PONTIANAK POST - Para aktivis internasional yang membawa kapal bantuan Gaza mengaku mendapat perlakuan kasar dari pasukan Israel.
Mereka ditangkap saat mencoba menembus blokade untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan.
Tiga relawan dari koalisi Global Sumud Flotilla menceritakan pengalaman mengerikan tersebut setelah mereka tiba di Türkiye.
Ketiganya adalah Bianca Webb-Pullman, Adrien Jouan, dan Arno Meyne.
Kesaksian Dokter Kapal Bantuan Gaza tentang Kekerasan Israel
Dokter asal Australia, Bianca Webb-Pullman, mengatakan kapal bantuan Gaza tersebut ditembaki dengan proyektil oleh militer Israel.
Beruntung, tidak ada satu pun penumpang di dalam kapal yang terkena tembakan tersebut.
Baca Juga: 9 WNI Relawan Flotilla Gaza Dibebaskan Israel, Kini Proses Deportasi ke Turki
Setelah dipindahkan ke kapal penjara, para relawan dipaksa melakukan posisi stres yang menyiksa di dermaga.
Tentara Israel juga memukuli, menendang, dan memutar lagu kebangsaan mereka berulang-ulang untuk mengintimidasi relawan.
Perlakuan Diskriminatif dan Ketiadaan Layanan Medis
Webb-Pullman menegaskan bahwa mereka adalah pekerja kemanusiaan dan bukan kelompok pelaku kriminal.
Dia merasa para relawan justru diperlakukan lebih buruk daripada hewan oleh pasukan Israel.
"Kami bukan kriminal. Kami diperlakukan lebih buruk daripada hewan. Maksud saya, hewan pun pasti akan Anda beri air," katanya kepada Anadolu.
Baca Juga: Aktivis Flotilla Gaza Bakal Dideportasi Israel Melalui Turki
Pihak Israel sama sekali tidak memberikan bantuan medis kepada para tawanan yang terluka.
Petugas medis yang ikut ditahan terpaksa merawat sesama korban di dalam kapal tanpa dukungan logistik.
Dugaan Kasus Penyiksaan hingga Pelecehan Seksual
Relawan asal Prancis, Adrien Jouan, memperlihatkan sejumlah luka memar di tubuhnya akibat tindakan kekerasan tersebut.
Jouan merasa dirinya disiksa secara sistematis meskipun sama sekali tidak melakukan perlawanan sejak awal.
"Ya, mereka memukuli saya, dan banyak juga hantaman di bagian punggung saat berada di kapal pertama, lalu di kapal penjara, ketika mereka menangkap kami. Dan itu bisa dibilang semacam penyiksaan," kata Jouan.
Dia mengatakan bahwa semua orang di atas kapal menjadi sasaran kekerasan.
"Namun tetap saja, semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang mereka lakukan terhadap warga Palestina," tambahnya.
Baca Juga: Pemerintah RI Kecam Pencegatan Kapal Global Sumud Flotilla oleh Israel
Dia juga menyebutkan bahwa relawan keturunan Arab menerima siksaan yang jauh lebih parah.
"Beberapa orang keturunan Arab, atau mereka yang wajahnya tidak terlihat seperti orang Eropa berkulit putih, dipukuli jauh lebih parah daripada saya," katanya.
"Bisa dibilang mereka mendapat siksaan yang lebih banyak."
Atas insiden memilukan ini, Jouan berencana untuk segera mengambil langkah hukum terhadap tentara Israel.
Sementara itu, relawan asal Belgia bernama Arno Meyne menyebut banyak rekannya mengalami patah tulang.
Meyne bahkan mengungkap adanya kasus dugaan pelecehan seksual yang menimpa relawan di atas kapal penjara.*
Editor : Uray Ronald