Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Rusia dan China Perkuat Aliansi Nuklir, Bidik Teknologi Masa Depan Dunia

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 24 Mei 2026 | 03:55 WIB
Perusahaan nuklir negara Rusia, Rosatom, menandatangani tiga nota kesepahaman antarlembaga selama kunjungan resmi Presiden Rusia ke China pada 19-20 Mei 2026. (ANTARA/HO-Rosatom)
Perusahaan nuklir negara Rusia, Rosatom, menandatangani tiga nota kesepahaman antarlembaga selama kunjungan resmi Presiden Rusia ke China pada 19-20 Mei 2026. (ANTARA/HO-Rosatom)

 

PONTIANAK POST - Perusahaan nuklir negara Rusia, Rosatom, memperkuat kerja sama strategis dengan China melalui penandatanganan tiga nota kesepahaman di bidang energi nuklir dan teknologi masa depan.

Kesepakatan tersebut ditandatangani Direktur Jenderal Rosatom, Alexey Likhachev, saat kunjungan resmi Presiden Rusia Vladimir Putin ke China pada 19–20 Mei 2026.

“Negara kita dipersatukan oleh sejarah panjang kemitraan strategis, tidak hanya dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir, tetapi juga dalam pengembangan teknologi masa depan,” ujar Alexey Likhachev dalam pernyataan resmi Rosatom.

Kerja sama itu dinilai menjadi sinyal semakin eratnya poros teknologi Rusia-China di tengah persaingan geopolitik dan perebutan dominasi teknologi global antara negara-negara besar.

Fokus pada Fusi Nuklir dan Teknologi Masa Depan

Likhachev mengatakan memorandum tersebut menjadi bagian kerja sama jangka panjang di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi fundamental, khususnya pengembangan fusi nuklir terkontrol.

Fusi nuklir selama ini dianggap sebagai teknologi energi masa depan karena mampu menghasilkan energi sangat besar dengan emisi karbon yang jauh lebih rendah dibanding energi fosil.

Rusia dan China disebut sebagai dua negara yang aktif mengembangkan teknologi tersebut melalui program nasional masing-masing serta keterlibatan dalam proyek internasional ITER.

ITER merupakan proyek reaktor fusi nuklir terbesar dunia yang melibatkan sejumlah negara besar untuk mencari sumber energi bersih masa depan.

“Kesepakatan ini menunjukkan kesiapan kedua negara untuk memperdalam kerja sama di bidang energi nuklir dan teknologi terkait,” kata Likhachev.

Kerja Sama Pendidikan dan SDM Nuklir

Memorandum pertama ditandatangani Rosatom bersama Otoritas Energi Atom China dan berfokus pada pengembangan sumber daya manusia untuk penggunaan energi nuklir secara damai.

Dokumen tersebut mencakup kerja sama pelatihan tenaga kerja industri nuklir, pertukaran pengalaman, hingga penguatan kolaborasi komunitas profesional muda dan perempuan di sektor nuklir kedua negara.

Perjanjian itu ditandatangani Alexey Likhachev bersama Kepala Otoritas Energi Atom China, Shan Zhongde.

Kerja sama pengembangan SDM dinilai penting karena industri nuklir membutuhkan tenaga ahli dengan standar keselamatan dan teknologi sangat tinggi.

Teknologi Kuantum hingga Kedokteran Nuklir

Sementara itu, memorandum kedua ditandatangani bersama Kementerian Sains dan Teknologi China untuk kerja sama ilmiah dan teknis di bidang fusi nuklir terkontrol.

Dokumen tersebut ditandatangani Likhachev dan Menteri Sains dan Teknologi China, Yin Hejun.

Adapun memorandum ketiga dilakukan bersama Akademi Ilmu Pengetahuan China dan mencakup berbagai bidang teknologi strategis.

Selain fusi nuklir, kerja sama juga meliputi kedokteran nuklir, teknologi akselerator, teknologi fotonik, hingga teknologi kuantum generasi baru.

Perjanjian tersebut ditandatangani bersama Presiden Akademi Ilmu Pengetahuan China, Hou Jianguo.

Persaingan Teknologi Global Makin Ketat

Kerja sama Rusia-China di bidang nuklir dan teknologi canggih dipandang sebagai bagian dari upaya kedua negara memperkuat kemandirian teknologi di tengah tekanan Barat.

Di tengah rivalitas global saat ini, penguasaan teknologi nuklir, kecerdasan buatan, kuantum, hingga energi masa depan menjadi faktor penting dalam menentukan kekuatan ekonomi dan geopolitik suatu negara.

Karena itu, kolaborasi Rusia dan China diperkirakan tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga memengaruhi peta persaingan teknologi dunia dalam beberapa dekade ke depan. **

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Rosatom #fusi nuklir #energi nuklir China #teknologi kuantum #ITER