PONTIANAK POST - Komisioner Manajemen Krisis Uni Eropa, Hadja Lahbib, mengecam rencana pemerintah Israel yang disebut ingin memperluas kontrol militernya hingga mencakup 70 persen wilayah Jalur Gaza.
Pernyataan itu muncul ketika kondisi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk akibat penyempitan wilayah aman bagi warga sipil.
Dalam pernyataannya di media sosial X pada Jumat (29/5), Lahbib menegaskan bahwa ruang kemanusiaan di Gaza terus menyusut seiring meluasnya operasi militer Israel.
Ia menyebut perubahan garis operasi militer membuat distribusi bantuan terganggu dan memutus akses warga terhadap layanan dasar, termasuk air bersih.
Kondisi ini memperparah penderitaan jutaan warga yang terjebak di zona konflik tanpa kepastian.
"Ruang kemanusiaan Gaza semakin menyusut," ujar Lahbib melalui pernyataan resminya dilansir Anadolu.
Baca Juga: Pep Guardiola: Kisah Pelatih yang Tak Pernah Diam Melawan Genosida Gaza
Menurutnya, perluasan kendali militer ini membuat para pekerja kemanusiaan terhambat dalam mendistribusikan bantuan vital, termasuk air bersih.
Ia menegaskan bahwa hukum kemanusiaan internasional harus dihormati demi melindungi warga sipil yang tidak berdaya.
Ambisi Netanyahu Kuasai 70% Wilayah Gaza
Peringatan keras dari Uni Eropa ini mencuat setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengklaim bahwa pasukannya saat ini telah menguasai sekitar 60% wilayah Jalur Gaza.
Tidak berhenti di sana, dalam laporan media lokal, Netanyahu memberikan sinyal kuat mengenai rencana perluasan operasi militer untuk menguasai hingga 70% wilayah kantong tersebut.
Meski demikian, pihak Israel belum memberikan rincian teknis mengenai bagaimana perluasan wilayah kontrol tersebut akan dieksekusi.
Di sisi lain, pasukan militer di lapangan terpantau terus mengubah batas operasional mereka. Langkah ini tetap berjalan di tengah bergulirnya kerangka gencatan senjata bertahap yang sebelumnya diinisiasi oleh Amerika Serikat.
Baca Juga: Aktor Javier Bardem Kecam Genosida Gaza, Kritik Keras Trump hingga Netanyahu
Warga Sipil Terjebak di Garis Batas Mematikan
Otoritas Palestina dan pejabat Hamas mengonfirmasi bahwa pergeseran garis batas de facto militer Israel masuk semakin dalam ke jantung Gaza dalam beberapa bulan terakhir.
Akibatnya, ruang aman bagi warga sipil untuk mengungsi kini menjadi sangat terbatas. Jutaan keluarga terjebak di tengah pergeseran batas wilayah yang berubah sewaktu-waktu tanpa ada peringatan dini.
Perubahan garis tempur yang agresif ini memicu kepanikan massal di kalangan pengungsi. Banyak keluarga yang terpaksa berpindah tempat berkali-kali dalam hitungan hari dengan membawa perlengkapan seadanya.
Mereka kini hidup dalam tenda-tenda darurat yang tidak layak, dihantui oleh ancaman kelaparan dan serangan udara yang bisa datang kapan saja.
Menurut laporan berkala dari organisasi medis kemanusiaan Doctors Without Borders (MSF), para pengungsi menghadapi situasi psikologis dan fisik yang sangat berat akibat keharusan untuk terus berpindah demi menghindari bom.
Salah seorang petugas logistik lapangan MSF di Gaza, Mohammed Al-Tibi, menggambarkan keputusasaan para pengungsi yang tidak memiliki pilihan tempat berlindung lagi.
"Tidak ada lagi tempat di wilayah selatan untuk mengungsi. Sama sekali tidak ada pilihan. Jika saya meninggalkan rumah saya sekarang, kami akan menggelandang begitu saja ke jalanan."
Krisis Logistik dan Pasokan Medis
Uni Eropa secara konsisten terus mendesak dibukanya akses bantuan kemanusiaan secara luas dan aman.
Lembaga-lembaga kemanusiaan internasional di lapangan berulang kali membunyikan alarm bahaya terkait menipisnya pasokan obat-obatan dan alat medis.
Rumah sakit yang tersisa di Gaza kini beroperasi jauh di atas kapasitas normal dengan fasilitas yang sangat minim.
Baca Juga: Putra Pemimpin Hamas Meninggal Dunia Akibat Serangan Israel di Gaza
Kehilangan Hak Dasar Hidup
Selain krisis medis, tidak adanya koridor aman membuat distribusi air bersih lumpuh total di beberapa distrik padat penduduk.
Kondisi sanitasi yang buruk di kamp pengungsian kini memicu kekhawatiran baru akan meletusnya wabah penyakit menular.
Warga Gaza kini tidak hanya bertaruh nyawa melawan mesiu, tetapi juga melawan dehidrasi dan penyakit akut.*)
Editor : Uray Ronald