Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Impor Kendaraan dan Chip AI Picu Defisit Perdagangan Amerika Serikat Membengkak

Chairunnisya • Selasa, 30 Juni 2026 | 16:08 WIB
Aktivitas di Pelabuhan Los Angeles. (DOK JAWAPOS)
Aktivitas di Pelabuhan Los Angeles. (DOK JAWAPOS)

PONTIANAK POST - Perdagangan internasional kembali menjadi tantangan bagi perekonomian Amerika Serikat.

Lonjakan impor yang tidak diimbangi kenaikan ekspor membuat defisit perdagangan membengkak dan diperkirakan membebani pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026.

Dilansir dari Jawapos, defisit perdagangan internasional Amerika Serikat melonjak ke level tertinggi dalam 14 bulan.

Baca Juga: Kerja Sama Ekonomi RI-Amerika Serikat Mengawali IPEF Ministerial Meeting

Kondisi tersebut dipicu meningkatnya impor yang dilakukan pelaku usaha untuk mengantisipasi gangguan pasokan dan kenaikan harga akibat konflik di Timur Tengah.

Defisit melampaui proyeksi

Data Biro Sensus di bawah Departemen Perdagangan AS menunjukkan defisit perdagangan barang pada Mei 2026 naik 27,4 persen secara tahunan (year on year/YoY) menjadi USD105,8 miliar.

Baca Juga: Diplomasi Amerika Serikat-Iran Gagal di Pakistan, Dunia di Ujung Ketegangan

Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak Maret 2025 sekaligus jauh melampaui proyeksi ekonom yang memperkirakan defisit hanya sekitar USD85 miliar.

Meski kesepakatan damai sementara telah mendorong normalisasi jalur pelayaran dan menekan harga minyak, para ekonom menilai defisit perdagangan masih berpotensi bertahan tinggi.

Salah satu penyebabnya adalah investasi besar-besaran pada sektor akal imitasi (AI) yang masih sangat bergantung pada barang impor.

Baca Juga: Iran Kecam Donald Trump: Amerika Serikat Bangga Menjadi Perompak Kapal

Ledakan impor AI dinilai berisiko

Chief Economist High Frequency Economics, Carl Weinberg, mengatakan lonjakan impor dapat menjadi hambatan bagi pertumbuhan ekonomi apabila tidak diimbangi peningkatan ekspor jasa.

"Boom AI harus mampu menghasilkan peningkatan ekspor jasa yang sebanding untuk mengimbangi lonjakan impor peralatan. Jika tidak, ledakan impor chip AI justru akan menjadi beban bagi perekonomian," ujarnya seperti dilansir Reuters.

Impor naik, ekspor justru turun

Nilai impor barang Amerika Serikat pada Mei meningkat USD10,9 miliar atau 3,6 persen menjadi USD313,4 miliar. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam 14 bulan terakhir.

Kenaikan impor terutama ditopang oleh kendaraan bermotor yang naik 6,3 persen serta barang konsumsi yang meningkat 5,7 persen.

Baca Juga: Pakar Kehutanan Indonesia Kunjungi Amerika Serikat untuk Meningkatkan Pengelolaan Hutan Yang Baik

Sebaliknya, ekspor barang turun 5,4 persen menjadi USD207,7 miliar.

Penurunan dipimpin ekspor barang konsumsi yang anjlok 9,2 persen, disusul barang industri turun 7 persen, barang modal turun 5 persen, serta kategori barang lainnya turun 6,8 persen.

Berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi

Chief Economist FWDBONDS, Christopher Rupkey, mengatakan lonjakan impor kembali mengurangi kontribusi perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada kuartal II.

Baca Juga: Rupiah Cari Keseimbangan Baru, Terdampak Kebijakan Tarif Amerika Serikat Alami Overshoot

"Tarikan impor terhadap pertumbuhan ekonomi domestik kembali muncul karena industri manufaktur dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan pasar, terlepas dari berbagai kebijakan yang ditempuh pemerintah," katanya.

Sebelum data perdagangan terbaru dirilis, mayoritas ekonom memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat tumbuh sekitar 2,5 persen secara tahunan pada kuartal II 2026.  (*) 

Editor : Chairunnisya
#defisit perdagangan AS #impor Amerika Serikat #ekonomi AS #pertumbuhan ekonomi