PONTIANAK POST - Amerika Serikat bersiap memperketat pengawasan terhadap 7-OH, senyawa yang terdapat dalam sejumlah produk turunan kratom yang memiliki efek menyerupai opioid (kratom sintetis).
Drug Enforcement Administration (DEA) berencana menetapkan 7-OH sebagai zat Schedule I melalui larangan sementara karena dinilai menimbulkan risiko serius terhadap kesehatan publik, termasuk toleransi, ketergantungan, dan kecanduan.
Menurut laporan Wired, rencana tersebut tertuang dalam draf pemberitahuan yang dijadwalkan dipublikasikan di Federal Register pada Senin (6/7) mendatang. Jika diberlakukan, larangan akan berlaku selama dua tahun dan dapat diperpanjang satu tahun lagi.
Kebijakan ini menyasar produk yang mengandung 7-OH di atas ambang batas tertentu, termasuk dalam bentuk permen kenyal, minuman, dan kapsul yang dijual di SPBU maupun toko rokok (smoke shop).
DEA Nilai 7-OH Berisiko Tinggi bagi Kesehatan Masyarakat
Dalam draf pemberitahuan tersebut, DEA menyatakan 7-OH memiliki potensi menimbulkan toleransi, ketergantungan, hingga kecanduan sehingga perlu dimasukkan ke dalam kategori Schedule I dalam Controlled Substances Act. Kategori ini merupakan klasifikasi yang sama dengan heroin menurut hukum federal Amerika Serikat.
"7-OH menghadirkan risiko serius terhadap kesehatan masyarakat, termasuk toleransi, ketergantungan, dan kecanduan," tulis DEA dalam draf pemberitahuannya.
Baca Juga: Kratom Sintetis 7-OH Marak di Amerika, FDA Desak Pelarangan Total karena Efeknya Setara Heroin
Apa Itu 7-OH dan Mengapa Menjadi Sorotan?
Kratom merupakan tanaman asal Asia Tenggara yang pada dosis rendah diketahui memiliki sifat analgesik dan antidepresan. Secara alami tanaman ini mengandung 7-OH dalam jumlah sangat kecil.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul lonjakan produksi produk 7-OH (kratom sintetis) yang tidak diatur secara ketat. Produk tersebut dinilai memiliki kadar senyawa yang jauh lebih tinggi dibandingkan kratom alami sehingga efeknya lebih kuat.
Sebagian kalangan bahkan menjuluki 7-OH sebagai "heroin SPBU" (gas station heroin) karena senyawa tersebut mengaktifkan reseptor mu-opioid di otak yang berkaitan dengan efek adiktif.
Meski demikian, laporan tersebut juga mencatat bahwa produk kratom yang tidak dipasarkan sebagai 7-OH tetap dapat menimbulkan efek serupa apabila dikonsumsi dalam dosis tinggi.
Industri Kratom Mendukung, Kelompok Pengguna Menolak
Rencana pelarangan ini disambut positif oleh pelaku industri kratom arus utama yang selama ini mendorong pembatasan terhadap produk 7-OH.
Mac Haddow, Senior Fellow bidang Kebijakan Publik American Kratom Association, menyebut langkah DEA menjadi penegasan bahwa produk 7-OH berbeda dengan kratom alami.
"Tindakan DEA ini seharusnya mengakhiri perdebatan. Opioid 7-OH hasil manipulasi kimia bukanlah kratom. Produk ini berbahaya, mengeksploitasi reputasi daun kratom alami, menyesatkan konsumen, dan menciptakan ancaman kesehatan masyarakat yang tidak lagi bisa diabaikan regulator," kata Haddow.
Sebaliknya, kelompok pendukung 7-OH menilai larangan tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang memadai.
Jeff Smith, Direktur Eksekutif Holistic Alternative Recovery Trust, mengatakan banyak pengguna mengaku terbantu oleh 7-OH dalam mengelola nyeri kronis hingga kembali bekerja dan mengurus keluarga.
"Ratusan ribu konsumen ingin berbagi bagaimana 7-OH membantu mereka mengatasi rasa sakit, kembali bekerja, merawat keluarga, dan mendapatkan kembali kehidupan mereka," ujar Smith melalui pernyataan tertulis.
Kekhawatiran Pengguna: Takut Kembali ke Opioid Jalanan
Di balik rencana pelarangan tersebut, muncul kekhawatiran dari sebagian pengguna yang mengaku bergantung pada 7-OH sebagai alternatif untuk menghentikan penggunaan opioid lain.
Seorang pengguna yang identitasnya dirahasiakan karena khawatir terhadap dampak profesional mengatakan telah menimbun persediaan 7-OH sebelum larangan diberlakukan.
Ia mengaku penggunaan 7-OH membantunya berhenti sepenuhnya dari opioid lain, termasuk narkotika yang diperoleh secara ilegal.
"Saya tidak ingin kembali ke sana," katanya.
Pengguna tersebut mengkhawatirkan sebagian orang justru beralih ke zat yang lebih berbahaya apabila akses terhadap 7-OH ditutup.
Trump dan Hubungan Pejabat dengan Industri Kratom Ikut Disorot
Rencana pelarangan ini menjadi perhatian karena muncul di tengah hubungan sejumlah pejabat pemerintah Amerika Serikat dengan industri kratom.
Pada Mei lalu, Presiden Donald Trump mendukung apa yang disebutnya sebagai "7-OH alami", yakni kratom, dan mengatakan pemerintah sedang mempertimbangkan persetujuannya.
Laporan sebelumnya juga menyoroti hubungan Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Robert F. Kennedy Jr. serta Menteri Keamanan Dalam Negeri Markwayne Mullin dengan industri kratom.
Juru bicara Department of Homeland Security (DHS) membantah adanya konflik kepentingan. Menurut DHS, Markwayne Mullin mematuhi seluruh standar etika dan selama menjadi senator justru mendorong regulasi terhadap 7-OH yang disebut sebagai obat sintetis yang dipasarkan kepada anak-anak melalui kemasan yang menyesatkan.
DEA Perluas Langkah terhadap Opioid Sintetis
Selain mengusulkan pelarangan sementara 7-OH, DEA pekan ini juga mengumumkan langkah terhadap turunan 7-OH dan berbagai opioid sintetis lainnya.
Langkah tersebut menunjukkan komitmen pemerintah Amerika Serikat dalam mengendalikan peredaran narkotika sintetis yang terus berkembang dengan munculnya varian baru di pasar.
Editor : Uray Ronald