Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

China Tegaskan Taiwan Bagian Wilayahnya Meski Lai Ching-te Pertahankan Status Quo dan Tolak Klaim Kedaulatan Beijing

Basilius Andreas Gas • Jumat, 19 Juni 2026 | 19:13 WIB
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian (ANTARA/Desca Lidya Natalia)
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

PONTIANAK POST- Pemerintah China kembali menegaskan bahwa Taiwan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah Republik Rakyat Tiongkok (RRT), menyusul pernyataan pemimpin Taiwan Lai Ching-te yang menegaskan bahwa Taiwan bukan bagian dari China dan mendukung mempertahankan status quo di Selat Taiwan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menyatakan masa depan Taiwan hanya dapat ditentukan oleh seluruh rakyat China, termasuk masyarakat yang berada di Taiwan.

"Taiwan adalah bagian yang tak terpisahkan dari wilayah China. Masa depan Taiwan hanya dapat ditentukan oleh lebih dari 1,4 miliar rakyat China, termasuk warga Taiwan," kata Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Kamis (18/6).

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons terhadap pidato Lai Ching-te dalam resepsi bersama media internasional di Taipei pada hari yang sama. Dalam kesempatan itu, Lai menegaskan bahwa kedaulatan Taiwan berada di tangan rakyat Taiwan dan menyatakan bahwa Taiwan maupun Republik Rakyat China tidak saling berada di bawah otoritas satu sama lain.

Lai juga menegaskan bahwa Taiwan bukan bagian dari Republik Rakyat China serta berkomitmen mempertahankan kondisi status quo yang telah berlangsung selama ini.

Menanggapi hal tersebut, Lin Jian menilai pernyataan Lai kembali menunjukkan upaya mendorong narasi kemerdekaan Taiwan yang menurut Beijing tidak akan berhasil.

"Fakta bahwa Lai Ching-te terus mengumbar narasi 'kemerdekaan Taiwan' hanya menunjukkan kegugupan dan ketidakpastiannya, karena mencari 'kemerdekaan' dengan dukungan AS dan peningkatan kekuatan militer hanya akan berujung pada jalan buntu," ungkap Lin Jian.

Ia menambahkan, pernyataan maupun tindakan yang dilakukan oleh Partai Progresif Demokratik (DPP) yang berkuasa di Taiwan serta Lai Ching-te tidak akan mengubah posisi dasar Beijing terkait isu Taiwan.

"Tidak ada kata-kata atau perbuatan dari pihak berwenang partai berkuasa di Taiwan DPP atau Lai Ching-te sendiri yang akan pernah mengubah sifat mendasar dari masalah Taiwan, yang sepenuhnya merupakan urusan internal China," katanya.

"Mereka juga tidak akan pernah menggoyahkan komitmen internasional terhadap satu China atau menghentikan keniscayaan reunifikasi China," tegas Lin Jian.

Sementara itu, dalam pidatonya, Lai Ching-te menegaskan bahwa Taiwan akan terus memperkuat hubungan dengan komunitas internasional sambil mempertahankan nilai-nilai demokrasi dan kebebasan yang dianut masyarakatnya.

Ia juga menyatakan komitmen Taiwan untuk bekerja sama dengan negara-negara lain dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan Selat Taiwan.

Selain itu, Lai menyampaikan apresiasi kepada negara-negara anggota G7 atas pernyataan bersama terbaru yang menegaskan penolakan terhadap segala upaya mengubah status quo di Laut China Timur, Laut China Selatan, maupun Selat Taiwan melalui penggunaan kekuatan atau tekanan.

Dalam kesempatan tersebut, Lai juga menyerukan kepada China agar menghentikan ekspansi militernya di Laut China Selatan, Laut China Timur, dan Selat Taiwan serta menghindari penggunaan kekerasan terhadap Taiwan.

Meski demikian, Lai menegaskan Taiwan tetap membuka ruang dialog dan kerja sama dengan China berdasarkan prinsip kesetaraan dan penghormatan terhadap martabat masing-masing pihak guna mendorong terciptanya perdamaian serta kemakmuran bersama. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
#status quo #Republik Rakyat Tiongkok #Lai Ching-te #china #taiwan