PONTIANAK POST - Pemerintah Spanyol menyatakan bahwa warga negaranya yang menjadi aktivis kemanusiaan di kapal Flotilla Gaza akan segera dipulangkan.
Proses deportasi oleh otoritas Israel tersebut dijadwalkan berlangsung sepanjang hari Kamis (21/5) ini melalui wilayah Turki.
Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, menyebut para aktivis saat ini sudah berada di jalur pemulangan.
Informasi tersebut ia dapatkan langsung dari laporan diplomatik utusan Spanyol di lapangan.
Jalur Pemulangan Aktivis Spanyol Flotilla Gaza
Para relawan dilaporkan tengah dipindahkan ke Bandara Ramon bersama dengan ratusan aktivis internasional lainnya.
Otoritas setempat memilih rute penerbangan menuju Turki sebagai titik transit utama proses deportasi tersebut.
Baca Juga: Sempat Ditahan Israel, Seluruh Aktivis Flotilla Gaza Akhirnya Dibebaskan
Meski demikian, Albares menegaskan bahwa pihak Spanyol masih menunggu dokumen konfirmasi resmi dari pemerintah Israel.
Ia menyebut rencana pemulangan lewat Turki ini baru berdasarkan pantauan langsung dan koordinasi antar-konsulat.
"Konsul Spanyol di Israel mengonfirmasi bahwa mereka tampaknya sudah dipindahkan ke Bandara Ramon," ujar Albares dilansir Anadolu.
Baca Juga: Pemerintah RI Kecam Pencegatan Kapal Global Sumud Flotilla oleh Israel
Ia menambahkan bahwa skenario pemulangan tersebut kini sedang dimatangkan oleh para konsul di lapangan.
Kronologi Penangkapan Kapal Kemanusiaan
Sebelumnya, kelompok kemanusiaan Global Sumud Flotilla melaporkan bahwa seluruh armada mereka telah ditangkap oleh militer Israel.
Total ada 50 kapal dalam konvoi bantuan tersebut yang disita secara paksa di laut.
Misi kemanusiaan ini membawa 428 sukarelawan yang berasal dari 44 negara berbeda di dunia.
Baca Juga: Global Sumud Flotilla Dicegat Israel, Kemlu RI Jamin Keselamatan WNI
Mereka berangkat sejak Kamis lalu dari wilayah Marmaris, Turki, dengan membawa misi bantuan medis.
"Ini adalah upaya terbaru kami untuk menembus blokade ilegal Israel di Jalur Gaza," tulis pernyataan resmi kelompok flotilla tersebut.
Sebagai informasi, blokade ketat di Jalur Gaza tersebut telah diterapkan oleh Israel sejak tahun 2007.
Penangkapan kapal ini pun langsung memicu kecaman keras dari berbagai aktivis hak asasi manusia global.*
Editor : Uray Ronald