Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Jerman Perluas Rekrut Tenaga Kerja Terampil ke Indonesia Akibat Banyak Generasi Baby Boomer Pensiun

Basilius Andreas Gas • Selasa, 7 Juli 2026 | 20:05 WIB
Orang-orang beraktivitas di Erfurt, ibu kota Negara Bagian Thüringen, Jerman (2/7). (ANTARA/Katriana)
Orang-orang beraktivitas di Erfurt, ibu kota Negara Bagian Thüringen, Jerman (2/7). (ANTARA/Katriana)

PONTIANAK POST- Jerman menghadapi ancaman kekurangan tenaga kerja dalam beberapa dekade mendatang akibat semakin banyaknya generasi baby boomer yang memasuki masa pensiun. Kondisi tersebut mendorong pemerintah negara itu memperluas perekrutan tenaga kerja terampil dari berbagai negara, termasuk Indonesia, melalui penguatan kerja sama pengembangan sumber daya manusia.

Dalam 15 tahun ke depan, sekitar 13,4 juta warga Jerman yang lahir pada periode 1946–1964 diperkirakan pensiun. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 31 persen dari total angkatan kerja saat ini sehingga diproyeksikan memengaruhi ketersediaan tenaga kerja dalam jangka panjang.

Peneliti Divisi Penelitian Isu Global Institut Jerman untuk Urusan Internasional dan Keamanan, David Kipp, menjelaskan bahwa tren tersebut diperparah oleh rendahnya angka kelahiran di Jerman yang kini hanya sekitar 1,3 anak per perempuan, mendekati rekor terendah dan lebih rendah dibandingkan sekitar 1,6 pada 2010.

Menurut hasil kajian yang dipaparkan Kipp di Berlin pada 29 Juni, kebutuhan tenaga kerja terampil juga berbeda di setiap wilayah. Negara Bagian Thuringia, misalnya, diperkirakan menghadapi kebutuhan pekerja yang lebih besar dibandingkan daerah lainnya.

Dengan jumlah angkatan kerja sekitar 45 juta orang saat ini, Jerman diperkirakan hanya memiliki sekitar 35 juta tenaga kerja pada 2060 apabila tidak terjadi migrasi bersih. Untuk menjaga stabilitas angkatan kerja, negara tersebut membutuhkan sekitar 288.000 migran bersih setiap tahun, terutama tenaga profesional di bidang kesehatan, pekerjaan sosial, pendidikan, perawatan anak, serta sektor teknis yang mendukung transformasi energi.

Penelitian mengenai migrasi legal ke Jerman juga menunjukkan penurunan arus pekerja dari sejumlah negara Eropa sejak 2012, termasuk dari Polandia, Latvia, Hongaria, Republik Ceko, Lithuania, Slovenia, Slovakia, dan Estonia. Kondisi itu meningkatkan kebutuhan tenaga kerja dari negara-negara di luar Uni Eropa, seperti China, Bosnia dan Herzegovina, Kosovo, Turkiye, Rusia, serta negara lainnya.

Merespons tantangan tersebut, pemerintah Jerman terus mendorong masuknya tenaga kerja terampil dari berbagai negara. Perwakilan Khusus untuk Imigrasi Tenaga Terampil Kementerian Luar Negeri Jerman, Martin Bergfelder, menegaskan bahwa pemerintah membuka peluang seluas-luasnya bagi pekerja asing.

"Kami ingin orang-orang datang. Kami membutuhkan mereka. Di semua partai politik, imigrasi tenaga terampil sangat disambut dan dibutuhkan. Dan kami juga ingin orang-orang datang dan tinggal," kata Martin Bergfelder di Berlin, 1 Juli.

Dorongan tersebut tidak hanya ditujukan kepada tenaga kerja yang telah memiliki kualifikasi sesuai kebutuhan industri, tetapi juga bagi calon pekerja yang ingin menempuh pendidikan maupun pelatihan vokasi di Jerman.

Pemerintah Jerman bersama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), Goethe-Institut, dan German Chamber of Commerce and Industry (IHK) terus memperluas penyebaran informasi mengenai peluang bekerja dan menetap di Jerman. Pemerintah juga menyederhanakan proses administrasi melalui layanan satu pintu Work and Stay Agency serta memperkuat dukungan bagi pekerja asing, mulai dari penyediaan informasi tempat tinggal, pendidikan anak, hingga proses integrasi sosial.

Kebutuhan tenaga kerja tersebut mendorong penguatan kerja sama dengan Indonesia melalui program Kemitraan Keterampilan Global atau Global Skills Partnership (GSP). Kesepakatan itu dicapai saat kunjungan Frank-Walter Steinmeier ke Jakarta pada 15 Juni 2026 sebagai bagian dari penguatan hubungan strategis kedua negara dalam pengembangan sumber daya manusia.

Dalam pertemuan bilateral dengan Prabowo Subianto, kedua pemerintah menandatangani Letter of Intent mengenai GSP yang berfokus pada penempatan tenaga kerja terampil di sektor keperawatan.

Melalui skema tersebut, tenaga kesehatan Indonesia akan memperoleh pelatihan berstandar internasasional sebelum diberangkatkan sehingga memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri di Jerman. Kerja sama itu juga diarahkan untuk membuka peluang pengembangan talenta Indonesia di sektor teknologi tinggi, digitalisasi, dan industri hijau.

Prabowo menegaskan bahwa penguatan kerja sama tersebut sejalan dengan upaya Indonesia mendorong transfer teknologi, peningkatan kualitas SDM, dan mendorong alih pengetahuan ketika para pekerja kembali ke tanah air.

Kerja sama penempatan tenaga kerja terampil antara Indonesia dan Jerman diharapkan memberikan manfaat bagi kedua negara. Jerman memperoleh tambahan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menjaga produktivitas ekonomi, sementara Indonesia memperoleh peluang meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas pengalaman kerja internasional, serta mempercepat transfer pengetahuan dan teknologi. (ant)

 

Editor : Basilius Andreas Gas
#indonesia #Negara #baby boomer #Jerman #Tenaga Kerja