi dari University of Michigan, Eliza Hutchinson, mengungkapkan sejumlah pasien bahkan mengalami ketergantungan serius hanya dalam waktu singkat setelah mengonsumsi produk turunan kratom.

“Kami melihat pasien yang baru memakai produk ini selama sekitar dua minggu, tetapi sudah mengalami ketergantungan fisiologis yang serius,” ujarnya.

Ia menyebut banyak pasien menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan produk kratom atau turunannya.

Penelitian ini menjadi studi nasional pertama yang memetakan pola penggunaan kratom sekaligus kaitannya dengan gangguan psikologis dan kecanduan.

Mayoritas pengguna kratom diketahui juga memiliki gangguan penggunaan zat, menggunakan ganja, mengalami tekanan psikologis serius, hingga depresi berat.

Namun, peneliti menegaskan studi ini belum membuktikan bahwa kratom menjadi penyebab langsung gangguan mental atau kecanduan.

Survei hanya menangkap kondisi responden pada satu periode waktu sehingga belum bisa memastikan mana yang muncul lebih dahulu.

Meski demikian, temuan tersebut memperkuat kekhawatiran kalangan kesehatan masyarakat terhadap akses kratom yang semakin luas, terutama di kalangan anak dan remaja.

Selain kratom biasa, peneliti juga menyoroti produk turunan bernama 7-hydroxymitragynine atau 7-OH. Produk sintetis ini disebut memiliki efek lima hingga 50 kali lebih kuat dibanding kratom alami.

Produk 7-OH banyak dijual dalam bentuk tablet, gummy, maupun minuman dan kerap dipasarkan sebagai “morfin legal”.

U.S. Food and Drug Administration sendiri belum menyetujui kratom untuk penggunaan medis apa pun.

Lembaga tersebut telah mengeluarkan peringatan terkait potensi kecanduan dan efek samping serius.

Sementara itu, Drug Enforcement Administration juga memasukkan kratom sebagai zat yang menjadi perhatian lembaga penegak hukum dan kesehatan.

Sejumlah ahli kesehatan masyarakat di AS mulai menyoroti kemasan produk 7-OH yang dianggap menarik perhatian anak dan remaja karena dibuat menyerupai permen dan minuman energi.

Beberapa kasus keracunan anak dilaporkan terjadi akibat produk tersebut dijual bebas di toko sekitar permukiman dan pom bensin.

Peneliti menilai regulasi kratom di AS masih belum seragam. Sebagian negara bagian melarang atau mengatur peredarannya, sementara wilayah lain masih membebaskan penjualan produk tersebut.

Kondisi itu dinilai menyulitkan pengawasan kesehatan masyarakat dan proses penanganan kecanduan.

McCabe juga menyebut penggunaan kratom kemungkinan jauh lebih besar dari angka resmi karena zat tersebut tidak muncul dalam tes narkoba standar dan membutuhkan pemeriksaan khusus.

Di sisi lain, sebagian pengguna kratom berpendapat tanaman tersebut membantu mereka mengurangi ketergantungan opioid atau mengatasi nyeri kronis.

Sejumlah komunitas daring juga meminta pemerintah lebih fokus mengatur produk sintetis seperti 7-OH dibanding melarang seluruh produk kratom alami.

Meningkatnya penggunaan kratom memunculkan kekhawatiran baru di tengah krisis kesehatan mental dan kecanduan di AS.

Peneliti menilai kemudahan akses terhadap zat tersebut dapat memperbesar risiko generasi muda terpapar ketergantungan sejak usia dini.

Analisis terbaru dari sistem pusat racun nasional AS menemukan laporan kasus terkait kratom melonjak lebih dari 1.200 persen dalam satu dekade terakhir.

Pada 2025 saja, tercatat lebih dari 3.400 laporan ke pusat racun dan ratusan kasus membutuhkan perawatan rumah sakit.

Peneliti juga mencatat sebagian besar kasus serius terjadi ketika kratom dicampur dengan alkohol, obat penenang, atau zat adiktif lain.

Produk ekstrak berkonsentrasi tinggi seperti 7-OH disebut menjadi salah satu faktor yang mempercepat lonjakan kasus.

Dampak penggunaan 7-OH juga mulai dirasakan langsung oleh keluarga pengguna.

Dalam laporan University of Michigan Medical School, seorang mantan atlet sepak bola kampus bernama Nathan mengaku kehilangan pekerjaan, rumah, kendaraan, hingga hubungan pribadinya setelah kecanduan produk turunan kratom yang ia dapatkan gratis dari sebuah toko tembakau (smoke shop).

“Itu (kratom) menghancurkan hidupku,” ujar Nathan dalam kesaksiannya.

Kasus tersebut menjadi gambaran bagaimana produk yang awalnya dipasarkan sebagai herbal alami dapat berubah menjadi persoalan sosial dan kesehatan yang lebih luas ketika pengawasan dan edukasi publik belum berjalan maksimal. (ars)

 

Aspek Informasi Utama
Nama zat Kratom
Asal tanaman Asia Tenggara
Bentuk produk Bubuk, kapsul, teh, cairan, tablet
Jumlah pengguna di AS Lebih dari 5 juta orang
Pengguna usia 12-17 tahun Lebih dari 100 ribu orang
Kelompok pengguna tertinggi Usia 21-34 tahun
Persentase penggunaan 2021 1,6 persen warga AS usia 12 tahun ke atas
Persentase penggunaan 2024 1,9 persen warga AS usia 12 tahun ke atas
Produk turunan berisiko tinggi 7-hydroxymitragynine (7-OH)
Efek 7-OH Disebut 5-50 kali lebih kuat dibanding kratom alami
Bentuk produk 7-OH Tablet, gummy, minuman
Julukan pemasaran 7-OH “Morfin legal”
Lembaga yang menyoroti risiko U.S. Food and Drug Administration dan Drug Enforcement Administration
Risiko kesehatan Kecanduan, depresi, tekanan psikologis, gangguan penggunaan zat
Temuan penting penelitian Banyak pengguna juga mengalami masalah kesehatan mental
Status penelitian Belum membuktikan kratom sebagai penyebab langsung gangguan mental
Lonjakan kasus pusat racun Naik lebih dari 1.200 persen dalam 10 tahun
Laporan kasus tahun 2025 Lebih dari 3.400 laporan
Faktor pemicu kasus serius Dicampur alkohol, obat penenang, atau zat adiktif lain
Masalah regulasi Aturan berbeda-beda di tiap negara bagian AS
Kekhawatiran utama Anak dan remaja mudah mengakses produk kratom dan 7-OH

Sumber: Journal of Addiction Medicine

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#kecanduan #risiko #konsumsi #kratom #anak